Tragedi Webinar Mr. Blukutuk dan Para Pemuja Sertifikat Online 0 451

Mr. Blukutuk menghela napas panjang. Jari telunjuknya meluncur di atas trackpad, menutup jendela browser di hadapannya. Layar laptopnya kembali menampilkan desktop­­­-nya ceria nan meriah, warna-warni kotoran kucing virtual berjuluk Nyan Cat. Wallpaper ini ampuh membuatnya tersenyum geli sesaat walaupun sedang galau betul.

Ia baru saja meninggalkan sebuah online workshop. Bukan sebagai host alias pembawa acara, melainkan sebagai pengajar fasilitator.

Dengan usia yang sudah hampir kepala lima, ia sering dipuja karena dianggap gaul, nggak gaptek, cepat sekali apdet dengan aplikasi ponsel baru yang populer di kalangan anak muda, termasuk ber-Zum-dan-Gugelmit-ria, yang mendadak beken di tengah pandemi.

Sebagai ilustrator cukup ternama, Mr. Blukutuk merasa dirinya beruntung. Di masa pandemi, harus diakui pendapatannya telah jauh berkurang. Sejumlah universitas, tempat ia mengajar sebagai dosen luar biasa, meniadakan sama sekali kelas ilustrasi dengan tatap muka, berubah bentuk menjadi daring. Demikian pula tempat-tempat kursus yang menyewa jasanya untuk mengajar, berhenti beroperasi sementara.

Ia maklum. Kelas ilustrasi yang efektif memang mengutamakan interaksi aktif antara pengajar dan muridnya, karena ada proses koreksi, penggambaran sudut ruang dan objek, demonstrasi ekspresi, de-el-el.

Mr. Blukutuk agak menyesal tidak giat menjaga hubungan baik dengan stakeholder pontensial selain di bidang pengajaran ilustrasi. Seperti portal berita online, perintis bisnis start-up, dan terutama lagi ruang kolaborasi online yang entah kenapa selalu punya nama-nama beken semi-puitis. Merekalah yang kini gencar membuat konten online variatif, terutama di media sosial.

Tapi Mr. Blukutuk sendiri, sebagai dirinya yang idealis dan sadar usia, agak wegah juga kalau sampai harus bekerja dengan tiga bidang itu. Dia merasa emoh aja gitu sama apa-apa yang kelihatan cuma bisa ngebut dalam satu sampai pol-pol-an tiga tahun, lalu hilang tak berbau. Beberapa orang memuji prinsipnya itu, sisanya menyebut dia kolot.

Nggak apa-apa. Toh, masih banyak ilustrator muda yang keren, lebih edgy, dan mampu mengikuti tingginya kecepatan kerja masa kini. Mr. Blukutuk sendiri lebih suka kerja dengan jam produksi yang manusiawi jelas.

Sesekali ia menerima orderan ilustrasi untuk iklan media, hanya jika proses kerjanya tidak mengganggu jam tidurnya. Mr. Blukutuk nggak akan kuat melekan semalaman demi menuruti revisi klien DUA JAM sebelum deadline. Kabarnya sih, sekarang makin banyak model klien seperti itu.

Kalau permintaan revisi ditolak, si klien akan merayu-rayu. Bahkan, dengan pasif-agresif: “Ayolah, kami ini brand tenar, lho. Kalau memuaskan, kami bisa rekomendasikan Anda pada brand-brand lain. Masa untuk satu revisi saja Anda mempertaruhkan masa depan karir?”

Biasanya, Mr. Blukutuk jadi salting jika kena pertanyaan seperti itu. Makanya sebaiknya menghindar saja, walau bisa jadi cuan-nya gedhe. Alhasil, karirnya justru menanjak sebagai mentor atau guru ilustrasi. Baginya, lebih menyenangkan seperti ini.

Untungnya, di masa pandemi, usaha-usaha rumah tangga tumbuh pating mbrubul bagai jamur. Mr. Blukutuk hampir tidak berhenti menggarap logo merek-merek kecil, label untuk packaging, juga brosur. Kebanyakan untuk bisnis makanan atau snack online. Jadi desainnya sederhana saja, tidak harus estetik dan bergaya vintage atau retro. Lumayan, kadang dapat icip-icip gratis.

Kembali soal Zoominar, seminggu yang lalu, Mr. Blukutuk ditawari jadi fasilitator oleh seorang anak muda, yang memperkenalkan diri sebagai founder komunitas bernama ‘Generasi Cita Indonesia’. Pemuda ini dengan penuh kebanggaan menceritakan visi komunitasnya, yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan berdaya-saing tinggi; dengan mengembangkan soft skill, salah satunya dengan belajar menggambar.

Mr. Blukutuk sempat agak curiga dengan nama dan visi komunitas yang agak absurd. Tapi, ia merasa tenang setelah melihat komunitas ini punya lebih dari 4.000 followers di Instagram. Feeds-nya juga penuh dengan poster dan dokumentasi acara lain yang nampak seperti kelas-kelas edukasi.

Maka, segala hal menyangkut materi dan teknis workshop pun disepakati hari itu juga. Mr. Blukutuk sempat agak kehilangan mood ketika diberitahu bahwa komunitas ini ternyata tidak menyiapkan budget untuk honornya mengajar, dengan dalih workshop ini gratis buat para pesertanya. Katanya, kalau ada honor pengajar, otomatis workshop akan berbayar, dan nanti nggak ada yang mau ikut.

Hampir saja Mr. Blukutuk mengurungkan kesediaannya. Tapi ia lalu menenangkan diri dan berusaha menyampaikan secara baik-baik, bahwa meski ilmu adalah hak semua orang, ia juga butuh makan dan bayar listrik. Komunitas tersebut akhirnya setuju. Walau menurut Mr. Blukutuk, bila membandingkan dengan level materi yang diajarkan, nominal yang disepakati lumayan tidak berakhlak. Workshop tetap gratis.

Hari H pun tiba. Acara molor setengah jam karena peserta tidak kunjung bergabung. Padahal formulir pendaftaran yang dibatasi untuk 50 orang sudah terisi penuh. Akhirnya acara dimulai dengan peserta seadanya.

Dari seluruh peserta, tidak sampai 10 yang mengaktifkan kamera video. Padahal sudah ditulis di poster publikasi, bahwa Mr. Blukutuk akan secara aktif memperhatikan proses peserta saat menggambar dan memberi tanggapan. Host acara pun telah berulang kali mengingatkan. Namun kotak-kotak hitam tetap mendominasi layar.

Sampai akhir acara, total hanya 28 peserta bergabung. Entah ke mana sisanya. Acara jadi super garing karena yang aktif memberi pertanyaan cuma host. Lainnya diam tak bersuara. Yah, setidaknya Mr. Blukutuk cukup puas melihat 10 peserta yang menunjukkan hasil gambar mereka di akhir. Acara ditutup dengan screenshot layar foto bersama.

Tak lama kemudian, ponsel pintar Mr. Blukutuk tiba-tiba berbunyi beberapa kali, notifikasi chat baru dari grup WA workshop barusan. Grup ini awalnya dibuat oleh komunitas penyelenggara untuk mem-broadcast alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan peserta sehari sebelum workshop.

Kekesalannya memuncak kala melihat isi-isi pesan yang dikirimkan para peserta.

“Acara ini ada sertifnya kan, Kak? Sertifikatnya kapan dibagikan ya?”

“Makasiiih Pak Blukutuk masterrrr!!! Miiin, sertifnya dikirim lewat apaa nantii???”

Sial! Setelah sebegitu besar effort-nya menjabarkan teori, mencoret kertas dengan badan menekuk-nekuk demi tidak menghalangi kamera, serta menjelaskan teknik tiap guratan tinta, ternyata yang paling ditunggu adalah sertifikat elektronik!

Mengapa, anak-anak muda ini tidak bersemangat memanfaatkan acara ini sebagai kesempatan mengembangkan diri? Atau ada yang salah dengan caranya membawakan materi? Mungkinkah wawasan dan jejak karya yang dimilikinya sudah tidak relevan lagi?

Ia teringat teman-temannya, para dosen dan pekerja profesional, yang sudah duluan jadi narasumber untuk beragam topik webinar. Kesemuanya pernah bertanya-tanya tentang acara mereka yang sepi antusiasme. Sebelumnya ia selalu membalas asal dengan mengatakan ‘Ah, mungkin cuma kebetulan,’ atau ‘Sabar, mungkin banyak peserta yang koneksinya nggak lancar’. Tapi, ia pun akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri. Miris!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks