Sejumlah Latar Belakang Maraknya Jari-jari Tega 0 118

Oleh: Evelyn Tania*

Pernahkah Anda membaca hate comment saat menjelajahi internet? Pernahkah melihat seseorang menyerang orang lain atas perkataan atau komentar yang dibuat di internet? Saya yang belakangan ini baru saja mulai menyukai seleb K-pop sering melihat hal tersebut, dan saya merasa sangat sedih nan kecewa setiap kali melihat hal seperti ini terjadi.

Seringkali saat browsing video di YouTube, saya melihat komentar yang secara langsung menyerang orang-orang yang ada dalam video. Jangankan di YouTube, banyak orang meninggalkan hate comment pada kampanye Black Lives Matter yang maksudnya hanya ingin menyetarakan derajat sesama manusia. Padahal sudah beberapa kali terjadi peristiwa di mana hate comment mendorong si target kebencian menuju depresi dan bahkan bunuh diri.

Saya jadi berpikir, kenapa sih ada orang yang kurang kerjaan hingga membenci orang-orang yang tidak mereka kenal? Apa salah orang-orang di internet ini sampai memicu kebencian mereka? Tidak pernahkah mereka yang meninggalkan hate comment berpikir bagaimana komentar mereka akan mempengaruhi kepercayaan diri dan mental dari orang yang dituju? Atau jangan-jangan memang itu tujuannya?

Menurut saya pribadi, terdapat dua alasan utama yang menyebabkan orang-orang ini tega meninggalkan hate comment pada orang lain, yang seringnya kok ya lebih terkenal daripada mereka sendiri. Keduanya adalah kecemburuan terhadap mereka yang disukai banyak orang dan ketakutan atas perubahan yang dibawa orang-orang tersebut. Bagaimana kedua alasan tersebut memicu kebencian dalam diri, terutama terhadap mereka yang mungkin tidak akan ditemui langsung oleh hate commenters ini sepanjang hidup?

Kecemburuan, dari beberapa literatur yang pernah saya baca dan film populernya Mas Brad Pitt, adalah salah satu dari The Seven Deadly Sins, tujuh dosa utama yang sering dirasakan manusia. Bahasa sabrangnya “envy”.

Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keinginan. Saat satu keinginan telah terkabulkan, maka akan muncul keinginan yang baru. Begitu seterusnya. Saat kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki atau sesuatu yang kita inginkan, maka perasaan yang dinamakan kecemburuan ini akan muncul. Kita jadi menginginkan hal tersebut dari orang lain.

Menurut saya, para pemilik jari tega meninggalkan hate comment karena mereka melihat sosok yang disukai banyak orang dan cemburu karena mereka sendiri juga ingin populer. Rasa cemburu ini terkadang berubah menjadi kebencian, karena mereka tidak dapat mencapai keinginan tersebut, lalu ingin melampiaskannya kepada orang yang menimbulkan perasaan tersebut. Bisa juga malah terjadi karena cemburu oleh keberadaan seleb lain yang lebih terkenal dibandingkan seleb favorit mereka.

Di sisi lain, ketakutan juga dapat menimbulkan perasaan benci. ‘Humans fear the unknown’ adalah pepatah yang sering muncul dalam berbagai literatur terkait ketakutan manusia akan hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki standar ‘normal’ yang dicetuskan masyarakat dan diikuti dengan ketat. Bila terdapat perkembangan atau perubahan terhadap kenormalan tersebut, maka—tergantung dari perubahan yang terjadi—manusia dapat memiliki reaksi ekstrem.

Pemisalan yang dapat dilihat terkait reaksi manusia adalah dalam isu Black Lives Matter akhir-akhir ini. Selama ini, mayoritas dari orang Amerika berkulit putih berpegang pada kenormalan di mana mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam dan seluruh dunia. Meskipun mungkin ada yang tidak setuju atau tidak menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Dengan berkembangnya pengetahuan dan kesadaran sosial masyarakat, semakin banyak masyarakat dunia sudah tidak dapat menerima diskriminasi yang dialami oleh mereka yang berkulit hitam di Amerika. Mulailah bermunculan berbagai organisasi sosial dengan tujuan menyamakan derajat semua orang di Amerika.

Hal ini mengganggu kenormalan yang selama ini dipegang mayoritas warga Amerika. Mereka merasa takut terhadap kemungkinan bahwa kenormalan mereka akan mengalami perubahan. Sehingga muncul perasaan benci terhadap segala upaya yang dilakukan organisasi-organisasi sosial tersebut.

Perasaan benci yang telah timbul terkadang mereka rasa perlu diekspresikan, untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik. Bentuk ekspresi ini paling sering muncul dalam bentuk hate comment, karena adanya perlindungan anonimitas di sana. Selain itu, juga karena meninggalkan hate comment adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Sampai-sampai anak berusia 7 tahun juga dapat melakukannya (saya pernah melihatnya sendiri). Kedua hal tersebut memberikan kebebasan bagi manusia untuk melampiaskan kebencian mereka kepada orang-orang yang tidak bersalah, tanpa mempedulikan konsekuensi terhadap diri sendiri maupun si target.

Perasaan benci merupakan sesuatu yang telah menyebabkan banyak konflik dalam sejarah dunia. Kita perlu menyadari bahwa membiarkan perasaan benci menguasai hidup kita hanya akan membawa penderitaan bagi kita sendiri. Mungkin kita akan merasakan kesenangan sesaat saat melakukan tindakan yang didorong kebencian. Namun sesuai dengan hukum karma, kita akan menerima apa yang kita berikan kepada orang lain.

Setidaknya dalam konteks yang telah saya sampaikan dalam tulisan ini, beberapa hal yang harus disadari oleh kita adalah bahwa jika kita menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, kita seharusnya berjuang untuk memperoleh hal tersebut. Bukan malah membenci orang lain dan jadi terlewat untuk secara nyata memperjuangkan keinginan tersebut.

Hal lain yang dapat membantu adalah dengan membuka pemikiran kita terhadap segala sesuatu dan tidak memaksakan pemikiran kita dalam batas yang kaku. Dunia ini selalu berkembang dan berubah, dunia tidak akan berhenti apabila kita tidak dapat menerima perubahan. Dunia justru akan meninggalkan kita. Gitu, ghes

 

*) Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Bercita-cita sederhana: tak ada lagi kebencian di bumi ini.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 83

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 99

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks