Politik Dinasti dan Kemungkinan Asal-muasalnya 0 369

Di Kongres Luar Biasa Partai Gerindra kemarin, Prabowo Subianto kembali melaju menjadi ketua umum Parta Gerindra untuk 5 tahun ke depan. Ini merupakan kali kedua ia menduduki posisi teratas partai bergambar burung garuda itu. Adapun terpilih kedua dan ketiga kalinya tokoh tertentu dalam partai politik bukan hanya terjadi pada Prabowo saja. Tahun lalu, sahabat-benci-tapi-rindunya, Megawati Soekarnoputri juga terpilih kembali untuk kesekian kalinya menjadi ketua umum PDIP.

Kalaupun ada wajah baru dalam tubuh pimpinan partai politik, ia tak lain dan tak bukan adalah anak-anak atau kerabat dekat pemimpin sebelumnya. AHY misalnya, yang kini menjabat ketua umum Partai Demokrat. Partai politik kita memang tak jauh bedanya dengan cerita Boruto di serial “Boruto: Naruto Next Generation”.

Di luar itu, kita juga disajikan dengan kabar anak-menantu elit politik yang melaju ke Pilkada Desember esok. Yang paling menghebohkan: Gibran di Solo dan Bobby di Medan; Siti Nur Azizah, anak Wapres Ma’ruf Amin yang bertarung melawan Rahayu Saraswati, keponakan Prabowo, di Tangerang Selatan; serta yang paling populer: the kingdom of Ratu Atut di wilayah paling ujung barat Pulau Jawa.

Kita kemudian menyebut fenomena ini sebagai politik dinasti. Sebuah frasa yang kemudian senantiasa berkonotasi buruk. Gara-gara politik dinasti, golongan tertentu diduga kuat berusaha melanggengkan kekuasaannya.

Selain itu, dinasti poltik ini juga membuat kader-kader berkualitas, putra-putri daerah tak punya kesempatan untuk melaju memperebutkan jabatan yang sama secara adil. Sebab, anak-anak yang punya hubungan darah dengan elit politik punya privilege popularitas dan gurita koneksi politik yang lebih kuat.

Kita kemudian bertopang dagu, mengernyitkan dahi, dan mengeluarkan pendapat sok kritis: “Memangnya gak ada kader generasi muda yang bisa diajukan ya? Pada ke mana semua sih anak-anak muda kita, kok gak ada yang mau berpolitik?”

Tapi, bukankah kita semua sungguh berlebihan melihat fenomena ini? Dinasti politik, memang dianggap tak etis karena kaitannya dengan hajat hidup orang banyak dalam kepemimpinan pemerintahan. Namun, ini tak jauh beda dari keluarga kita semua yang juga melakukan praktik serupa. Kalau orang tua dokter, anak-anaknya juga harus dokter semua. Kalau keluarga advokat, gak ilok rasanya kalau anak tak masuk sekolah hukum ternama. Kalau punya kerajaan bisnis, maka anak harus meneruskannya.

Semua lingkaran fenomena ini sekiranya ingin menunjukkan sejumlah poin. Pertama, orang tua mendidik anak ibarat cerminan dirinya. Sebagian punya ambisi agar anak mereka menjadi pribadi yang lebih baik ketimbang dirinya. Hal ini jadi problematik, karena didikan seperti ini bisa jadi menghalangi tumbuh kembang anak sesuai passion-nya.

Tapi, hal ini bisa jadi benar dan sangat wajar. Sebab dalam perkembangan anak, ia belajar dari lingkungan sosial di sekitarnya. Ia tak punya pilihan panutan lain, jika seluruh isi keluarga besarnya berlatar belakang pendidikan hukum. Bukan paksaan orang tua, tapi semata-mata karena ia hanya punya sudut pandang pekerjaan dan jalan hidup sebagai praktisi hukum. Nyatalah pepatah orang: “buah tak jatuh jauh dari pohonnya”.

Kedua, ada yang keliru dari sistem pendidikan kita selama ini: mencekoki anak dengan capaian kurikulum pembelajaran sebagai formalitas belaka. Dalam suatu forum diskusi bersama jurnalis, pernah saya mendengar penjelasan panjang lebar cita-cita Mas Menteri Nadiem Makarim soal “merdeka belajar”.  Sistem ini memerdekakan guru dan sekolah untuk secara mandiri menyusun kurikulum sesuai dengan kepentingan dan karakteristik muridnya.

Semua sistem ini butuh proses yang panjang dan kerja keras yang tidak mudah. Tapi sejak pandemi menerjang, semua sistem ini terpaksa dilakukan. Semua pembelajaran serba online. Akibatnya, guru terpaksa memodifikasi modul pembelajaran agar bisa disampaikan secara daring.

Faktanya, siswa mengeluh bahwa pembelajaran online ini disebut tak efektif. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, seorang murid berseragam SMA berkeluh-kesah karena penjelasan melalui kelas online tak bisa cukup membuat materi kompleks dipahami siswa. Mereka tak bisa leluasa langsung bertanya dan berinteraksi ke guru, seperti pada pertemuan kelas tatap muka.

Keluhan ini lebih terdengar seperti anak itik rindu induknya, sekaligus menunjukkan kepada kita gambaran proses belajar-mengajar di sekolah. Siswa datang ke sekolah, buka buku halaman sekian, kerjakan soal, pulang, les biar lebih paham materi di sekolah, repeat.

Sekolah kita, jangan-jangan, lupa mengeksplorasi isi otak kita, menggali kreativitas, minat bakat, dan menerapkan berjibun-jibun materi pelajaran dalam kehidupan praktis yang lebih konkrit. Ketika semuanya dipaksakan harus belajar secara online, dengan ruang dan waktu yang serba terbatas, siswa harus belajar secara mandiri, menggali sendiri materinya tanpa bimbingan guru, semuanya kalang kabut.

Lha kalau belajar mandiri di luar ruang kelas saja generasi muda kita galau, apalagi berorganisasi dan mengisi tampuk kepemimpinan jabatan-jabatan publik?

Miskinnya kader baru dalam posisi-posisi penting negeri ini, bukan semata-mata karena generasi muda kita malas terlibat, tapi karena kita semua, para seniornya, lupa memberi kesempatan dan mendidiknya sedemikian rupa.

Tapi tak lupa juga, semua sistem perpolitikan kita, juga dibuat sedemikian rupa, agar jabatan prestisius hanya bisa diakses orang-orang tertentu. Sementara kita-kita yang jelata ini, cuma bisa nonton dan asyik berdebat sana-sini.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks