Semua Akan Nge-Zoom pada Waktunya

Sebelum kondang karena tekanan situasi pandemi, webinar pernah lebih dulu menjadi kosakata yang familiar bagi pejuang MLM. Entah karena murahnya atau alasan praktis lain, webinar dipakai sebagai jalan jitu untuk mengundang minat korban bisnis MLM.

Sebab itu, orang cenderung memandang sambil lalu, bukan saja daya tarik MLM (entah kosmetik, vitamin, atau pembesar alat vital) tak ada di mata mereka, melainkan juga segala aktivitasnya dipandang norak, remeh, dan tak dipercaya sebagai bisnis yang prudent.

Ada kisah pahit seorang kawan yang diundang (dalam bahasa doi, ‘dijebak’) oleh kerabatnya agar mendaftar seminar online, yang memperlihatkan bahwa pengangguran lusuh seperti dirinya, dapat membeli sebuah kapal pribadi tak sampai tiga tahun kemudian. Dahsyat sekali bukan…

Sekarang kita semua moncrot. Menenggak ludah sendiri. Bahkan lebih tragis lagi, kita gandrung pada webinar, pada sebuah platform yang dulu asing dan cenderung dihindari.

Kampus semua tiarap dan pasrah pada pengajaran secara online—yang pembaca pasti tau betapa menjemukannya itu—memanfaatkan platform digital. Rapat online tanpa konsumsi Laritta (kalau saya sih suka Igor, maaf), kelas online tanpa lirikan maut ke pujaan, apalagi ujian online dengan tak mengindahkan hasrat-hasrat dan sensasi ngerpek, tentu akan kering sekali bukan?!

Menanjak naiknya popularitas itu, namun demikian, bukan saja didorong oleh keharusan-keharusan situasional seperti ‘disuruh bos’ atau ‘diatur oleh dosen dan kampus’ atau alasan ‘apa boleh buat’ lainnya. Popularitas webinar menunjukkan keasyikan-keasyikan tertentu selain keterpaksaan, memperlihatkan atraksi pertunjukan diri yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Ada ‘kedirian’ lain yang didemonstrasikan, dipotret ulang, dan kemudian dipamerkan. Apakah ini sebuah pertanda bahwa dengan masuk ke dalam komunitas ‘semua akan nge-zoom pada akhirnya’ dan ‘anti-zoom zoom club’, maka kita menahbiskan diri pada manusia modern pasca-Covid? Atau justru menunjukkan kemunduran orang yang menyadari betapa tipisnya eksistensi dalam sebuah pandemi?

Kita beruntung bisa menikmati itu semua. Rapat dengan Zoom, kuliah dengan Microsoft Teams, atau bercengkerama dengan keluarga lewat Google Meet. Bejibun pertemuan diatur lewat platform online, bahkan menggelar jasa pemotretan virtual jarak jauh, panduan potong rambut (atas bawah), konser amal dan peribadatan, termasuk istighosah online—sebuah pemandangan yang menyajikan kekhidmatan dalam bentuknya yang lain.

Tapi sebagaimana sebuah seminar tatap muka di sebuah ruang fisik, webinar atau pertemuan online lainnya tetaplah penting. Ia mengantarai dahaga kita semua untuk tampil. Kadang isi tak terlalu penting.

Dan ini sungguh-sungguh dahaga semua orang, ketika mall dan kafe yang menjadi ladang-ladang kekonyolan unjuk rasa eksistensi itu, dihindari dan ditutup berbulan-bulan. Ia mengobati kangen kita pada situs-situs modern itu.

Ah jangan ngayal… situ nyinyir karena gak pede aja…’. IRI BILANG BOSSSS!