Yang Dadakan Selain Sepeda dan Bekal buat Suami 0 387

Suatu malam saya bermotor mengitari jalanan Surabaya. Rupanya, di masa-masa (yang dipaksakan dinamai dengan) new normal, tak sedikitpun jalan raya terlihat sepi. Alih-alih berdiam di rumah sesuai yang dianjurkan kelompok elit dan tubir, orang-orang tampak menikmati cangkruk dengan asyik. Sekilas pemandangan ini tak aneh buat saya, karena toh, bahkan ketika sewaktu-waktu perang meletus di Ahmad Yani pun, saya yakin masih ada segerombolan pemuda lagi ngopi di pojokan Injoko.

Tapi hal lain di luar perhitungan saya adalah para pesepeda yang berbaris ngonthel di sepanjang jalan. Tak tanggung-tanggung, dari bundaran Waru sampai Taman Bungkul, sisi kiri jalan raya selalu dipenuhi orang-orang bersepeda. Jenis sepedanya pun variatif, sebutlah apapun itu, mau sepeda gunung, fixie, sepeda keranjang, sampai sepeda lipat-jungkir walik-ngarep­ mburi, semua ada. Pertanyaan yang muncul di benak saya cuma satu: apa kondisi pandemi semacam ini bikin orang gatel beli sepeda?

Saat di internet ramai orang-orang gemas mencibir mereka yang bersepeda lalu upload instastory, “stay healthy” dengan foto gagang sepeda, istilah ‘cyclist dadakan’ muncul. Mereka menganggap bahwa orang yang sepedaan rame-rame sambil merekam teman sesamanya lagi ngos-ngosan ngonthel adalah sekelompok orang yang latah kayak pemerintah. “Cycling kok cuma pas Koronah. Kayak ane dong, cycling terus tiap pagi,” kata mereka, suatu siang saat baru bangun tidur. Umpatan ini diperpanjang lagi dengan anggapan bahwa para pesepeda ini tidak taat berbaris di jalan raya, maunya jalan dipake sendiri, kata mereka yang sehari-hari naik motor tapi mencaplok jalur sepeda.

Menyambungkan istilah ‘cyclist’ dengan ‘dadakan’ ini cukup aneh. Bayangkan betapa murka perasaan bapak atau pakdhe yang mengajari kita naik sepeda saat masih balita. Coba ingat, betapa lebih ngawurnya kala itu sampai harus menabrak pagar rumah, nyasak bonsai tetangga yang lagi imut-imutnya, bahkan menyerempet betis ibu-ibu jual gethuk yang saban kali lewat depan rumah—apa kabar ya beliau? Kita semua telah menjadi cyclist sejak dini. No debat.

Jika kita pengen mendefinisikan ‘dadakan’ sebagai ‘ikut-ikutan’ tren, tengoklah upaya orang-orang sok yang berusaha menyamakan diri dengan pemikir feminis bahwa istri tak seharusnya membuatkan bekal buat suami. Bahwa istri melayani suami dan ditempatkan dalam peran pekerja di dalam rumah adalah warisan patriarki yang dimaktubkan dalam berbagai dokumen baik itu negara atau agama. Salah besar, pokoknya, kalau sampai istri merasa bekal buat suami adalah tanda cinta dan bukannya gejala kapitalisme di dalam rumah tangga. Argumen paling akut ialah melakukan perhitungan gaji yang bisa diterima oleh seorang istri kala melakukan pekerjaan domestik, seperti mbeteti gurami, mengganti popok bayi, mencuci, dan lain-lain.

Maria Mies dalam bukunya Patriarchy & Accumulation on a World State, memang menderma konsep ‘Housewifization’ untuk menunjuk hidung kapitalisme dan patriarki secara langsung, atas pembagian peran domestik dan publik antara perempuan dan laki-laki yang sangat timpang. Ia mengatakan kalo istri menempati peran yang sama dengan seorang housewife, yang dibayar untuk melakukan segala jenis kegiatan rumah.

Konsep ini krusial dalam mengkritik posisi gender di rumah tangga, itu benar. Tapi mbok ya dipahami, ketika ada seorang perempuan mengunggah foto makanan dengan caption ‘bekal buat suami’, itu artinya kan memang si istri membuatkan, atau memberi reward berupa bekal pada suami, ya toh? Apa iya, ibu mereka nggak pernah membuatkan bekal sewaktu mereka lagi SD dan duit jajan cuma gopek?

Bos, saya yakin, kalo istri para petani nggak membawakan rentengan buat suaminya di sawah, nasib beras yang kita makan nggak akan ikhlas menambal kebocoran lambung kita yang lapar.

Ih, bawa-bawa cinta. Tau nggak sih itu cuma dogma biar istri ikhlas melayani suami?

Karepmu, feminis dadakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Pacaran Artis dan Komentar Jahat Netijen 0 158

Oleh: Annisa Pinastika*

Beberapa waktu lalu, menjelang peringatan Muharram, jagat maya digemparkan dengan tangkapan layar Instagram Story aktris muda tanah air. Video berdurasi kurang dari lima belas detik tersebut menayangkan saat kekasih sang aktris (sebut saja Zara JKT48) menyentuh bagian vitalnya dengan sengaja.

Hal yang menjadi pergunjingan netijen ialah respon dari si aktris yang tidak menunjukkan penolakan atas tindakan kekasih. Malahan menunjukkan ekspresi senang dan meminta perbuatan tersebut diulangi. Jari jemari netizen tentu riuh membagikan ulang lengkap dengan komentar keji dan sumpah serapah.

Netizen maha benar. Tidak hanya mengunggah ulang story tersebut, mereka juga merundung akun orang tua dan saudara dari si aktris dengan kata-kata makian dan hinaan. Tanpa disadari, perilaku mereka telah mencerminkan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Salah satu ciri ialah perusakan reputasi atau kredibilitas seseorang baik dengan berbagi data pribadi dengan tujuan merusak reputasi pengguna serta membuat komentar yang bernada menyerang, meremehkan, dengan maksud mencoreng reputasi seseorang (Kusuma dan Arum, 2019).

Fenomena KBGO sendiri mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir. Catahu Komnas Perempuan 2019 menunjukkan bahwa kekerasan jenis ini telah bertambah menjadi 98 kasus pada tahun 2018, meningkat dari tahun 2017 yang mencetak sebanyak 65 kasus dan tahun 2016 yang mencatat lima kasus.

Jika kita mengamati dengan seksama, pembaca yang budiman, kegiatan KBGO, khususnya pada konteks peristiwa ini, sebenarnya dilakukan netizen yang senang melihat orang lain susah. Fenomena kesenangan ketika melihat orang lain sedang bernasib buruk dikenal dengan sebutan “schadenfreude” (van Dijk, Ouwerkerk, van Koningsbruggen & Wesseling, 2011).

Aurelia (2019) memaparkan sebuah penelitian dalam makalah “Schadenfreude Deconstructed and reconstructed: A Tripartite Motivational Modeldalam New Ideas of Psychology. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa responden puas melihat orang sukses sedang mengalami kegagalan dan menganggap hal tersebut layak dialami oleh orang yang “high achiever”.  Dengan begitu, netizen insecure tentu merasa jaya bak di singgasana ketika melihat aktris layar lebar bertalenta di usia muda, dulunya anggota idol yang jago menyanyi dan menari, penyandang gelar brand ambassador produk-produk terkenal, kini tercoreng nama baiknya karena satu konten.

Alih-alih merasa simpati, beberapa golongan justru bangga menjadi agen pelaku kekerasan berbasis gender online dengan berlomba-lomba mereproduksi konten tersebut. Bahkan akun-akun gosip kawakan dan media massa tanpa rasa bersalah memonetisasi video sang aktris yang masih di bawah umur.

Sesungguhnya rasa iri yang memicu schadenfreude mendorong kita untuk bertindak sebagai pelaku kekerasan. Kita lupa bahwasannya setiap orang memiliki kesalahan dan dosa yang berbeda-beda. Apesnya saja si aktris yang-yangan di depan kamera dan tersebar di sosial media. Padahal belum tentu para tukang bully online itu tidak melakukan hal yang serupa. Wong digrepe itu enak, kok!

Mengakhiri tulisan ini, penulis hanya bisa berpesan pada netizen: mbok ya kalau ada skandal, melibatkan anak di bawah umur, jangan lantas senang dan nyumpah-nyumpahin sampe ke keluarganya segala! Malu, lah sama umur! Mending energinya dipakai buat bercocok tanam atau bisnis makanan rumahan gitu, lho!

Melihat tangkah netizen seperti ini justru makin membuat penulis yakin bahwa sekarang masyarakat lebih takut melihat pasangan saling mencinta daripada menyakiti perasaan sesama manusia.

 

*)Perempuan yang menjuluki diri “Ratu Mahabencana”. Enggan mengklaim dirinya sebagai feminis meski suka menulis tentang feminisme.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

 

 

Antara Cinta dan Benci Kita pada Influencer 0 194

Ardhito Pramono adalah salah satu nama yang terlibat menjadi influencer kampanye Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Tapi, ia tidak sendiri. Selain musisi bergenre jazz ini, ada belasan nama lain yang juga terlibat seperti Gofar Hilman, Gading Marten, Grittie Agatha, sampai Cita Citata juga turut serta.

Setelah diunggah, konten mereka lantas mendapat kecaman dari netijen. Pasalnya, mereka nyata-nyata mempromosikan sebuah produk undang-undang, dengan sejumlah pasal problematis.

Polemik ini mungkin menjadi salah satu fenomena ter-nggilani yang pernah terjadi Indonesia. Ketika dicoba konfirmasi, pemerintah tetap gak ngaku kalau pake influencer untuk melancarkan penggiringan opini publik melalui kampanye media sosial #IndonesiaButuhKerja. Katanya: “kan mereka spontan mendukung demi ekosistem kerja  yang lebih baik”.

Media kemudian membawa diskusi menjadi lebih jauh: apa sebenarnya urgensi mengeluarkan dana untuk membayar influencer di tengah pandemi seperti ini?

Pertanyaan ini tak sepenuhnya salah. Lha wong Pakdhe Jokowi saja sudah sempat marah-marah karena dana penyerapan dari bidang Kementerian Kesehatan tak berjalan dengan baik. Tapi, bisa-bisanya dana yang seharusnya diutamakan untuk kemaslahatan memulihkan kesehatan dan ekonomi bagi wong cilik, seakan dihamburkan dengan penuh gaya. Macem arek-arek yang mampu beli 1 gelas ukuran tall di Setarbak dan dipamerkan ke Instagram story dari hasil ngemis tambahan uang jajan ke orang tua.

Tapi, bukankah pertanyaan ini juga bisa jadi keabaian media dan kita dalam melihat kemajuan zaman. Jangan-jangan, kita sedang menampik fakta bahwa memakai influencer atau brand ambassador dalam bahasa periklanan itu wajar adanya. Bahkan secara ringkas, bisa dikatakan penggunaan influencer ini langkah cerdas, singkat, dan padat karya.

Ardhito Pramono misalnya, dengan followers 775 ribu di akun Instagram-nya dan 458 ribu di Twitter. Bisa dibayangkan betapa banyak pengikut dua media sosial tersebut (termasuk saya salah satunya) yang melihat, membaca, mendengar, dan menonton kontennya tentang RUU Cipta Kerja itu. Kita semua juga sepakat kan, bahwa cinta fans pada idolanya tak pernah ada yang mengalahkan, bahkan cinta kita pada Sang Pencipta sekali pun?! Tak terlalu jauh kita menyimpulkan, misalnya, konten kampanye ini diterima dan ditelan mentah-mentah oleh followers yang kurang literasi.

Sayangnya, saya kurang beruntung karena tak sempat melihat satu pun konten kampanye ini, termasuk milik Ardhito. Keburu dihapus pasca netijen menghujatnya. Setelah dihapus, tentu saja langkah berikutnya adalah ramai-ramai melakukan klarifikasi.  Khas sekali pembuat konten dunia maya yang kalau salah, langsung menyebar video permintaan maaf.

Sebagai salah satu fans gak terlalu garis keras, izinkan saya membagi reaksi atas permintaan maaf Ardhito.  Sebuah utas yang diunggah 14 Agustus lalu, dengan total 6 twit yang telah ditanggapi netijen lebih dari 10 ribu kali.

Di awal utasan, Ardhito menceritakan kronologi bagaimana dirinya sampai “tertipu” oleh klien pemberi brief kampanye tersebut. Menurutnya, klien memastikan tak ada korelasi antara kampanye ini dengan Omnibus Law. Dalam konteks ini, pihak ketiga penyambung lidah pemerintah dengan innocent influencers ini memang mbecekno, penuh tipu muslihat.

Mari kita tilik lebih dalam lagi.

Bagi saya, fans yang baik adalah fans yang menghargai karya idolanya. Tapi, fans yang baik juga gak buta dengan kesalahan yang dibuat sang idola. Dalam klarifikasi di utasan Twitter disebut, si mas ganteng Ardhito: “saya musisi, gak paham politik dan gak mau digiring masuk ke dalamnya”.

Lho, sek to Mas! Mas Ardhito sebagai musisi, saya sebagai rakjat jelata yang tujuan hidupnya adalah menikmati kuaci biji bunga matahari, kita semua warga negara Indonesia ini bukankah harus terlibat politik? Sebab, politik ini kan gak melulu soal menjabat di kursi parlemen atau eksekutif.

Mengikuti perkembangan isu publik, turut peduli, dan terlibat juga bagian dari berpolitik. Apalagi negara ini kan demokrasi, pucuk kepemimpinan ada di suara-suara kita. Yang acuh terhadap persoalan negeri itu harus siapapun yang tinggal di negara ini, tidak pandang bulu, apalagi mengecilkan profesi “lah kan aku cuma numpang ngamen di negara ini”.

Sebab, ketidaktahuan antara “Cipta Kerja” dan “Omnibus Law” ini suatu soal yang cukup memprihatinkan.

Tapi sebagai fans yang baik, saya juga menghargai keputusan dan idealisme Mas Arditho. Di utasan itu juga disebutnya: “saya ingin memiliki pengaruh, tapi melalui musik yang saya buat”. Dalam kata lain, ia kapok dan tak lagi-lagi mau berurusan dengan persoalan kontroversial perpolitikan. Wis, gitaran wae!

Keputusan ini membuat saya juga cukup lega. Pun, tak membuat saya jengah untuk terus menikmati album “Craziest thing happened in my backyard” sebagai pengiring di kala jalan kaki dari kos ke kantor.

Akhir kata walau Ardhito sempat “terjebak”, sama seperti influencer lain, saya gak tiba-tiba jadi benci. Tapi saya juga gak gelap mata “Gpp Kak Ditho, tetap semangat, stay strong!”.

Gak. Arditho dan kita juga harus belajar dari peristiwa ini. Kita semua harus lebih jeli melakukan riset dan konfirmasi, peka dan stay informed. Kalau setelah viral, terus baru baca-baca informasi, dan berlanjut membuat klarifikasi, ini gak ada bedanya dengan grup WA keluarga kita yang gampang kemakan omongan hoaks.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks