Sejumlah Alasan Mengapa Sebaiknya Menunda Niatan Kerja di TV

(Tulisan ini mengandung sedikit curhat pribadi penulisnya)

 “Enak ya kerja di TV! Orangnya cantik-cantik, ganteng-ganteng.”

Demikian barang satu-dua pernyataan netijen di kolom komentar akun media sosial sebuah media nasional. Memang sih, pekerja media khususnya televisi, karena karakteristiknya yang mengandalkan visual, sangat memperhatikan penampilan reporter-reporter on-cam-nya.

Tapi, saya takut sitgma ini jadi alasan anak-anak fresh grad pengen kerja di TV. Sebab ini kan lapangan pekerjaan, bukan biro jodoh. Sebagaimana hakikat hidup, setiap jalan karir yang diambil seseorang tentu tak lepas dari risiko, termasuk jurnalis TV. Kalian gak tahu kan ribetnya hidup jadi jurnalis TV?

Pertama, anak TV sangat menggantungkan hidup pada alat-alat mereka. Gak ada kamera berikut tripodnya, hand mic, dan seperangkat alat yang membantu live report di lokasi kejadian, ya gak akan bisa jalan liputan. Alat-alat ini banyak ragamnya dan lumayan berat dibawa. Tak lupa, kami juga menjaganya seperti menjaga hati agar tak tersakiti. Semata-mata karena semua peralatan itu mahal, pun bukan punya sendiri alias punya kantor.

Kedua, seluruh wawancara membutuhkan audio visual. Otomatis, narasumber harus didatangi secara langsung. Atau paling banter di masa new normal ini, narasumber ditemui melalui panggilan video. Beda banget sama anak berita cetak atau online yang bisa menelepon narasumber, melakukan wawancara sambil nguleni adonan bakso atau korah-korah di rumah.

Plus, tak semua narasumber mau wajahnya tampil di layar kaca. Gak pede atau takut ada salah bicara katanya. Belum lagi mereka-mereka yang statement-nya lebih bagus ketika off the record, tapi malah demam layar. Ketika tombol record kamera dinyalakan, mereka lantas terbata-bata, grogi seperti pertama kali kencan bareng kekasih.

Ketiga, jurnalis TV harus tampil prima di depan layar, NO DEBAT. Gak peduli kita lelah karena seharian di jalanan nan berdebu, berkeringat, pusing menentukan angle berita dan menulis naskah. Ketika naik tayang untuk laporan langsung, baju, rambut, dan make-up harus on point.

Mau di belakang ada gunung runtuh, kebakaran, corona, kalau bisa kiamat diliput juga neh, wawancara malaikat pencabut nyawa. Mau kaki dilewatin tikus atau digodain abang-abang yang tiba-tiba dadah-dadah di kamera, ketika anchor sudah mempersilakan durasi untuk kita kuasai, ngomong harus lancar. Kebanyakan e-e-e, ngeblank dikit, kepleset penggunaan kata, tak akan diampuni netijen di medsos.

Keempat, risiko diusir dan ditolak. Karena penampilan anak TV selalu sedemikian heboh, dengan cube mic bertuliskan stasiun media, terkadang warga sudah emoh duluan bahkan saat kita baru saja mendekat (dalam tahap ini, terkadang saya merasa kami-kami ini dianggap kuman, harus dijauhi).

Belum lagi mereka-mereka yang tak tahu sistem kerja pertelevisian. Di suatu momen, saya berhadapan dengan mereka yang asal menangkap layar dan menyebarkan gambar e grup-grup WA keluarga dengan bumbu-bumbu kepsyen memancing amarah, tanpa menonton tayangannya. Padahal CG (tulisan yang tampil di bawah layar) yang tertangkap di capture hanya berperan sebagai pelengkap dari laporan langsung. Kaum-kaum ini memang tak jauh dari mereka yang hanya capture judul berita online, lalu berucap “Astagfirullah… media cebong ini sudah menyebar hoax”.

Dalam momen itu, kadang warga tak tahu menahu sistem kerja jurnalistik, bahwa apa yang disampaikan reporter di layar kaca saat live, adalah hasil wawancara narasumber dari berbagai sisi dan riset data.  Alhasil saya sempat dirundung berjam-jam, diomeli, walau mulut telah berbusa menjelaskan etik kerja kami. Saya dituduh tak becus menyampaikan fakta, sesuatu yang sudah saya sampaikan dalam durasi live 3-6 menitan.

Mereka, kelas menengah, tak pernah paham dunia profesi jurnalistik TV, tak begitu paham konteks ketika menonton live report reporter di layar kaca. Yang mereka tahu harga-harga bahan dapur terus naik, dan tunggakan uang kontrakan harus segera dibayar, tak peduli ada atau tidaknya corona.

Lebih jauh, pula banyak masyarakat melakukan perundungan di media sosial atas kerja jurnalistik yang sudah berdasar fakta. Tak jarang bullying mengganggu privasi dan identitas personal jurnalis, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan sumber persoalan.

Jangan-jangan ketidaktahuan masyarakat akan banyak hal, salah satunya prinsip jurnalistik, adalah tanda bahwa pemerintah dengan segala tetek-bengek sistem pendidikannya, hanya mengajari kita teori, bukan praktik hidup yang konkrit.

Tak heran, persinggungan ras dan agama akan membuat orang cepat marah serta urusan perut membuat gampang tersulut. Kita tak pernah diajari bahwa ada persoalan di luar diri kita yang lebih jauh dan lebih kompleks daripada persoalan-persoalan pribadi.

Jangan heran bila warga masih banyak yang tak tahu mengapa napas mereka dibatasi dengan pemakaian masker, kegiatan mereka harus berlogo ‘protokol kesehatan’. Tak pernah sampai ke telinga mereka soal menyoal penanganan pasien COVID-19, istilah klaster, apalagi vaksin yang hingga kini tak tahu di mana arwahnya.

Dalam hal ini, negara mungkin telah gagal melakukan pendekatan personal, edukasi tentang prinsip-prinsip mendasar untuk hidup: berpikir, bernalar, dan berperikemanusiaan: nilai-nilai yang selama ini hanya disebut karena wajib menghapal Pancasila di sekolah. Padahal, bukankah mereka selalu berhasil menggaet hati rakyat secara personal –  bahkan ada yang sampai fanatik kronis –  ketika pemilu menjelang?

Loh kan, tadinya mau curhat aja rasanya jadi jurnalis TV, kok jebule bahas negoro?! Ya gini ini, kerjaan kami gak cuma semudah tampil di layar seperti yang kalian bayangkan. Di baliknya ada beragam dinamika, sampai mikiri betapa runyamnya persoalan negeri ini. Gimana, masih mau jadi anak TV?