Lagu “Bongkar” Iwan Fals dari Speaker Amaq Kaka 0 684

Saya mendengar lagu Iwan Fals pertama kalinya dari Amaq Kaka (paman). Melalui sepasang speaker­-nya di muka pintu, Iwan Fals bagai hadir di tengah kegiatan kami: menyiram halaman, mencari kutu, memasak nasi untuk makan malam, hingga bermain sepak takraw.

Iwan Fals di mata kami adalah orang asing, tapi lagu-lagunya seperti melekat di hidup kami. Meski tak mengenal secara langsung, kami percaya Iwan Fals punya nasib yang sama seperti kami. Setidak-tidaknya, ia telah mewakili keresahan kami saat itu.

Sebelumnya kami sering melakukan protes karena Amaq Kaka selalu saja memutar lagu-lagu yang sama setiap sore. Meski pada akhirnya kami menikmatinya juga, bahkan meresapinya, menanamkannya sebagai semacam paradigma berpikir.

Saya lupa bagaimana waktu itu situasi sosial dan politik yang menimpa kami – yang menyebabkan lagu-lagu Iwan Fals begitu membekas. Yang sedikit masih saya ingat, setiap pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore listrik dipadamkan. Setelah pukul 3 sore listrik kembali aktif, dan dipadamkan lagi selepas salat magrib – bahkan kadang sebelum magrib. Besar dugaan saya, ini dilakukan karena adanya pemusatan energi ke aktivitas operasional kapital di kota. Kami yang hidup di dusun tak mendapat penerangan penuh sampai beberapa tahun lamanya. Adapun yang lampunya menyala hanya kantor kepala desa dan masjid.

Nah, pada saat-saat aktifnya listrik itulah kami berkesempatan menyetel lagu-lagu Iwan Fals. Oleh karena itu, kami akan protes jika Amaq Kaka tidak memanfaatkan aktifnya listrik tersebut dengan baik.

Pada umur sekarang (22), saya semakin merasakan dampak yang begitu dalam dari kebiasaan Amaq Kaka. Ia menanamkan benih-benih kritis sejak kami belum boleh dipecut karena lupa sembahyang. Saya tak tahu pada tahun-tahun itu di mana atau kapan Iwan Fals membuat lagu-lagunya, tapi rasanya lagu-lagunya – wabil khusus Bongkar – memiliki konteks yang cenderung universal hingga dapat menyentuh kami.

Kalau cinta / sudah / dibuang / jangan harap / keadilan akan datang / kesedihan / hanya / tontonan / bagi mereka / yang diperkuda jabatan.

Pelan-pelan saya menghafalkan bait pertama dari lagu ini. Saya juga tak mau terburu-buru menghafalkannya kendati kami berlomba-lomba memamerkan siapa yang paling baik daya ingatnya, di samping kewajiban menghafal tiga puluh jus ayat suci yang rutin kami setorkan di surau setiap magrib.

Benar kata Iwan Fals: Kesedihan hanya tontonan. Bayangkan, kami punya televisi, tapi tak pernah menyala. Kami menonton televisi yang hanya memantulkan bayangan kami dari layar kacanya. Entah apa jadinya nasib hiburan kami kalau radio merek International itu tak bisa hidup tanpa baterai ABC. Tidak hanya itu, kami terkadang sampai malas berangkat mengaji kalau minyak di dalam obor habis dan orangtua kami belum bisa mengisikannya.

Sabar, sabar, sabar / dan tunggu / itu  jawaban / yang / kami terima / ternyata kita harus ke jalan / robohkan setan / yang berdiri mengangkang.

Kami memasang skeptis terhadap siapa yang dimaksud Iwan Fals dengan setan yang berdiri mengangkang sehingga mereka harus di-robohkan. Kalau yang dimaksudnya itu adalah industri atau gedung-gedung besar yang mengambil lahan rakyat, atau setan adalah politikus berperangai buruk di Senayan, maka jelas kami agak kesulitan memahaminya.

Kami tak punya bayangan tentang nuansa bengis modernitas semacam itu. Terkadang matinya televisi memang ada baiknya: kami tak diterpa ribuan teks hegemonis yang bisa saja mendikte kami sehingga tak berselera lagi pada lagu Iwan Fals – mengingat produk industri hiburan yang didistribusikan melalui TV kelewat aduh.

Kami hanya tahu, bahwa “sabar, sabar, sabar dan tunggu” adalah jawaban yang diutarakan Amaq Kaka ketika kami tak sabar menunggu Bongkar berputar, dan ketika seorang kepala desa tak kunjung menepati janjinya untuk memperbaiki kondisi bangunan pasar tradisional, tapi malah mempromosikan habis-habisian sebuah pasar modern, yang entah di mana, agar kami datang ke sana.

Penindasan / serta kesewenang-wenangan / banyak lagi / teramat banyak untuk disebutkan / hoi / hentikan, hentikan / jangan diteruskan / kami muak / dengan ketidak pastian / dan / keserakahan.

Kami memang tak pernah mengalami penindasan secara langsung (baca: kekerasan fisik). Tapi mungkin kami sedikit merasa kurang mendapat keadilan dari sejumlah sektor yang saya kira itu penting, pendidikan misalkan. Menurut saya, jelas penampakan dari buruknya fasilitas belajar di sekolah, sedikitnya gaji guru sehingga membuat mereka gampang lelah, bangunan sekolah yang membuat dada sesak, kurikulum yang sepertinya bertanggung jawab atas melencengnya kebenaran sejarah, jelas adalah penindasan (baca: kekerasan struktural).

Di jalanan / kami sandarkan / cita-cita / sebab di rumah / tak ada lagi / yang bisa dipercaya / orang tua / pandanglah kami / sebagai manusia / kami bertanya / tolong kau jawab / dengan cinta

Bait terakhir ini yang menurut saya paling terbuka tafsirannya. Pertama, karena saya tak tahu siapa orang tua atau pun jalanan yang dimaksud Iwan Fals. Dalam konteks apa kedua kata kunci dalam bait ini didiskusikan. Tapi bila orang tua yang dimaksud ialah orangtua yang menjadi pengurus rumah tangga (baca: bapak/ibu), maka dapat saya pastikan bahwa itu bukanlah orangtua kami.

Orangtua kami banyak mendengar radio, yang isinya kalau bukan dagelan ya lagu-lagu. Secara tidak langsung, kebiasaan ini pula yang membuat mereka lebih pandai mendengar ketimbang bicara. Kami, bocah-bocah, diposisikan sebagai subjek yang berhak didengarkan pendapatnya, berhak difasilitasi bakatnya.

Tapi besar kemungkinan orang tua yang dimaksud Iwan Fals berada dalam konteks pergerakan, situasi ketika mahasiswa yang usulnya selalu ditolak oleh orang yang dianggap tua di parlemen. Mereka itu, atau kesemuanya yang mempunyai jabatan politis, bertanggung jawab atas nasib kami. Banyak saudara dan teman saya yang terpaksa turun ke jalanan guna sandarkan cita-cita mereka.

Jalanan bagi kami adalah ruang yang membentang di luar rumah, jauh di luar rumah. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, pokoknya luar rumah (negeri). Kami sering berpikir untuk pergi ke negara-negara itu, untuk mencari kepastian ekonomi. Demi cita-cita orangtua naik haji, misalnya.

Iwan Fals adalah sebutan bagi musisi yang lahir dalam rentang seratus tahun sekali. Tapi bukan berarti Iwan Fals adalah satu-satunya gerilyawan yang bergerak melalui jalan bebunyian. Di waktu sekarang, kita bisa mendengar muatan wacana serupa dilagukan oleh sejumlah musisi lain dengan karakter yang lebih variatif, seperti Ary Juliyant, Navicula, Krowbar, Homicide. Masih ada Iwan Fals-Iwan Fals baru yang mungkin belum terjangkau oleh telinga kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 276

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Selak dan Jampi-jampi Kakek 0 338

Ini cerita waktu dulu, saat saya berusia kurang dari sepuluh tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya merupakan orang yang cukup disegani di desa. Menurut cerita yang sudah beredar jauh sebelum saya lahir, kakek saya sering memenangkan perkelahian antar orang sakti.

Nenek saya juga pernah mengatakan, bahwa orang-orang yang hendak berbuat jahat di rumah saya atau kepada tetangga-tetangga, akan selalu berakhir buruk. Mereka tak pernah benar-benar bisa menyentuh halaman rumah kami, sebab yang akan mereka dapati hanya laut dan sebentang sawah. Dengan kata lain, bila anda mau mencuri ke rumah saya, maka penglihatan anda akan disulap menjadi “berbeda” dari yang sebenarnya.

Rumah saya letaknya di belakang tembok sekolah. Nah, di tembok itu, terdapat gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya. Suasana sekolah yang sepi ketika malam hari membuat saya selalu ketakutan tiap kali melaluinya.

Pada sebuah malam yang dingin, saya pulang dari mengaji seorang diri. Biasanya saya bersama tiga teman saya; Weli, Iwan dan Erik. Tapi malam itu mereka tak datang ke surau karena demam. Aneh memang, mereka demam secara bersamaan. Seperti kebetulan yang disengaja.

Entah bagaimana, malam itu ketakutan saya memuncak. Mungkin karena sebelumnya, teman mengaji saya bercerita tentang hilangnya seorang anak laki-laki di desa saya, setelah dikutuk ibunya karena belum menurunkan layangan ketika magrib naik. Saya yakin, anak itu diculik oleh Selak.

Saya berjalan lebih cepat dari biasanya, namun gerbang kecil yang mengarah menuju halaman rumah saya tak kunjung bisa saya dekati. Gerbang itu bagaikan berlari dari kejaran saya.

Saya akhirnya kelelahan, dan mencoba berjalan lambat.

Pada momen saya berjalan lambat itulah, saya melihat sosok gemuk berpakaian putih dan tinggi sedang berdiri di samping gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya.

Saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya, bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Sosok besar itu memiliki bola mata yang memancarkan cahaya hijau. Bola mata itu tampak melayang di antara pendar cahaya bulan.

Kejadian itu berlangsung hanya sekitar satu menit. Setelah saya kembali bisa menggerakkan tubuh saya, sosok besar itu menghilang. Lantas saya segera berlari sambil berteriak ketakutan.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya dan para tetangga sedang asyik menonton acara sinetron di televisi.

“Kenapa kamu lari-lari kayak habis dikejar selak?” kata nenek saya.

“Dia habis diganggu itu,” kata Inaq Rabitah, ibunya Iwan.

Bejarup dulu sana,” kata Kakek saya.

Saya terlalu ketakutan sehingga tidak sempat memberi tanggapan atas semua komentar itu. Saya masuk ke dalam kamar dan menggunakan sarung mengaji sebagai selimut, berusaha tidur sambil membaca ayat kursi.

Benar, saya yakin bahwa saya sudah tidur waktu itu. Bahkan saya mengingat mimpi saya; saya bermimpi sedang terjaga di sepertiga malam. Saya kembali melihat sosok besar yang sebelumnya menghadang saat pulang mengaji.

Sosok besar itu tengah menimang dan membawa saya ke ruang tamu. Saya melihat ruang tamu penuh oleh entah siapa, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang memakan jagung, ada yang sedang berkelahi, dan ada yang sekadar berbaring di lantai. Lampu di ruang tamu menjadi bercahaya hijau.

Meski memberontak, saya tidak merasakan tubuh saya bergerak. Sampai saya tiba-tiba terlepas dari tangan sosok besar itu. Tetapi tubuh saya tidak menyentuh lantai, melainkan kembali ke tempat saya tidur.

Sampai hari ini, saya masih mengingat mimpi itu dan menyimpannya juga dalam sebuah catatan.

Sebangunnya dari mimpi buruk, saya keluar dan mendapati kakek, nenek, dan para tetangga masih menonton televisi. Entah apa yang menggerakkan tubuh saya hingga berjalan menuju televisi lalu memencet tombol off. Spontan orang-orang yang berada di ruang tamu menatap saya sambil bergurau.

Waktu itu hanya rumah saya yang memiliki televisi di antara empat tetangga yang lain. Terkadang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyediakan tontonan, mereka kerap secara sengaja memberikan beras dan gula sebagai semacam “tiket” masuk ke bioskop.

Nenek yang barangkali ketika itu menyadari tingkah saya yang ganjil segera menggendong dan mengembalikan saya ke kamar. Saya tak bisa tidur sampai jam dinding di kamar menunjuk angka sebelas. Bayangan sosok besar bermata hijau dan berpakaian putih itu terus menghantui saya.

Lama-kelamaan, para tetangga satu per satu mulai beranjak ke rumah mereka masing-masing. Suara sandal mereka yang menjauh dari rumah justru menambah ketegangan saya malam itu. Kakek dan nenek memadamkan televisi dan lampu ruang tamu.

Dalam kegelapan, saya bisa merasakan, bahwa saya tidak sendiri di kamar itu. Saya mendengar kain bermotif bangau yang menjadi pintu kamar saya bergerak. Suara kain yang disingkap itu jelas sekali.

Sekilas saya melihat sebentuk sosok dengan mata bercahaya hijau berdiri di ambang pintu kamar saya. Ketika hendak berteriak, suara saya seakan terhenti di leher.

Cukup lama saya merasakan ketegangan itu, sampai tubuh saya basah oleh keringat. Entah pada zikir ke berapa, kakek dan nenek akhirnya datang menolong saya. Lampu ruang tamu dan lampu kamar dihidupkan, dan saya diangkut masuk ke kamar mereka.

Wajah saya dibasuh oleh kakek menggunakan segelas air yang telah dijampi. Menggunakan tangannya, ia kemudian mengusap kedua kelopak mata saya seolah-olah sedang membersihkan apa yang sebelumnya saya lihat. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat sosok berbadan besar itu. Setidaknya sampai saya lulus SMA.

Saya pindah ke Kota Mataram dan bermukim bersama kedua orangtua saya pada pertengahan tahun 2012. Kakek meninggal pada tahun 2006, dan nenek terpaksa tinggal seorang diri, sebab anak-anaknya sudah berpencar ke luar daerah melanjutkan kehidupan masing-masing bersama keluarga baru.

Pada tahun 2015, saya mulai menempuh pendidikan S1 di Surabaya. Pada waktu itu pula, saya kembali merasakan ketakutan yang ganjil. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi hendak lepas landas, saya bisa melihat dari balik jendela, sosok berbadan besar dengan pakaian putih yang matanya menguarkan cahaya hijau sedang berdiri tidak jauh dari sayap pesawat. Sosok itu melambaikan tangannya kepada saya.

Catatan:

Selak: hantu atau manusia yang menggunakan ilmu hitam.

Bejarup: membasuh muka

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks