Sejumlah Alasan Mengapa Sebaiknya Menunda Niatan Kerja di TV 0 479

(Tulisan ini mengandung sedikit curhat pribadi penulisnya)

 “Enak ya kerja di TV! Orangnya cantik-cantik, ganteng-ganteng.”

Demikian barang satu-dua pernyataan netijen di kolom komentar akun media sosial sebuah media nasional. Memang sih, pekerja media khususnya televisi, karena karakteristiknya yang mengandalkan visual, sangat memperhatikan penampilan reporter-reporter on-cam-nya.

Tapi, saya takut sitgma ini jadi alasan anak-anak fresh grad pengen kerja di TV. Sebab ini kan lapangan pekerjaan, bukan biro jodoh. Sebagaimana hakikat hidup, setiap jalan karir yang diambil seseorang tentu tak lepas dari risiko, termasuk jurnalis TV. Kalian gak tahu kan ribetnya hidup jadi jurnalis TV?

Pertama, anak TV sangat menggantungkan hidup pada alat-alat mereka. Gak ada kamera berikut tripodnya, hand mic, dan seperangkat alat yang membantu live report di lokasi kejadian, ya gak akan bisa jalan liputan. Alat-alat ini banyak ragamnya dan lumayan berat dibawa. Tak lupa, kami juga menjaganya seperti menjaga hati agar tak tersakiti. Semata-mata karena semua peralatan itu mahal, pun bukan punya sendiri alias punya kantor.

Kedua, seluruh wawancara membutuhkan audio visual. Otomatis, narasumber harus didatangi secara langsung. Atau paling banter di masa new normal ini, narasumber ditemui melalui panggilan video. Beda banget sama anak berita cetak atau online yang bisa menelepon narasumber, melakukan wawancara sambil nguleni adonan bakso atau korah-korah di rumah.

Plus, tak semua narasumber mau wajahnya tampil di layar kaca. Gak pede atau takut ada salah bicara katanya. Belum lagi mereka-mereka yang statement-nya lebih bagus ketika off the record, tapi malah demam layar. Ketika tombol record kamera dinyalakan, mereka lantas terbata-bata, grogi seperti pertama kali kencan bareng kekasih.

Ketiga, jurnalis TV harus tampil prima di depan layar, NO DEBAT. Gak peduli kita lelah karena seharian di jalanan nan berdebu, berkeringat, pusing menentukan angle berita dan menulis naskah. Ketika naik tayang untuk laporan langsung, baju, rambut, dan make-up harus on point.

Mau di belakang ada gunung runtuh, kebakaran, corona, kalau bisa kiamat diliput juga neh, wawancara malaikat pencabut nyawa. Mau kaki dilewatin tikus atau digodain abang-abang yang tiba-tiba dadah-dadah di kamera, ketika anchor sudah mempersilakan durasi untuk kita kuasai, ngomong harus lancar. Kebanyakan e-e-e, ngeblank dikit, kepleset penggunaan kata, tak akan diampuni netijen di medsos.

Keempat, risiko diusir dan ditolak. Karena penampilan anak TV selalu sedemikian heboh, dengan cube mic bertuliskan stasiun media, terkadang warga sudah emoh duluan bahkan saat kita baru saja mendekat (dalam tahap ini, terkadang saya merasa kami-kami ini dianggap kuman, harus dijauhi).

Belum lagi mereka-mereka yang tak tahu sistem kerja pertelevisian. Di suatu momen, saya berhadapan dengan mereka yang asal menangkap layar dan menyebarkan gambar e grup-grup WA keluarga dengan bumbu-bumbu kepsyen memancing amarah, tanpa menonton tayangannya. Padahal CG (tulisan yang tampil di bawah layar) yang tertangkap di capture hanya berperan sebagai pelengkap dari laporan langsung. Kaum-kaum ini memang tak jauh dari mereka yang hanya capture judul berita online, lalu berucap “Astagfirullah… media cebong ini sudah menyebar hoax”.

Dalam momen itu, kadang warga tak tahu menahu sistem kerja jurnalistik, bahwa apa yang disampaikan reporter di layar kaca saat live, adalah hasil wawancara narasumber dari berbagai sisi dan riset data.  Alhasil saya sempat dirundung berjam-jam, diomeli, walau mulut telah berbusa menjelaskan etik kerja kami. Saya dituduh tak becus menyampaikan fakta, sesuatu yang sudah saya sampaikan dalam durasi live 3-6 menitan.

Mereka, kelas menengah, tak pernah paham dunia profesi jurnalistik TV, tak begitu paham konteks ketika menonton live report reporter di layar kaca. Yang mereka tahu harga-harga bahan dapur terus naik, dan tunggakan uang kontrakan harus segera dibayar, tak peduli ada atau tidaknya corona.

Lebih jauh, pula banyak masyarakat melakukan perundungan di media sosial atas kerja jurnalistik yang sudah berdasar fakta. Tak jarang bullying mengganggu privasi dan identitas personal jurnalis, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan sumber persoalan.

Jangan-jangan ketidaktahuan masyarakat akan banyak hal, salah satunya prinsip jurnalistik, adalah tanda bahwa pemerintah dengan segala tetek-bengek sistem pendidikannya, hanya mengajari kita teori, bukan praktik hidup yang konkrit.

Tak heran, persinggungan ras dan agama akan membuat orang cepat marah serta urusan perut membuat gampang tersulut. Kita tak pernah diajari bahwa ada persoalan di luar diri kita yang lebih jauh dan lebih kompleks daripada persoalan-persoalan pribadi.

Jangan heran bila warga masih banyak yang tak tahu mengapa napas mereka dibatasi dengan pemakaian masker, kegiatan mereka harus berlogo ‘protokol kesehatan’. Tak pernah sampai ke telinga mereka soal menyoal penanganan pasien COVID-19, istilah klaster, apalagi vaksin yang hingga kini tak tahu di mana arwahnya.

Dalam hal ini, negara mungkin telah gagal melakukan pendekatan personal, edukasi tentang prinsip-prinsip mendasar untuk hidup: berpikir, bernalar, dan berperikemanusiaan: nilai-nilai yang selama ini hanya disebut karena wajib menghapal Pancasila di sekolah. Padahal, bukankah mereka selalu berhasil menggaet hati rakyat secara personal –  bahkan ada yang sampai fanatik kronis –  ketika pemilu menjelang?

Loh kan, tadinya mau curhat aja rasanya jadi jurnalis TV, kok jebule bahas negoro?! Ya gini ini, kerjaan kami gak cuma semudah tampil di layar seperti yang kalian bayangkan. Di baliknya ada beragam dinamika, sampai mikiri betapa runyamnya persoalan negeri ini. Gimana, masih mau jadi anak TV?

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 242

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Yakin Kekayaan Akan Sia-sia jika Meninggal? 0 319

Beberapa hari belakangan, banyak kenalan keluarga saya yang pergi meninggalkan dunia menuju ke alam baka. Bukan, bukan karena Covid-19 si virus membagongkan saja, tapi juga riwayat penyakit yang mereka idap. Tapi, bukan itu yang saya akan bahas.

Fenomena banyaknya orang meninggal di sekitar saya mengingatkan saya dengan quote (yang katanya bijak), “janganlah sibuk mengumpulkan harta di dunia, uangmu di dunia tidak bisa kamu bawa”. Ya kira-kira seperti itu kalimatnya. Kata-kata itu sering saya dengar di gereja dan orang-orang sekitar saya.

Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung, tapi saya mau menjawab: MATAMU!

Harta memang tidak dibawa mati, tapi mati juga butuh harta. Mati bukan berarti dengan enaknya pergi ke alam lain tanpa masalah. Mati juga menimbulkan masalah baru bagi keluarga yang ditinggalkan: biaya.

Siapa bilang upacara mahal hanya ditimbulkan oleh pernikahan atau swit sepentin yang digelar di hotel? Tidak! Meninggal juga butuh biaya. Mohon jangan berpikiran upacara pemakaman yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman Ciputra yang super mevvah. Yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman yang cukup sederhana.

Meski upacara tidak digelar mewah dan hanya di rumah duka sederhana, biayanya bisa menyamai orang menikah di hotel. Mahalnya biaya pamakaman di Indonesia bahkan masih terbilang lebih terjangkau dari pada negara lain seperti Jepang.

Menurut pengalaman salah seorang keluarga saya yang meninggal 2017 silam, hanya untuk peti mati saja bisa menelan biaya sebesar 80 juta rupiah! Itupun tidak mewah-mewah banget. Kira-kira bisa dapat 4 Prada “Saffiano” ukuran kecil. Mahalnya peti mati memang menjadi permasalahan, bahkan juga dialami di luar negeri seperti Amerika Serikat.

Ini masih peti mati saja, belum ditambah biaya lainnya. Sewa rumah duka kira-kira mencapai 1,5 juta per lokal dan per hari. Untuk jenazah dengan jumlah keluarga dan pelayat yang besar, biasanya menyewa 2-3 lokal. Selanjutnya biaya ketering yang mencapai 30 ribu per porsi untuk nasi goreng yang tidak enak. Nasi goreng yang semakin banyak porsinya semakin murah itu.

Lalu, masih ada biaya makam yang mencapai 18 juta untuk tempat yang biasa saja. Biasanya, masih ada biaya per bulan untuk perawatan dan lain-lain (menurut laporan Insert Investigasi belasan tahun lalu, biaya perawatan ini tidak berlaku di San Diego Hills). Untuk pemakaman di bukit, biasanya semakin tinggi letak kuburan, semakin tinggi juga harganya. Karena semakin dekat Surga katanya. Yah kalau letak kuburan menentukan orang masuk Surga, ngapain susah payah menjalankan keagamaan, ya kan?!

Kembali ke biaya, biaya lainnya adalah biaya EO duka (yang tahu istilah yang benar, komen di bawah), mobil jenazah, jajan, baju mayat, dan lainnya. Belum lagi pihak penyewa rumah duka tidak dibebaskan parkir, padahal kami harus bolak-balik rumah duka-rumah. Bayangkan berapa kali uang lima ribu rupiah yang terkorbankan. Ditambah, biasanya upacara duka ini berlasung setidaknya tiga hari sampai akhirnya sang jenazah dikuburkan.

Biaya kematian ini juga bervariasi tergantung agama dan adat. Tapi, apapun adat dan agamanya, kesamaannya adalah sama-sama mahal. Apalagi kepercayaan orang Tionghoa bilang kalau untuk acara orang meninggal, TIDAK BAIK UNTUK MENAWAR. Katanya akan menimbulkan marabahaya.

Sangking mahalnya biaya urusan kematian ini, setiap tamu atau pelayat yang datang bukannya mengungkapkan dukacita, tapi selalu bilang “bisnis orang mati ini enak, yo“. Bukannya sedih, tapi semua berandai-andai menjadi pemilik Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya).

Maka dari itu, saya mengimbau untuk Pembaca atau kawan Anda yang terpikirkan untuk bunuh diri dan menyerah akan hidup, renungkanlah ini! Keluarga Anda akan tertimba masalah yang besar. Bukan hanya ditinggal orang yang terkasih, namun kematian juga meninggalkan biaya fantastis bagi keluarga.

Maka dari itu, harta juga perlu dikumpulkan untuk bekal Anda meninggal. Bukan untuk dibawa ke Surga atau Neraka, tapi ya untuk upacara kematian Anda sendiri.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks