Film Tilik dan Perdebatan Eksistensi Wanita 0 987

Film ini sebetulnya sederhana saja. Dalam 32 menit, alur ceritanya adalah dialog ibu-ibu di atas truk dalam perjalanan dari desa ke kota. Tujuan truk itu juga sederhana: tilik atau menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit keras di rumah sakit.

Bu Tejo, tokoh sentral dalam cerita itu, mendadak jadi idola arek-arek. Namanya disebut di banyak percakapan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kemunculannya di film “Tilik” viral dan ada banyak influencer yang mempromosikannya di media sosial. Padahal karya garapan Ravacana Films ini sudah diproduksi 2018 lalu.

Bagaimana tidak, kemampuan akting Siti Fauziah sebagai pemeran utama Bu Tejo ini memang sangat memukau. Ekspresi wajah dan gestur tubuhnya sangat mewakili betapa nyinyire emak-emak kampung, yang tidak pernah lelah membahas A-Z urusan orang lain.

Film ini lantas mengulik emosi penonton, akibat tema ceritanya yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan itu mungkin jauh dan menyusahkan. Harus berdiri di atas truk, tergoncang karena jalanan yang tidak rata, masuk angin, sampai harus menunduk ketika melewati pos polisi biar tidak ditilang. Tapi, perjalanan yang melelahkan itu tak sebanding dengan betapa asyiknya gibah rumah tangga tetangga.

Mungkin, premis cerita inilah yang kemudian berhasil menyihir penonton dan khalayak ramai, sampai mengeluarkan quote yg kini makin lacur penggunaannya: “kita semua adalah Bu Tejo ketika lagi gibah”. Artinya, akting Bu Tejo sebagai tokoh sentral dan keseluruhan jalan cerita Tilik ini mampu membuat penonton melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Membuat penonton merasa “aku juga kayak gitu kalau gosip, mulutnya jahat banget”.

Menurut hemat penulis, sineas sudah berhasil mencapai tujuan terwahid dari penciptaan karya: membuat penikmatnya merenung, berpikir, dan berfantasi dalam batinnya.

Tapi, sebagaimana karya, kan gak semuanya mengilhami cerita seperti yang saya tanggapi. Tak selamanya film Tilik banjir pujian. Lah wong pada dasarnya kita ini berasal dari beragam latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda-beda. Tentu cara memandang dan menikmati karya juga beda selera.

Baru-baru ini, ada seorang mas-mas yang berkomentar atas buruknya kualitas ending film Tilik. Ia menganggap film Tilik gagal mengajarkan moral value, malah mendukung stigma perempuan tukang gosip, dan abai memberi solusi.

Bukan media sosial namanya kalau pendapat seperti mas ini tidak di-counter. Pendapat yang “lain” dari arus yang memuja-muja kemampuan sinematik dan konten cerita Tilik, langsung dibalasi netijen secara kompak.

Bagi netijen yang kontra dengan pendapat si mas-mas dengan akun Twitter @RoryAsyari ini mengatakan, bukan tugas film untuk mengajarkan nilai moral. Ada yang menghujat mungkin Mas Rory gak ngerti gaya bercerita satire. Ada pula yang menyuruh sebaiknya Mas Rory ini nonton film azab Ind*siar yang pesan moral agama dan sosialnya jelas.

Kali ini, saya, penulis, harus agak setuju dengan kebanyakan netijen itu. Mas Rory perlu tahu, bahwa Wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara hanya bercita-cita sederhana, menampilkan tradisi tilik di pedesaan. Warga perkampungan layaknya begitu, kerjasama menyewa kendaraan apapun –sekalipun truk pengangkut pasir – yang penting slamet sampai tujuan.

Mas Rory perlu tahu, kalau sekelompok ibu-ibu yang melakukan perjalanan dengan truk itu ibaratnya juga jalan hidup kita. Kadang suka, kadang duka. Kadang bisa bekerjasama antar-wanita, saling mengumpulkan uang, dijadikan satu amplop, agar ada “cindera mata” yang bisa dibawa untuk meringankan beban orang yang sedang ditiliki. Kadang gosip bareng, di mana bahan pembicaraan itu bisa menyatukan, tapi bisa juga bikin baper dan bikin gontok-gontokan.

Realita-realita ini ditangkap, diterjemahkan, dan digambarkan melalui serangkaian karya audio visual. Apa adanya, dengan sedikit sentuhan hiperbola tentu saja demi kebutuhan dramatisasi.

Mas Rory perlu tahu, memang ada sejuta sudut pandang yang bisa digambarkan pekerja seni untuk menggambarkan wanita. Mulai dari lukisan tubuh wanita karya pelukis-pelukis handal dunia, sampai karya film pendek festival macem Tilik.

Di Tilik, ada beragam perempuan yang coba digambarkan. Perempuan single dan punya jabatan macam Bu Lurah, yang dianggap hidupnya tak proporsional, yang dipandang penyebab penyakitnya adalah karena ulah suaminya ataupun ketidakmampuannya sebagai seorang wanita menjalani hidup.

Atau perempuan single, muda, pandai, dan memiliki karir baik, yang tak segera kunjung menikah dan kepergok jalan-jalan dengan om-om, pria yang jauh lebih tua. Yang otomatis dipandang sebelah mata, dianggap perempuan gak bener, atau pelakor macem drama koriyah yang populer itu.

Ada pilihan-pilihan hidup wanita yang dikenai standar ganda. Perempuan harus kuat, berkarya, punya karir baik, tapi juga harus santun, mengurusi keluarga, dan tak bebas dari stigma masyarakat atas kemerdekaan pilihan hidupnya sendiri.

Masih ada buanyak hal yang bisa diangkat dari sisi hidup wanita. Belum lagi sisi perempuan yang diberi kemampuan psikologis tersendiri oleh Tuhan: perhatian akan hal-hal detil.

Nih contoh aja ya, warung kelontong di sebelah kos saya dulu pegawainya mas-mas, barangnya gak pernah lengkap. Mau nyari margarin, habis. Nyari telur, kosong. Nyari air mineral dengan merek selain Aq*a biar gak mahal, dibilang belum dikirim sama distributor. Ada saja alasannya. Tapi sekarang, begitu ada mbak-mbak yang jadi penjaga toko, barang di warung selalu lengkap, bahkan bertambah variasinya. Kulkas isi minuman dingin sekarang jauh lebih bewarna. Dan aneka menu es krim Aic* juga lengkap tersedia di freezer.

Cerita kecil yang nyata dan ada di kehidupan sekitar kita tentang wanita. Kalau segi wanita yang ini, sepertinya belum ada yang bikin filmnya. Mungkin ada sineas yang tertarik? Saya volunteer jadi penyumbang ide cerita nih!

Hal lain yang mungkin terlewat diulas: film ini didanai Dinas Kebudayaan DIY. Ini adalah salah satu pertanda bahwa pemerintah mulai mendukung pekerja seni dengan segala idealismenya. Pekerja seni gak perlu jadi toa, melulu memerankan juru bicara prestasi yang mendanainya, tapi justru menyajikan kritik keras.

Ingat kan scene Bu Tejo ngasih uang ke Gotrek, driver truk, dengan sepik-sepik biar suaminya “direwangi” jadi lurah? Bahwa untuk jadi pemimpin, mungkin perlu “pemulus”. Ini kritik pada budaya pemerintah, yang juga dimasukkan secara mulus ke adegan cerita, tanpa merusak pula intisari tema hoax yang hendak diangkat di dalamnya.

Dan untuk gejala soal suap-menyuap ini, sudah akut dan menyerang siapa saja, mau pria ataupun wanita.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ali dan Ratu-ratu Queens: Sebuah Film yang Serba Ada 0 440

Setelah menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai soal betapa menyentuh dan relatable-nya film ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini lewat link ilegal.

Bagi saya sendiri, ada daya tarik kedua yaitu penulis skripnya, Gina S. Noer, yang terlanjur membuat saya jatuh hati lewat “Dua Garis Biru”-nya. Saya berekpetasi tinggi pada film Ali & Ratu-ratu Queen–yang kemudian saya sesali–bahwa sekali lagi Gina akan membawa tema keluarga dengan premis yang keren.

Film satu ini sebenarnya berangkat dari premis yang ciamik: gimana jadinya kalau kamu kehilangan sosok ibu selama bertumbuh kembang, dan setelah beranjak dewasa, kamu pengen nyari ibumu.

Tapi ini nyari ibunya ke New York. Iya, yang di Ameriki.

Alkisah seorang ibu bernama Mia (diperankan Marissa Anita) pergi ke New York meninggalkan anak semata wayangnya, Ali (Iqbaal Ramadhan), dan suaminya. Ia harus melakukan itu demi mengejar mimpinya jadi penyanyi.

Nah, masuklah kita pada hal pertama yang membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: harus banget Amerika gitu? Barangkali, sang sutradara, Lucky Kuswandi, punya obsesi membawa film ini pada segmen yang mendunia, menceritakan American Dreams: semua bisa jadi siapa saja di negeri Paman Sam. Mengingat film ini tayang di Netflix.

Seandainya saja, sutradara bisa memberi ruang lebih banyak untuk menunjukkan seberapa besar peluang menjadi penyanyi di Amerika bagi Mia. Punya kenalan kah dia di sana? Atau sudah ada label yang menawarinya kontrak? Atau ada satu penyanyi idola Mia di sana yang membuatnya membabi buta ingin menyusul karir?

Atau seberapa besar kecintaan Mia terhadap musik. Hal ini mungkin digambarkan dengan super singkat, dalam satu scene adegan flash back: adegan dramatis Mia bermain piano sambil bernyanyi. Tapi kita gak tahu seberapa keren suara Mia, sebab adegan ini full diisi scoring musik lain. Kita kan jadi penasaran, apakah Mia mampu menaklukkan #Jemimachallenge?

Poin ini juga semakin melegitimasi posisi kita sebagai negara dunia ketiga. Bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang mati-matian mengejar mimpinya jadi seniman ke Amerika, seakan hanya di sanalah mimpi itu bisa terwujud. Atau mungkin ini ironi atas seburuk-buruknya negara kita sendiri, bahkan ibu kota seperti Jakarta sekalipun, yang gak pernah menghargai karya seniman, sampai-sampai mereka gak mau berkarir di negara sendiri.

Kekurangan akar cerita yang kuat juga nampak pada penggambaran seberapa kurangnya sosok ibu dalam kehidupan Dilan, eh Ali. Ali nampaknya hidup sebagai anak yang biasa-biasa saja, selain dari hidup penuh kekangan keluarga besar bapaknya. Untuk hal ini, kita tak perlu membahas lebih jauh, sebab sudah terselamatkan dengan akting keren Cut Mini menjadi budhe yang protektif.

Padahal, hidup tanpa ibu, misalnya, menjadikan Ali parno dengan perempuan. Perempuan akan meninggalkannya, cepat atau lambat. (Cielah galau bro?)

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan Ali dengan ratu-ratu di Queens terjadi dengan sangat mulus. Tidak ada rasa canggung, atau kebingungan hidup dengan 4 wanita yang asing sama sekali. Party (Nirina Zubir) yang keibuan, Biyah (Asri Welas) yang selengehan, Ance (Tika Panggabean) ibu-ibu metal, dan Chinta (Happy Salma) yang feminin. Keempat tokoh dengan karakter unik yang telah berhasil digambarkan dalam film ini, satu poin plus.

Tapi, tak cukup sampai di sana. Tanpa ada halang merintang, Ali mudah sekali akrab dengan keempat tante ini. Ikut bekerja paruh waktu, makan bersama, sampai tiba-tiba pada adegan emosional: menonton video momen kebersamaan mereka di ruang tamu. Bagaimana bisa, pertemuan dengan orang asing yang rasanya hanya terjadi dalam beberapa hari itu, mendadak seperti hubungan ibu dan anak? Inilah yang janggal dan lupa diceritakan  di film ini.

Keempat tante ini seharunya lebih menggambarkan, betapa mereka saling melengkapi untuk mengisi kekosongan sosok ibu dalam hidup Ali. Masakin makanan kesukaan, bangunin tidur, ngingetin solat, ada banyak macemnya, yang gak pernah dirasakan seumur hidupnya Ali.

Film ini seharusnya lebih berfokus pada interaksi Ali dan 4 ibu-ibu nyentrik ini, ketimbang memaksakan sosok Eva harus ada dalam cerita. Inilah yang kedua, menghilangkan Eva dari film ini tak akan membawa masalah yang terlalu besar. Eva, anak tante Ance, bertemu dengan Ali, dan tiba-tiba mereka saling jatuh cinta. Sangat klise film Indonesia: memasukkan unsur romansa dengan cewek berwajah blasteran.

Gara-gara ada Eva, kita juga harus menghabiskan waktu menonton adegan cinta monyet mereka. Jalan-jalan di New York, yang tiba-tiba membuat Ali pengen ikut Eva kuliah seni di Amerika. Mau kuliah di luar negeri semudah mencari Indomie dobel di warung kopi. Bukankah visa perjalanan Ali ketika berangkat adalah untuk wisatawan? Dan bukankah ia berangkat tanpa berbekal fotokopi ijazah dan Kartu Keluarga? (Eh maaf, di Amerika gak usah gini-ginian ya mungkin?)

Selanjutnya, kita beranjak pada Mia, tokoh yang tadinya tak punya bekgron kuat-kuat amat untuk meninggalkan keluarganya di Indonesia. Kemampuan akting Marissa Anita yang terpukul, tercabik-cabik, dan terjebak dalam dilema syukurlah bisa menyelamatkan film ini. Terlebih ketika adegan Mia bercucuran air mata di hadapan Ali, dan dengan lirih mengatakan “I am a bad mother”.

Maka, yang ketiga, Mia perlu diberi tempat pada sekuel film lanjutan. Perlu ada part 2 dari film ini, menceritakan sudut pandang Mia mengapa ia meninggalkan Ali, bahkan menolaknya setelah ditemui jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika. Biar kita semua tak terlanjur benci dan menyalahkan Mia sebagai ibu yang gagal.

Poin ketiga ini harap menjadi masukan bagi produser dan segenap kru film. Sebab, kami tak mau salah paham seperti pada Joker dalam Batman. Atau pada Dilan dan Milea.

Pun, jika film ini dibuat lanjutannya, tentu akan laris manis dan membawa keuntungan finansial yang besar. Kita semua tahu kan, selama pemerannya Iqbaal Ramadhan, pasti banyak yang nonton kok, terlepas dari kualitas cerita dan aktingnya.

Pada akhirnya, jujur saja, penulis kebingungan menemukan makna yang hendak dituju film ini. Cerita keluarga, iya. Cerita tentang peran gender dalam keluarga, juga iya. Cerita tentang cita-cita di Amerika, juga ada. Semua ada tetapi serba nanggung. Hanya saja si pembuat film bisa memilih salah satu untuk dihilangkan, mungkin penceritaan akan lebih bisa fokus dan tak hilang arah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 395

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks