Pesan Moral Film Tilik Buat Repotnya Hidup Kita 0 485

Oleh: Novirene Tania*

Apresiasi setinggi-tingginya untuk industri per-film-an yang mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk tetap anteng selama di rumah aja. Hadirnya Film Tilik berdurasi 32 menit 34 detik yang bisa disaksikan lewat Yutup, mampu membangunkan kembali netijen beserta dengan perannya: berkomentar sana-sini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang telah mendorong saya dengan gigih untuk menonton Film Tilik. Review ini adalah bentuk apresiasi saya untuk kalian!

Sebagai pembukaan untuk kalian yang mungkin sama seperti saya – telat menonton Film Tilik – saya akan berikan sedikit overview tentang gambaran garis besar film. Film Tilik merupakan film yang mengangkat narasi tentang “gibahan” sekelompok ibu-ibu di di truk dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah. Menampilkan perdebatan antara sosok Bu Tejo yang super nyinyir dan Yu Ning yang juga tidak mau kalah, film ini berhasil menggambarkan dengan jelas sosok yang bahkan tidak ada di dalam truk yaitu Dian yang kabarnya tengah dekat dengan putra Bu Lurah. Untuk lebih lanjutnya, saksikan sendiri ya! Gak begitu gede kok MB nya wkwk.

Oke, sekarang kita berlanjut pada pembahasan, bagaimana respons masyarakat terhadap Film Tilik?

Persis sama seperti overview saya di awal, begitu pula pembahasan yang paling banyak disorot oleh netijen: sosok Bu Tejo. Netijen pun jadi merentetkan gelar Bu Tejo pada sejumlah orang dalam hidup mereka yang memiliki karakter sama seperti tokohnya, suka mengomentari banyak hal sampe ke ubun-ubun dalam-dalam. Sorotan netijen yang begitu luar biasa bahkan membuat Siti Fauziah Saekhoni sebagai pemeran asli Bu Tejo sempat menangis. Begitu kurang lebih pengakuannya di beberapa berita.

Film Tilik adalah film yang biasa-biasa saja. Ini menjadi respons kedua netijen yang pemberitaannya juga cukup banyak di media. Memang benar sih. Secara technical, masih lebih banyak film di luar sana yang bisa membuat penontonnya berdecak kagum. Mulai dari alasan efek yang keren, animasi yang warbyasah, atau adegan yang variatif dan memicu adrenalin. Berbeda dengan Film Tilik, kalau Bu Tejo dan gerombolannya tidak se-fasih itu untuk membawakan dialog yang hidup dan menguras emosi, mungkin Film Tilik tidak se-booming sekarang ini.

Memang bukan orang Indonesia namanya kalau tidak banyak perspektif. Ada juga segelintir orang yang menyoroti Film Tilik dari sisi kajian feminisme dan bahkan tentang “kebodohan” orang desa. Dan masih banyak lagi perspektif lain yang mungkin belum sempat tertangkap mata saya saat scroll pemberitaan tentang Film Tilik.

Nah, melihat berbagai respons di atas, apa yang sejatinya kita tangkap dari Film Tilik? Betulkah film itu hanya sekadar menyajikan bahwa kemenangan justru dirasakan oleh penyebar gosip tingkat ulung? Atau ada banyak pesan moral yang ternyata bisa diambil?

Mempertontonkan hampir keseluruhan adegan berupa ibu-ibu yang berada dalam Gotrek, Film Tilik nyatanya menjadi representasi atas hidup kita yang sama repotnya. Itu pesan pertama. Ibaratnya Gotrek itu adalah lingkungan masyarakat dan ibu-ibu di dalamnya adalah keanekaragaman orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mulai dari yang selalu berkomentar seperti Bu Tejo, atau orang yang kontra dengan nyinyinyers seperti Yu Ning, dan tidak lupa juga ibu-ibu yang memilih pasif, “Wong hidupku sendiri dah repot. Diem aja wes.” Dan kita pribadi bisa saja memainkan peran salah satunya, dua diantaranya, atau bisa jadi ketiganya adalah pilihan opsi peran bagi kita tergantung pada siapa lawan bicara kita.

Kedua, belajar jadi “pendamai” dalam lingkungan yang memanas. Penggosip ulung seperti Bu Tejo juga perlu antek-antek. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak meruncingkan gosip yang belum tentu kebenarannya, mereka juga pasti diam. Hal ini bisa ditangkap langsung dari seluruh scene bahwa omongan Bu Tejo semakin merepet bak kereta api tidak pernah kehabisan bahan bakar karena selalu ada saja yang menyahuti.

Ketiga, menempatkan posisi yang seimbang dalam pergaulan. Jangan terlalu condong kiri ataupun condong kanan. Saya yakin kita lumrah menemui orang-orang seperti ibu-ibu dalam Film Tilik. Gosip yang belum menjadi fakta gak bisa kita hindari. Bila sudah begitu kondisinya, sebaiknya jangan terlalu banyak angkat bicara jika itu malah memperkeruh suasana. Jangankan yang belum pasti kebenarannya, sesuatu yang kita tau itu benar pun – yang jika digelontorkan malah membuat percekcokan, apalagi sampai membawa-bawa nama baik orang lain –sebaiknya jangan dibahas. Ibu-ibu yang memilih diam selama berada di truk jadi teladan untuk kita.

Pesan terakhir, harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk. Jika Bu Tejo dijadikan pusat perhatian seperti tidak ada nilai lebihnya, kali ini saya mau memberitahu bahwa Bu Tejo termasuk orang yang adaptif. Ketika ternyata usaha mereka untuk menjenguk Bu Lurah gagal, Bu Tejo dengan pemikiran visionernya mengajak Gotrek untuk mengantar mereka ke Pasar Beringharjo. Hal ini adalah sesuatu yang baik jika dilihat dari konteks efisiensi daya dan usaha ketika melakukan perjalanan. Mungkin ini satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Bu Tejo: dadi wong ki sing solutip!

 

*)Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 198

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 250

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks