Lagu “Bongkar” Iwan Fals dari Speaker Amaq Kaka

Saya mendengar lagu Iwan Fals pertama kalinya dari Amaq Kaka (paman). Melalui sepasang speaker­-nya di muka pintu, Iwan Fals bagai hadir di tengah kegiatan kami: menyiram halaman, mencari kutu, memasak nasi untuk makan malam, hingga bermain sepak takraw.

Iwan Fals di mata kami adalah orang asing, tapi lagu-lagunya seperti melekat di hidup kami. Meski tak mengenal secara langsung, kami percaya Iwan Fals punya nasib yang sama seperti kami. Setidak-tidaknya, ia telah mewakili keresahan kami saat itu.

Sebelumnya kami sering melakukan protes karena Amaq Kaka selalu saja memutar lagu-lagu yang sama setiap sore. Meski pada akhirnya kami menikmatinya juga, bahkan meresapinya, menanamkannya sebagai semacam paradigma berpikir.

Saya lupa bagaimana waktu itu situasi sosial dan politik yang menimpa kami – yang menyebabkan lagu-lagu Iwan Fals begitu membekas. Yang sedikit masih saya ingat, setiap pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore listrik dipadamkan. Setelah pukul 3 sore listrik kembali aktif, dan dipadamkan lagi selepas salat magrib – bahkan kadang sebelum magrib. Besar dugaan saya, ini dilakukan karena adanya pemusatan energi ke aktivitas operasional kapital di kota. Kami yang hidup di dusun tak mendapat penerangan penuh sampai beberapa tahun lamanya. Adapun yang lampunya menyala hanya kantor kepala desa dan masjid.

Nah, pada saat-saat aktifnya listrik itulah kami berkesempatan menyetel lagu-lagu Iwan Fals. Oleh karena itu, kami akan protes jika Amaq Kaka tidak memanfaatkan aktifnya listrik tersebut dengan baik.

Pada umur sekarang (22), saya semakin merasakan dampak yang begitu dalam dari kebiasaan Amaq Kaka. Ia menanamkan benih-benih kritis sejak kami belum boleh dipecut karena lupa sembahyang. Saya tak tahu pada tahun-tahun itu di mana atau kapan Iwan Fals membuat lagu-lagunya, tapi rasanya lagu-lagunya – wabil khusus Bongkar – memiliki konteks yang cenderung universal hingga dapat menyentuh kami.

Kalau cinta / sudah / dibuang / jangan harap / keadilan akan datang / kesedihan / hanya / tontonan / bagi mereka / yang diperkuda jabatan.

Pelan-pelan saya menghafalkan bait pertama dari lagu ini. Saya juga tak mau terburu-buru menghafalkannya kendati kami berlomba-lomba memamerkan siapa yang paling baik daya ingatnya, di samping kewajiban menghafal tiga puluh jus ayat suci yang rutin kami setorkan di surau setiap magrib.

Benar kata Iwan Fals: Kesedihan hanya tontonan. Bayangkan, kami punya televisi, tapi tak pernah menyala. Kami menonton televisi yang hanya memantulkan bayangan kami dari layar kacanya. Entah apa jadinya nasib hiburan kami kalau radio merek International itu tak bisa hidup tanpa baterai ABC. Tidak hanya itu, kami terkadang sampai malas berangkat mengaji kalau minyak di dalam obor habis dan orangtua kami belum bisa mengisikannya.

Sabar, sabar, sabar / dan tunggu / itu  jawaban / yang / kami terima / ternyata kita harus ke jalan / robohkan setan / yang berdiri mengangkang.

Kami memasang skeptis terhadap siapa yang dimaksud Iwan Fals dengan setan yang berdiri mengangkang sehingga mereka harus di-robohkan. Kalau yang dimaksudnya itu adalah industri atau gedung-gedung besar yang mengambil lahan rakyat, atau setan adalah politikus berperangai buruk di Senayan, maka jelas kami agak kesulitan memahaminya.

Kami tak punya bayangan tentang nuansa bengis modernitas semacam itu. Terkadang matinya televisi memang ada baiknya: kami tak diterpa ribuan teks hegemonis yang bisa saja mendikte kami sehingga tak berselera lagi pada lagu Iwan Fals – mengingat produk industri hiburan yang didistribusikan melalui TV kelewat aduh.

Kami hanya tahu, bahwa “sabar, sabar, sabar dan tunggu” adalah jawaban yang diutarakan Amaq Kaka ketika kami tak sabar menunggu Bongkar berputar, dan ketika seorang kepala desa tak kunjung menepati janjinya untuk memperbaiki kondisi bangunan pasar tradisional, tapi malah mempromosikan habis-habisian sebuah pasar modern, yang entah di mana, agar kami datang ke sana.

Penindasan / serta kesewenang-wenangan / banyak lagi / teramat banyak untuk disebutkan / hoi / hentikan, hentikan / jangan diteruskan / kami muak / dengan ketidak pastian / dan / keserakahan.

Kami memang tak pernah mengalami penindasan secara langsung (baca: kekerasan fisik). Tapi mungkin kami sedikit merasa kurang mendapat keadilan dari sejumlah sektor yang saya kira itu penting, pendidikan misalkan. Menurut saya, jelas penampakan dari buruknya fasilitas belajar di sekolah, sedikitnya gaji guru sehingga membuat mereka gampang lelah, bangunan sekolah yang membuat dada sesak, kurikulum yang sepertinya bertanggung jawab atas melencengnya kebenaran sejarah, jelas adalah penindasan (baca: kekerasan struktural).

Di jalanan / kami sandarkan / cita-cita / sebab di rumah / tak ada lagi / yang bisa dipercaya / orang tua / pandanglah kami / sebagai manusia / kami bertanya / tolong kau jawab / dengan cinta

Bait terakhir ini yang menurut saya paling terbuka tafsirannya. Pertama, karena saya tak tahu siapa orang tua atau pun jalanan yang dimaksud Iwan Fals. Dalam konteks apa kedua kata kunci dalam bait ini didiskusikan. Tapi bila orang tua yang dimaksud ialah orangtua yang menjadi pengurus rumah tangga (baca: bapak/ibu), maka dapat saya pastikan bahwa itu bukanlah orangtua kami.

Orangtua kami banyak mendengar radio, yang isinya kalau bukan dagelan ya lagu-lagu. Secara tidak langsung, kebiasaan ini pula yang membuat mereka lebih pandai mendengar ketimbang bicara. Kami, bocah-bocah, diposisikan sebagai subjek yang berhak didengarkan pendapatnya, berhak difasilitasi bakatnya.

Tapi besar kemungkinan orang tua yang dimaksud Iwan Fals berada dalam konteks pergerakan, situasi ketika mahasiswa yang usulnya selalu ditolak oleh orang yang dianggap tua di parlemen. Mereka itu, atau kesemuanya yang mempunyai jabatan politis, bertanggung jawab atas nasib kami. Banyak saudara dan teman saya yang terpaksa turun ke jalanan guna sandarkan cita-cita mereka.

Jalanan bagi kami adalah ruang yang membentang di luar rumah, jauh di luar rumah. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, pokoknya luar rumah (negeri). Kami sering berpikir untuk pergi ke negara-negara itu, untuk mencari kepastian ekonomi. Demi cita-cita orangtua naik haji, misalnya.

Iwan Fals adalah sebutan bagi musisi yang lahir dalam rentang seratus tahun sekali. Tapi bukan berarti Iwan Fals adalah satu-satunya gerilyawan yang bergerak melalui jalan bebunyian. Di waktu sekarang, kita bisa mendengar muatan wacana serupa dilagukan oleh sejumlah musisi lain dengan karakter yang lebih variatif, seperti Ary Juliyant, Navicula, Krowbar, Homicide. Masih ada Iwan Fals-Iwan Fals baru yang mungkin belum terjangkau oleh telinga kita.