Tragedi Webinar Mr. Blukutuk dan Para Pemuja Sertifikat Online 0 122

Mr. Blukutuk menghela napas panjang. Jari telunjuknya meluncur di atas trackpad, menutup jendela browser di hadapannya. Layar laptopnya kembali menampilkan desktop­­­-nya ceria nan meriah, warna-warni kotoran kucing virtual berjuluk Nyan Cat. Wallpaper ini ampuh membuatnya tersenyum geli sesaat walaupun sedang galau betul.

Ia baru saja meninggalkan sebuah online workshop. Bukan sebagai host alias pembawa acara, melainkan sebagai pengajar fasilitator.

Dengan usia yang sudah hampir kepala lima, ia sering dipuja karena dianggap gaul, nggak gaptek, cepat sekali apdet dengan aplikasi ponsel baru yang populer di kalangan anak muda, termasuk ber-Zum-dan-Gugelmit-ria, yang mendadak beken di tengah pandemi.

Sebagai ilustrator cukup ternama, Mr. Blukutuk merasa dirinya beruntung. Di masa pandemi, harus diakui pendapatannya telah jauh berkurang. Sejumlah universitas, tempat ia mengajar sebagai dosen luar biasa, meniadakan sama sekali kelas ilustrasi dengan tatap muka, berubah bentuk menjadi daring. Demikian pula tempat-tempat kursus yang menyewa jasanya untuk mengajar, berhenti beroperasi sementara.

Ia maklum. Kelas ilustrasi yang efektif memang mengutamakan interaksi aktif antara pengajar dan muridnya, karena ada proses koreksi, penggambaran sudut ruang dan objek, demonstrasi ekspresi, de-el-el.

Mr. Blukutuk agak menyesal tidak giat menjaga hubungan baik dengan stakeholder pontensial selain di bidang pengajaran ilustrasi. Seperti portal berita online, perintis bisnis start-up, dan terutama lagi ruang kolaborasi online yang entah kenapa selalu punya nama-nama beken semi-puitis. Merekalah yang kini gencar membuat konten online variatif, terutama di media sosial.

Tapi Mr. Blukutuk sendiri, sebagai dirinya yang idealis dan sadar usia, agak wegah juga kalau sampai harus bekerja dengan tiga bidang itu. Dia merasa emoh aja gitu sama apa-apa yang kelihatan cuma bisa ngebut dalam satu sampai pol-pol-an tiga tahun, lalu hilang tak berbau. Beberapa orang memuji prinsipnya itu, sisanya menyebut dia kolot.

Nggak apa-apa. Toh, masih banyak ilustrator muda yang keren, lebih edgy, dan mampu mengikuti tingginya kecepatan kerja masa kini. Mr. Blukutuk sendiri lebih suka kerja dengan jam produksi yang manusiawi jelas.

Sesekali ia menerima orderan ilustrasi untuk iklan media, hanya jika proses kerjanya tidak mengganggu jam tidurnya. Mr. Blukutuk nggak akan kuat melekan semalaman demi menuruti revisi klien DUA JAM sebelum deadline. Kabarnya sih, sekarang makin banyak model klien seperti itu.

Kalau permintaan revisi ditolak, si klien akan merayu-rayu. Bahkan, dengan pasif-agresif: “Ayolah, kami ini brand tenar, lho. Kalau memuaskan, kami bisa rekomendasikan Anda pada brand-brand lain. Masa untuk satu revisi saja Anda mempertaruhkan masa depan karir?”

Biasanya, Mr. Blukutuk jadi salting jika kena pertanyaan seperti itu. Makanya sebaiknya menghindar saja, walau bisa jadi cuan-nya gedhe. Alhasil, karirnya justru menanjak sebagai mentor atau guru ilustrasi. Baginya, lebih menyenangkan seperti ini.

Untungnya, di masa pandemi, usaha-usaha rumah tangga tumbuh pating mbrubul bagai jamur. Mr. Blukutuk hampir tidak berhenti menggarap logo merek-merek kecil, label untuk packaging, juga brosur. Kebanyakan untuk bisnis makanan atau snack online. Jadi desainnya sederhana saja, tidak harus estetik dan bergaya vintage atau retro. Lumayan, kadang dapat icip-icip gratis.

Kembali soal Zoominar, seminggu yang lalu, Mr. Blukutuk ditawari jadi fasilitator oleh seorang anak muda, yang memperkenalkan diri sebagai founder komunitas bernama ‘Generasi Cita Indonesia’. Pemuda ini dengan penuh kebanggaan menceritakan visi komunitasnya, yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan berdaya-saing tinggi; dengan mengembangkan soft skill, salah satunya dengan belajar menggambar.

Mr. Blukutuk sempat agak curiga dengan nama dan visi komunitas yang agak absurd. Tapi, ia merasa tenang setelah melihat komunitas ini punya lebih dari 4.000 followers di Instagram. Feeds-nya juga penuh dengan poster dan dokumentasi acara lain yang nampak seperti kelas-kelas edukasi.

Maka, segala hal menyangkut materi dan teknis workshop pun disepakati hari itu juga. Mr. Blukutuk sempat agak kehilangan mood ketika diberitahu bahwa komunitas ini ternyata tidak menyiapkan budget untuk honornya mengajar, dengan dalih workshop ini gratis buat para pesertanya. Katanya, kalau ada honor pengajar, otomatis workshop akan berbayar, dan nanti nggak ada yang mau ikut.

Hampir saja Mr. Blukutuk mengurungkan kesediaannya. Tapi ia lalu menenangkan diri dan berusaha menyampaikan secara baik-baik, bahwa meski ilmu adalah hak semua orang, ia juga butuh makan dan bayar listrik. Komunitas tersebut akhirnya setuju. Walau menurut Mr. Blukutuk, bila membandingkan dengan level materi yang diajarkan, nominal yang disepakati lumayan tidak berakhlak. Workshop tetap gratis.

Hari H pun tiba. Acara molor setengah jam karena peserta tidak kunjung bergabung. Padahal formulir pendaftaran yang dibatasi untuk 50 orang sudah terisi penuh. Akhirnya acara dimulai dengan peserta seadanya.

Dari seluruh peserta, tidak sampai 10 yang mengaktifkan kamera video. Padahal sudah ditulis di poster publikasi, bahwa Mr. Blukutuk akan secara aktif memperhatikan proses peserta saat menggambar dan memberi tanggapan. Host acara pun telah berulang kali mengingatkan. Namun kotak-kotak hitam tetap mendominasi layar.

Sampai akhir acara, total hanya 28 peserta bergabung. Entah ke mana sisanya. Acara jadi super garing karena yang aktif memberi pertanyaan cuma host. Lainnya diam tak bersuara. Yah, setidaknya Mr. Blukutuk cukup puas melihat 10 peserta yang menunjukkan hasil gambar mereka di akhir. Acara ditutup dengan screenshot layar foto bersama.

Tak lama kemudian, ponsel pintar Mr. Blukutuk tiba-tiba berbunyi beberapa kali, notifikasi chat baru dari grup WA workshop barusan. Grup ini awalnya dibuat oleh komunitas penyelenggara untuk mem-broadcast alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan peserta sehari sebelum workshop.

Kekesalannya memuncak kala melihat isi-isi pesan yang dikirimkan para peserta.

“Acara ini ada sertifnya kan, Kak? Sertifikatnya kapan dibagikan ya?”

“Makasiiih Pak Blukutuk masterrrr!!! Miiin, sertifnya dikirim lewat apaa nantii???”

Sial! Setelah sebegitu besar effort-nya menjabarkan teori, mencoret kertas dengan badan menekuk-nekuk demi tidak menghalangi kamera, serta menjelaskan teknik tiap guratan tinta, ternyata yang paling ditunggu adalah sertifikat elektronik!

Mengapa, anak-anak muda ini tidak bersemangat memanfaatkan acara ini sebagai kesempatan mengembangkan diri? Atau ada yang salah dengan caranya membawakan materi? Mungkinkah wawasan dan jejak karya yang dimilikinya sudah tidak relevan lagi?

Ia teringat teman-temannya, para dosen dan pekerja profesional, yang sudah duluan jadi narasumber untuk beragam topik webinar. Kesemuanya pernah bertanya-tanya tentang acara mereka yang sepi antusiasme. Sebelumnya ia selalu membalas asal dengan mengatakan ‘Ah, mungkin cuma kebetulan,’ atau ‘Sabar, mungkin banyak peserta yang koneksinya nggak lancar’. Tapi, ia pun akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri. Miris!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 83

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 99

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks