Lagu “Bongkar” Iwan Fals dari Speaker Amaq Kaka 0 536

Saya mendengar lagu Iwan Fals pertama kalinya dari Amaq Kaka (paman). Melalui sepasang speaker­-nya di muka pintu, Iwan Fals bagai hadir di tengah kegiatan kami: menyiram halaman, mencari kutu, memasak nasi untuk makan malam, hingga bermain sepak takraw.

Iwan Fals di mata kami adalah orang asing, tapi lagu-lagunya seperti melekat di hidup kami. Meski tak mengenal secara langsung, kami percaya Iwan Fals punya nasib yang sama seperti kami. Setidak-tidaknya, ia telah mewakili keresahan kami saat itu.

Sebelumnya kami sering melakukan protes karena Amaq Kaka selalu saja memutar lagu-lagu yang sama setiap sore. Meski pada akhirnya kami menikmatinya juga, bahkan meresapinya, menanamkannya sebagai semacam paradigma berpikir.

Saya lupa bagaimana waktu itu situasi sosial dan politik yang menimpa kami – yang menyebabkan lagu-lagu Iwan Fals begitu membekas. Yang sedikit masih saya ingat, setiap pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore listrik dipadamkan. Setelah pukul 3 sore listrik kembali aktif, dan dipadamkan lagi selepas salat magrib – bahkan kadang sebelum magrib. Besar dugaan saya, ini dilakukan karena adanya pemusatan energi ke aktivitas operasional kapital di kota. Kami yang hidup di dusun tak mendapat penerangan penuh sampai beberapa tahun lamanya. Adapun yang lampunya menyala hanya kantor kepala desa dan masjid.

Nah, pada saat-saat aktifnya listrik itulah kami berkesempatan menyetel lagu-lagu Iwan Fals. Oleh karena itu, kami akan protes jika Amaq Kaka tidak memanfaatkan aktifnya listrik tersebut dengan baik.

Pada umur sekarang (22), saya semakin merasakan dampak yang begitu dalam dari kebiasaan Amaq Kaka. Ia menanamkan benih-benih kritis sejak kami belum boleh dipecut karena lupa sembahyang. Saya tak tahu pada tahun-tahun itu di mana atau kapan Iwan Fals membuat lagu-lagunya, tapi rasanya lagu-lagunya – wabil khusus Bongkar – memiliki konteks yang cenderung universal hingga dapat menyentuh kami.

Kalau cinta / sudah / dibuang / jangan harap / keadilan akan datang / kesedihan / hanya / tontonan / bagi mereka / yang diperkuda jabatan.

Pelan-pelan saya menghafalkan bait pertama dari lagu ini. Saya juga tak mau terburu-buru menghafalkannya kendati kami berlomba-lomba memamerkan siapa yang paling baik daya ingatnya, di samping kewajiban menghafal tiga puluh jus ayat suci yang rutin kami setorkan di surau setiap magrib.

Benar kata Iwan Fals: Kesedihan hanya tontonan. Bayangkan, kami punya televisi, tapi tak pernah menyala. Kami menonton televisi yang hanya memantulkan bayangan kami dari layar kacanya. Entah apa jadinya nasib hiburan kami kalau radio merek International itu tak bisa hidup tanpa baterai ABC. Tidak hanya itu, kami terkadang sampai malas berangkat mengaji kalau minyak di dalam obor habis dan orangtua kami belum bisa mengisikannya.

Sabar, sabar, sabar / dan tunggu / itu  jawaban / yang / kami terima / ternyata kita harus ke jalan / robohkan setan / yang berdiri mengangkang.

Kami memasang skeptis terhadap siapa yang dimaksud Iwan Fals dengan setan yang berdiri mengangkang sehingga mereka harus di-robohkan. Kalau yang dimaksudnya itu adalah industri atau gedung-gedung besar yang mengambil lahan rakyat, atau setan adalah politikus berperangai buruk di Senayan, maka jelas kami agak kesulitan memahaminya.

Kami tak punya bayangan tentang nuansa bengis modernitas semacam itu. Terkadang matinya televisi memang ada baiknya: kami tak diterpa ribuan teks hegemonis yang bisa saja mendikte kami sehingga tak berselera lagi pada lagu Iwan Fals – mengingat produk industri hiburan yang didistribusikan melalui TV kelewat aduh.

Kami hanya tahu, bahwa “sabar, sabar, sabar dan tunggu” adalah jawaban yang diutarakan Amaq Kaka ketika kami tak sabar menunggu Bongkar berputar, dan ketika seorang kepala desa tak kunjung menepati janjinya untuk memperbaiki kondisi bangunan pasar tradisional, tapi malah mempromosikan habis-habisian sebuah pasar modern, yang entah di mana, agar kami datang ke sana.

Penindasan / serta kesewenang-wenangan / banyak lagi / teramat banyak untuk disebutkan / hoi / hentikan, hentikan / jangan diteruskan / kami muak / dengan ketidak pastian / dan / keserakahan.

Kami memang tak pernah mengalami penindasan secara langsung (baca: kekerasan fisik). Tapi mungkin kami sedikit merasa kurang mendapat keadilan dari sejumlah sektor yang saya kira itu penting, pendidikan misalkan. Menurut saya, jelas penampakan dari buruknya fasilitas belajar di sekolah, sedikitnya gaji guru sehingga membuat mereka gampang lelah, bangunan sekolah yang membuat dada sesak, kurikulum yang sepertinya bertanggung jawab atas melencengnya kebenaran sejarah, jelas adalah penindasan (baca: kekerasan struktural).

Di jalanan / kami sandarkan / cita-cita / sebab di rumah / tak ada lagi / yang bisa dipercaya / orang tua / pandanglah kami / sebagai manusia / kami bertanya / tolong kau jawab / dengan cinta

Bait terakhir ini yang menurut saya paling terbuka tafsirannya. Pertama, karena saya tak tahu siapa orang tua atau pun jalanan yang dimaksud Iwan Fals. Dalam konteks apa kedua kata kunci dalam bait ini didiskusikan. Tapi bila orang tua yang dimaksud ialah orangtua yang menjadi pengurus rumah tangga (baca: bapak/ibu), maka dapat saya pastikan bahwa itu bukanlah orangtua kami.

Orangtua kami banyak mendengar radio, yang isinya kalau bukan dagelan ya lagu-lagu. Secara tidak langsung, kebiasaan ini pula yang membuat mereka lebih pandai mendengar ketimbang bicara. Kami, bocah-bocah, diposisikan sebagai subjek yang berhak didengarkan pendapatnya, berhak difasilitasi bakatnya.

Tapi besar kemungkinan orang tua yang dimaksud Iwan Fals berada dalam konteks pergerakan, situasi ketika mahasiswa yang usulnya selalu ditolak oleh orang yang dianggap tua di parlemen. Mereka itu, atau kesemuanya yang mempunyai jabatan politis, bertanggung jawab atas nasib kami. Banyak saudara dan teman saya yang terpaksa turun ke jalanan guna sandarkan cita-cita mereka.

Jalanan bagi kami adalah ruang yang membentang di luar rumah, jauh di luar rumah. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, pokoknya luar rumah (negeri). Kami sering berpikir untuk pergi ke negara-negara itu, untuk mencari kepastian ekonomi. Demi cita-cita orangtua naik haji, misalnya.

Iwan Fals adalah sebutan bagi musisi yang lahir dalam rentang seratus tahun sekali. Tapi bukan berarti Iwan Fals adalah satu-satunya gerilyawan yang bergerak melalui jalan bebunyian. Di waktu sekarang, kita bisa mendengar muatan wacana serupa dilagukan oleh sejumlah musisi lain dengan karakter yang lebih variatif, seperti Ary Juliyant, Navicula, Krowbar, Homicide. Masih ada Iwan Fals-Iwan Fals baru yang mungkin belum terjangkau oleh telinga kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kita Hanyalah Penonton di Reshuffle Menteri 0 273

Semua mata tertuju pada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf, yang melangkah dengan heroik ke hadapan media di beranda Istana. Sore itu konferensi pers berjalan diiringi harap cemas 200 juta lebih rakyat Indonesia. Semua karena berbagai peristiwa naas yang menimpa negara akhir-akhir ini.

Mulai dari Corona yang tak kunjung selesai, sampai 2 menteri korup dalam waktu bersamaan. Untuk itu, semua sedang menantikan langkah tegas Pak Presiden melengkapi tubuh kabinetnya.

6 nama baru kemudian diumumkan, mengisi dan/atau menggantikan nama-nama lama, menjabat menteri di era kedua Joko Widodo ini. Seperti biasa, kabar baru seperti penunjukan menteri ini menimbulkan beragam percakapan menarik di kalangan kita, rakyat jelata.

Pertama, di grup whatsapp saya menemukan sebuah meme yang bunyinya begini: “coblos Jokowi-Ma’ruf, bonus Prabowo-Sandi”. Kalimat dalam meme ini memang tidak asing. Dulu pernah keluar sejak aksi Jokowi dan Prabowo yang dengan mesranya naik satu gerbong MRT, hingga penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan. Meme ini hangat dan relevan dimunculkan kembali, setelah nama Mas ganteng Sandiaga Salahuddin Uno yang ditunjuk sebagai Menparekraf, menggantikan Wishnutama.

Ini mungkin menjadi sejarah penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia, di mana rival capres-cawapres yang menimbulkan berbagai drama india selama paling tidak 10 tahun terakhir ini, malah masuk dan merasuk menjadi satu kabinet. Sungguh dunia ini maha terbolak-balik, lawan jadi kawan, dan begitu pula sebaliknya.

Komentar yang muncul atas meme ini juga beragam, dan ada satu yang menarik perhatian saya: “semua akan cebong pada waktunya”. Ini suatu ironi. Kita sendiri yang sering mengeluh betapa melelahkannya perdebatan cebong vs kampret yang tak pernah berhenti. Tapi tanpa sadar, kita sendirilah yang mempopulerkannya, terus-terusan menggaungkannya, membicarakannya, mengomentarinya, dan menjadikannya wacana yang mencuat di ruang media sosial.

Situ tahu kan, kalau suatu trending topic di dunia maya, akan dijadikan agenda setting media mainstream juga. Jadi ya jangan heran, jika persaingan dua kubu akan tetap abadi. Lah wong kita sendiri yang terus menyebarkan meme-meme semacam ini. Sementara elit politik kita sibuk bernegosiasi dan ketawa hahahihi.

Kedua, seperti biasa reshuffle menteri menjadikan kita pakarnya pakar dan ahlinya ahli. Kita menganalisis dengan seksama rekam jejak, imej, dan prospek keenam nama menteri baru Jokowi ini. Kita mendadak jadi paling tahu alasan mengapa Wishnutama digantikan Sandi, sang pelopor giat UMKM Oke-oce. Kita mendadak menilai betapa tak punya pengalaman si Budi Gunadi di bidang kesehatan, tapi justru menggantikan menkes kesayangan Mbak Najwa Shihab, Terawan Agus Putranto, yang katanya kerja dalam diam di balik layar (mbuh layar tancep RT piro).

Kita juga tiba-tiba memuji-muji keputusan Jokowi dalam memilih Tri Rismaharini menjadi mensos, sang walikota kondang yang sukses mengijo-royo-royo-kan Surabaya. Kita mendadak sok tahu, berpikir sosok Risma paling pas untuk memberantas korupsi miris yang baru saja dilakukan pejabat sebelumnya, Juliari Batubara, hanya karena track record-nya yang tegas marah-marah ketika tamannya dirusak. Ingat ya, JIKA TAMANNYA DIRUSAK! (mbuh perkoro liyane)

Sementara itu kita mengenyampingkan bahwa fakta bahwa kursi menteri adalah bagi-bagi jatah partai politik. Mensos adalah jatahnya anak buah Megawati Soekarnoputri. Dan lantas kita jadi dibutakan imej tokoh politik yang selama ini sudah dipotret baik oleh media.

Ketiga, pidato penuh makna Mendag yang baru. Posisi menteri perdagangan diisi Muhammad Lutfi, seorang berpengalaman yang sering langganan menduduki kursi kabinet, dengan jabatan yang sama di masa silam.

Saya perhatikan betul pidatonya yang ternyata semakin mendekati akhir, malah semakin menyakiti hati saya sebagai rakyat biasa-biasa aja ini. Dengan gagah ia sampaikan rasa tanggung jawab besar membawa perekonomian nasional di tengah masa sulit pandemi. Pidato dilengkapi analogi bak pujangga melamar kekasih. Katanya, Mendag adalah wasit pertandingan tinju, pembeli dan penjual adalah petinjunya, dan rakyat adalah penontonnya. Ingat ya, RAKYAT ADALAH PENONTON!

Pak Mendag yang terhormat, bagaimana bisa negara demokrasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi – setidaknya ini yang saya tahu dari pelajaran PPKN waktu SMP dulu – mosok cuma jadi penonton? Bagaimana sang promotor pertandingan tinju berhak menggelar acaranya di mana dan kapan saja, menentukan siapa wasitnya, petinju gontok-gontokan bertaruh nyawa, dan kita yang hanya penonton ini pasif dan tak berdaya, selain daripada memendam emosi melihat pertikaian, menaruh judi karena taruhan, atau ujung-ujungnya chaos antar pendukung.

Omongan Pak Mendag Lutfi ini memang problematis, tapi banyak benarnya. Bahwa kita, rakyat sebagai tingkatan terendah dalam rantai makanan perpolitikan Indonesia ini, hanya asyik menonton. Paling banter ya hanya bikin status WA atau story Instagram “hayo siapa yang kemarin bertengkar sampai putus kongsi gara-gara beda pilihan 01 dan 02?” sambil saling menertawakan satu sama lain. Tak lebih dan tak kurang.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 321

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Editor Picks