Sejumlah Latar Belakang Maraknya Jari-jari Tega 0 394

Oleh: Evelyn Tania*

Pernahkah Anda membaca hate comment saat menjelajahi internet? Pernahkah melihat seseorang menyerang orang lain atas perkataan atau komentar yang dibuat di internet? Saya yang belakangan ini baru saja mulai menyukai seleb K-pop sering melihat hal tersebut, dan saya merasa sangat sedih nan kecewa setiap kali melihat hal seperti ini terjadi.

Seringkali saat browsing video di YouTube, saya melihat komentar yang secara langsung menyerang orang-orang yang ada dalam video. Jangankan di YouTube, banyak orang meninggalkan hate comment pada kampanye Black Lives Matter yang maksudnya hanya ingin menyetarakan derajat sesama manusia. Padahal sudah beberapa kali terjadi peristiwa di mana hate comment mendorong si target kebencian menuju depresi dan bahkan bunuh diri.

Saya jadi berpikir, kenapa sih ada orang yang kurang kerjaan hingga membenci orang-orang yang tidak mereka kenal? Apa salah orang-orang di internet ini sampai memicu kebencian mereka? Tidak pernahkah mereka yang meninggalkan hate comment berpikir bagaimana komentar mereka akan mempengaruhi kepercayaan diri dan mental dari orang yang dituju? Atau jangan-jangan memang itu tujuannya?

Menurut saya pribadi, terdapat dua alasan utama yang menyebabkan orang-orang ini tega meninggalkan hate comment pada orang lain, yang seringnya kok ya lebih terkenal daripada mereka sendiri. Keduanya adalah kecemburuan terhadap mereka yang disukai banyak orang dan ketakutan atas perubahan yang dibawa orang-orang tersebut. Bagaimana kedua alasan tersebut memicu kebencian dalam diri, terutama terhadap mereka yang mungkin tidak akan ditemui langsung oleh hate commenters ini sepanjang hidup?

Kecemburuan, dari beberapa literatur yang pernah saya baca dan film populernya Mas Brad Pitt, adalah salah satu dari The Seven Deadly Sins, tujuh dosa utama yang sering dirasakan manusia. Bahasa sabrangnya “envy”.

Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keinginan. Saat satu keinginan telah terkabulkan, maka akan muncul keinginan yang baru. Begitu seterusnya. Saat kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki atau sesuatu yang kita inginkan, maka perasaan yang dinamakan kecemburuan ini akan muncul. Kita jadi menginginkan hal tersebut dari orang lain.

Menurut saya, para pemilik jari tega meninggalkan hate comment karena mereka melihat sosok yang disukai banyak orang dan cemburu karena mereka sendiri juga ingin populer. Rasa cemburu ini terkadang berubah menjadi kebencian, karena mereka tidak dapat mencapai keinginan tersebut, lalu ingin melampiaskannya kepada orang yang menimbulkan perasaan tersebut. Bisa juga malah terjadi karena cemburu oleh keberadaan seleb lain yang lebih terkenal dibandingkan seleb favorit mereka.

Di sisi lain, ketakutan juga dapat menimbulkan perasaan benci. ‘Humans fear the unknown’ adalah pepatah yang sering muncul dalam berbagai literatur terkait ketakutan manusia akan hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki standar ‘normal’ yang dicetuskan masyarakat dan diikuti dengan ketat. Bila terdapat perkembangan atau perubahan terhadap kenormalan tersebut, maka—tergantung dari perubahan yang terjadi—manusia dapat memiliki reaksi ekstrem.

Pemisalan yang dapat dilihat terkait reaksi manusia adalah dalam isu Black Lives Matter akhir-akhir ini. Selama ini, mayoritas dari orang Amerika berkulit putih berpegang pada kenormalan di mana mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam dan seluruh dunia. Meskipun mungkin ada yang tidak setuju atau tidak menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Dengan berkembangnya pengetahuan dan kesadaran sosial masyarakat, semakin banyak masyarakat dunia sudah tidak dapat menerima diskriminasi yang dialami oleh mereka yang berkulit hitam di Amerika. Mulailah bermunculan berbagai organisasi sosial dengan tujuan menyamakan derajat semua orang di Amerika.

Hal ini mengganggu kenormalan yang selama ini dipegang mayoritas warga Amerika. Mereka merasa takut terhadap kemungkinan bahwa kenormalan mereka akan mengalami perubahan. Sehingga muncul perasaan benci terhadap segala upaya yang dilakukan organisasi-organisasi sosial tersebut.

Perasaan benci yang telah timbul terkadang mereka rasa perlu diekspresikan, untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik. Bentuk ekspresi ini paling sering muncul dalam bentuk hate comment, karena adanya perlindungan anonimitas di sana. Selain itu, juga karena meninggalkan hate comment adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Sampai-sampai anak berusia 7 tahun juga dapat melakukannya (saya pernah melihatnya sendiri). Kedua hal tersebut memberikan kebebasan bagi manusia untuk melampiaskan kebencian mereka kepada orang-orang yang tidak bersalah, tanpa mempedulikan konsekuensi terhadap diri sendiri maupun si target.

Perasaan benci merupakan sesuatu yang telah menyebabkan banyak konflik dalam sejarah dunia. Kita perlu menyadari bahwa membiarkan perasaan benci menguasai hidup kita hanya akan membawa penderitaan bagi kita sendiri. Mungkin kita akan merasakan kesenangan sesaat saat melakukan tindakan yang didorong kebencian. Namun sesuai dengan hukum karma, kita akan menerima apa yang kita berikan kepada orang lain.

Setidaknya dalam konteks yang telah saya sampaikan dalam tulisan ini, beberapa hal yang harus disadari oleh kita adalah bahwa jika kita menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, kita seharusnya berjuang untuk memperoleh hal tersebut. Bukan malah membenci orang lain dan jadi terlewat untuk secara nyata memperjuangkan keinginan tersebut.

Hal lain yang dapat membantu adalah dengan membuka pemikiran kita terhadap segala sesuatu dan tidak memaksakan pemikiran kita dalam batas yang kaku. Dunia ini selalu berkembang dan berubah, dunia tidak akan berhenti apabila kita tidak dapat menerima perubahan. Dunia justru akan meninggalkan kita. Gitu, ghes

 

*) Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Bercita-cita sederhana: tak ada lagi kebencian di bumi ini.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks