Tragedi Webinar Mr. Blukutuk dan Para Pemuja Sertifikat Online 0 325

Mr. Blukutuk menghela napas panjang. Jari telunjuknya meluncur di atas trackpad, menutup jendela browser di hadapannya. Layar laptopnya kembali menampilkan desktop­­­-nya ceria nan meriah, warna-warni kotoran kucing virtual berjuluk Nyan Cat. Wallpaper ini ampuh membuatnya tersenyum geli sesaat walaupun sedang galau betul.

Ia baru saja meninggalkan sebuah online workshop. Bukan sebagai host alias pembawa acara, melainkan sebagai pengajar fasilitator.

Dengan usia yang sudah hampir kepala lima, ia sering dipuja karena dianggap gaul, nggak gaptek, cepat sekali apdet dengan aplikasi ponsel baru yang populer di kalangan anak muda, termasuk ber-Zum-dan-Gugelmit-ria, yang mendadak beken di tengah pandemi.

Sebagai ilustrator cukup ternama, Mr. Blukutuk merasa dirinya beruntung. Di masa pandemi, harus diakui pendapatannya telah jauh berkurang. Sejumlah universitas, tempat ia mengajar sebagai dosen luar biasa, meniadakan sama sekali kelas ilustrasi dengan tatap muka, berubah bentuk menjadi daring. Demikian pula tempat-tempat kursus yang menyewa jasanya untuk mengajar, berhenti beroperasi sementara.

Ia maklum. Kelas ilustrasi yang efektif memang mengutamakan interaksi aktif antara pengajar dan muridnya, karena ada proses koreksi, penggambaran sudut ruang dan objek, demonstrasi ekspresi, de-el-el.

Mr. Blukutuk agak menyesal tidak giat menjaga hubungan baik dengan stakeholder pontensial selain di bidang pengajaran ilustrasi. Seperti portal berita online, perintis bisnis start-up, dan terutama lagi ruang kolaborasi online yang entah kenapa selalu punya nama-nama beken semi-puitis. Merekalah yang kini gencar membuat konten online variatif, terutama di media sosial.

Tapi Mr. Blukutuk sendiri, sebagai dirinya yang idealis dan sadar usia, agak wegah juga kalau sampai harus bekerja dengan tiga bidang itu. Dia merasa emoh aja gitu sama apa-apa yang kelihatan cuma bisa ngebut dalam satu sampai pol-pol-an tiga tahun, lalu hilang tak berbau. Beberapa orang memuji prinsipnya itu, sisanya menyebut dia kolot.

Nggak apa-apa. Toh, masih banyak ilustrator muda yang keren, lebih edgy, dan mampu mengikuti tingginya kecepatan kerja masa kini. Mr. Blukutuk sendiri lebih suka kerja dengan jam produksi yang manusiawi jelas.

Sesekali ia menerima orderan ilustrasi untuk iklan media, hanya jika proses kerjanya tidak mengganggu jam tidurnya. Mr. Blukutuk nggak akan kuat melekan semalaman demi menuruti revisi klien DUA JAM sebelum deadline. Kabarnya sih, sekarang makin banyak model klien seperti itu.

Kalau permintaan revisi ditolak, si klien akan merayu-rayu. Bahkan, dengan pasif-agresif: “Ayolah, kami ini brand tenar, lho. Kalau memuaskan, kami bisa rekomendasikan Anda pada brand-brand lain. Masa untuk satu revisi saja Anda mempertaruhkan masa depan karir?”

Biasanya, Mr. Blukutuk jadi salting jika kena pertanyaan seperti itu. Makanya sebaiknya menghindar saja, walau bisa jadi cuan-nya gedhe. Alhasil, karirnya justru menanjak sebagai mentor atau guru ilustrasi. Baginya, lebih menyenangkan seperti ini.

Untungnya, di masa pandemi, usaha-usaha rumah tangga tumbuh pating mbrubul bagai jamur. Mr. Blukutuk hampir tidak berhenti menggarap logo merek-merek kecil, label untuk packaging, juga brosur. Kebanyakan untuk bisnis makanan atau snack online. Jadi desainnya sederhana saja, tidak harus estetik dan bergaya vintage atau retro. Lumayan, kadang dapat icip-icip gratis.

Kembali soal Zoominar, seminggu yang lalu, Mr. Blukutuk ditawari jadi fasilitator oleh seorang anak muda, yang memperkenalkan diri sebagai founder komunitas bernama ‘Generasi Cita Indonesia’. Pemuda ini dengan penuh kebanggaan menceritakan visi komunitasnya, yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan berdaya-saing tinggi; dengan mengembangkan soft skill, salah satunya dengan belajar menggambar.

Mr. Blukutuk sempat agak curiga dengan nama dan visi komunitas yang agak absurd. Tapi, ia merasa tenang setelah melihat komunitas ini punya lebih dari 4.000 followers di Instagram. Feeds-nya juga penuh dengan poster dan dokumentasi acara lain yang nampak seperti kelas-kelas edukasi.

Maka, segala hal menyangkut materi dan teknis workshop pun disepakati hari itu juga. Mr. Blukutuk sempat agak kehilangan mood ketika diberitahu bahwa komunitas ini ternyata tidak menyiapkan budget untuk honornya mengajar, dengan dalih workshop ini gratis buat para pesertanya. Katanya, kalau ada honor pengajar, otomatis workshop akan berbayar, dan nanti nggak ada yang mau ikut.

Hampir saja Mr. Blukutuk mengurungkan kesediaannya. Tapi ia lalu menenangkan diri dan berusaha menyampaikan secara baik-baik, bahwa meski ilmu adalah hak semua orang, ia juga butuh makan dan bayar listrik. Komunitas tersebut akhirnya setuju. Walau menurut Mr. Blukutuk, bila membandingkan dengan level materi yang diajarkan, nominal yang disepakati lumayan tidak berakhlak. Workshop tetap gratis.

Hari H pun tiba. Acara molor setengah jam karena peserta tidak kunjung bergabung. Padahal formulir pendaftaran yang dibatasi untuk 50 orang sudah terisi penuh. Akhirnya acara dimulai dengan peserta seadanya.

Dari seluruh peserta, tidak sampai 10 yang mengaktifkan kamera video. Padahal sudah ditulis di poster publikasi, bahwa Mr. Blukutuk akan secara aktif memperhatikan proses peserta saat menggambar dan memberi tanggapan. Host acara pun telah berulang kali mengingatkan. Namun kotak-kotak hitam tetap mendominasi layar.

Sampai akhir acara, total hanya 28 peserta bergabung. Entah ke mana sisanya. Acara jadi super garing karena yang aktif memberi pertanyaan cuma host. Lainnya diam tak bersuara. Yah, setidaknya Mr. Blukutuk cukup puas melihat 10 peserta yang menunjukkan hasil gambar mereka di akhir. Acara ditutup dengan screenshot layar foto bersama.

Tak lama kemudian, ponsel pintar Mr. Blukutuk tiba-tiba berbunyi beberapa kali, notifikasi chat baru dari grup WA workshop barusan. Grup ini awalnya dibuat oleh komunitas penyelenggara untuk mem-broadcast alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan peserta sehari sebelum workshop.

Kekesalannya memuncak kala melihat isi-isi pesan yang dikirimkan para peserta.

“Acara ini ada sertifnya kan, Kak? Sertifikatnya kapan dibagikan ya?”

“Makasiiih Pak Blukutuk masterrrr!!! Miiin, sertifnya dikirim lewat apaa nantii???”

Sial! Setelah sebegitu besar effort-nya menjabarkan teori, mencoret kertas dengan badan menekuk-nekuk demi tidak menghalangi kamera, serta menjelaskan teknik tiap guratan tinta, ternyata yang paling ditunggu adalah sertifikat elektronik!

Mengapa, anak-anak muda ini tidak bersemangat memanfaatkan acara ini sebagai kesempatan mengembangkan diri? Atau ada yang salah dengan caranya membawakan materi? Mungkinkah wawasan dan jejak karya yang dimilikinya sudah tidak relevan lagi?

Ia teringat teman-temannya, para dosen dan pekerja profesional, yang sudah duluan jadi narasumber untuk beragam topik webinar. Kesemuanya pernah bertanya-tanya tentang acara mereka yang sepi antusiasme. Sebelumnya ia selalu membalas asal dengan mengatakan ‘Ah, mungkin cuma kebetulan,’ atau ‘Sabar, mungkin banyak peserta yang koneksinya nggak lancar’. Tapi, ia pun akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri. Miris!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 398

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 199

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks