Kebiasaan Aneh Peserta Webinar (dan Berikut Panitianya) 0 426

Di suatu akhir pekan, pagi hari, saya mengikuti sebuah webinar karena tuntutan pekerjaan. Saya diwajibkan meliput berdasarkan suatu topik yang masih ada hubungannya dengan Covid-19, yang mana pekerjaan ini tentu sudah menjadi sangat jamak di masa pandemi ini.

Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu bahasan ke bahasan lain, ada sejumlah kebiasaan peserta onlen yang saya perhatikan selalu bisa ditemui di seluruh webinar. Walau tak seperti pertemuan seminar tatap muka, kolom live chat yang disajikan di platform online sangat memungkinkan peserta saling berinteraksi  dan mengajukan pernyataan kepada admin pembuat pertemuan. Nah, di sanalah, lahir beberapa pola aktivitas yang setidaknya ingin digambarkan penulis sebagai berikut.

Pertama, dalam webinar dalam skala partisipan yang luas, tingkat nasional misalnya, akan banyak sekali peserta yang bergabung. Mereka biasanya dengan sukarela melakukan absen tanpa diminta panitia. Biasanya formatnya akan berupa: nama lengkap – kalau bisa diikuti dengan serenteng gelar dan jabatan, nama instansi yang dicantumkan dengan penuh rasa bangga, lalu diakhiri dengan kata “hadir” atau “izin menyimak”.

Penulis habis pikir sebenarnya apa maksud dan tujuan absensi ini. Mungkin secara teknis, panitia acara butuh melakukan pengukuran terhadap segmentasi peserta yang hadir, demi urusan administrasi dan cairnya uang negara – jika webinar adalah acara pemerintahan dengan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi, ada beberapa webinar yang sesungguhnya tak mengharuskan partisipan melakukan absensi.

Mungkin, Mbah Abraham Maslow benar soal teorinya hierarchy of needs. Dalam dua kebutuhan manusia yang terakhir, setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, adalah pentingnya pengakuan dari orang lain. Menunjukkan eksistensi, dengan kebanggaan jabatan dan nama besar instansi yang diwakili, mungkin digunakan untuk membayar gengsi dan harga diri di kolom live chat.

Mungkin hal ini tak bisa dipenuhi oleh mereka yang suka “pamer” di seminar tatap muka. Mereka yang punya kebiasaan bertanya, berpendapat di muka umum, mencari muka di depan narasumber, tak dapat melakukannya lagi di kala pandemi menghalangi pertemuan-pertemuan. Kolom live chat inilah yang barangkali memenuhi kehausan mereka ini.

Harapannya sih, kebutuhan mendapat pengakuan ini tak hanya berhenti di sini. Ada baiknya, penyebutan nama dan gelar serta nama lembaga itu menjadi awal mula diskusi sehat di kolom chat. Inilah kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow: aktualisasi diri. Ia bukan sekadar menunjukkan diri, tapi berusaha mengembangkan potensi, sehingga nantinya mencapai pemenuhan karakter, kepekaan terhadap kebenaran, keindahan, keadilan, dan sebagainya secara paripurna.

Kedua, yang tak kalah mengherankannya adalah jika gelar dan jabatan dalam instansi tempat bekerja tak bisa jadi kebangaan, paling tidak peserta biasanya menyebut “salam dari…” diikuti kota asal. Nah, yang satu ini juga tak tahu apa juntrungannya. Apa mungkin ini adalah buah dari etnosentrisme yang ada dalam habitus bangsa ini? Yang walaupun disatukan oleh Pancasila dan Sumpah Pemuda, tapi tetap ada suatu kebanggaan berlebih akan daerah asal atau kota kelahiran. Muaranya, tak jarang adalah “reuni” himpunan-himpunan perantau secara virtual.

Atau bisa jadi absensi nama dan kota asal ini justru memberi makan harga diri panitia penggelar webinar. Seakan-akan webinar dan berikut manfaat dari materi yang dibawakannya, telah didengar seluruh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Padahal, pun satu-dua orang yang mengaku berasal dari daerah tertentu, belum tentu bisa menjadi perwakilan karakteristik dan suara daerah yang bersangkutan.

Ketiga, jarang sekali ada komentar mengapresiasi konten atau penggelar acara yang sudah bersusah-payah memungkinkan webinar terjadi di dunia maya. Kalaupun ada, biasanya paling banter ya mek “Alhamdulillah, materinya keren sekali. Terima kasih pemateri dan panitia!”

Padahal, webinar seharusnya sama marwahnya seperti seminar tatap muka. Peserta seharusnya tak sekadar hadir, tapi terlibat dalam diskusi aktif agar materi yang disampaikan bukan hanya deklarasi yang cukup di telinga saja. Materi dalam webinar adalah wacana yang masih bisa diperdebatkan.

Namun, karena keterbatasan durasi dan sempitnya ruang diskusi yang disediakan para penggelar webinar, atau mungkin hanya formalitas “pokoknya ada acara buat ngabisin anggaran 2020”, kolom chat adalah tempat yang kering ilmu dan dinamika.

Katanya, teknologi komunikasi kita, media sosial kita ini, adalah wadah member kesempatan mereka yang selama ini tak punya akses bicara. Nyatanya, webinar tak ubahnya seminar dan media mainstream kita. Hanya mereka yang punya nama, jabatan, keahlian, dan modal, yang bisa bicara sebagai narasumber. Sisanya, kita-kita para netijen budiman cuma bisa numpang “absen” di kolom live chat.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yakin Kekayaan Akan Sia-sia jika Meninggal? 0 131

Beberapa hari belakangan, banyak kenalan keluarga saya yang pergi meninggalkan dunia menuju ke alam baka. Bukan, bukan karena Covid-19 si virus membagongkan saja, tapi juga riwayat penyakit yang mereka idap. Tapi, bukan itu yang saya akan bahas.

Fenomena banyaknya orang meninggal di sekitar saya mengingatkan saya dengan quote (yang katanya bijak), “janganlah sibuk mengumpulkan harta di dunia, uangmu di dunia tidak bisa kamu bawa”. Ya kira-kira seperti itu kalimatnya. Kata-kata itu sering saya dengar di gereja dan orang-orang sekitar saya.

Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung, tapi saya mau menjawab: MATAMU!

Harta memang tidak dibawa mati, tapi mati juga butuh harta. Mati bukan berarti dengan enaknya pergi ke alam lain tanpa masalah. Mati juga menimbulkan masalah baru bagi keluarga yang ditinggalkan: biaya.

Siapa bilang upacara mahal hanya ditimbulkan oleh pernikahan atau swit sepentin yang digelar di hotel? Tidak! Meninggal juga butuh biaya. Mohon jangan berpikiran upacara pemakaman yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman Ciputra yang super mevvah. Yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman yang cukup sederhana.

Meski upacara tidak digelar mewah dan hanya di rumah duka sederhana, biayanya bisa menyamai orang menikah di hotel. Mahalnya biaya pamakaman di Indonesia bahkan masih terbilang lebih terjangkau dari pada negara lain seperti Jepang.

Menurut pengalaman salah seorang keluarga saya yang meninggal 2017 silam, hanya untuk peti mati saja bisa menelan biaya sebesar 80 juta rupiah! Itupun tidak mewah-mewah banget. Kira-kira bisa dapat 4 Prada “Saffiano” ukuran kecil. Mahalnya peti mati memang menjadi permasalahan, bahkan juga dialami di luar negeri seperti Amerika Serikat.

Ini masih peti mati saja, belum ditambah biaya lainnya. Sewa rumah duka kira-kira mencapai 1,5 juta per lokal dan per hari. Untuk jenazah dengan jumlah keluarga dan pelayat yang besar, biasanya menyewa 2-3 lokal. Selanjutnya biaya ketering yang mencapai 30 ribu per porsi untuk nasi goreng yang tidak enak. Nasi goreng yang semakin banyak porsinya semakin murah itu.

Lalu, masih ada biaya makam yang mencapai 18 juta untuk tempat yang biasa saja. Biasanya, masih ada biaya per bulan untuk perawatan dan lain-lain (menurut laporan Insert Investigasi belasan tahun lalu, biaya perawatan ini tidak berlaku di San Diego Hills). Untuk pemakaman di bukit, biasanya semakin tinggi letak kuburan, semakin tinggi juga harganya. Karena semakin dekat Surga katanya. Yah kalau letak kuburan menentukan orang masuk Surga, ngapain susah payah menjalankan keagamaan, ya kan?!

Kembali ke biaya, biaya lainnya adalah biaya EO duka (yang tahu istilah yang benar, komen di bawah), mobil jenazah, jajan, baju mayat, dan lainnya. Belum lagi pihak penyewa rumah duka tidak dibebaskan parkir, padahal kami harus bolak-balik rumah duka-rumah. Bayangkan berapa kali uang lima ribu rupiah yang terkorbankan. Ditambah, biasanya upacara duka ini berlasung setidaknya tiga hari sampai akhirnya sang jenazah dikuburkan.

Biaya kematian ini juga bervariasi tergantung agama dan adat. Tapi, apapun adat dan agamanya, kesamaannya adalah sama-sama mahal. Apalagi kepercayaan orang Tionghoa bilang kalau untuk acara orang meninggal, TIDAK BAIK UNTUK MENAWAR. Katanya akan menimbulkan marabahaya.

Sangking mahalnya biaya urusan kematian ini, setiap tamu atau pelayat yang datang bukannya mengungkapkan dukacita, tapi selalu bilang “bisnis orang mati ini enak, yo“. Bukannya sedih, tapi semua berandai-andai menjadi pemilik Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya).

Maka dari itu, saya mengimbau untuk Pembaca atau kawan Anda yang terpikirkan untuk bunuh diri dan menyerah akan hidup, renungkanlah ini! Keluarga Anda akan tertimba masalah yang besar. Bukan hanya ditinggal orang yang terkasih, namun kematian juga meninggalkan biaya fantastis bagi keluarga.

Maka dari itu, harta juga perlu dikumpulkan untuk bekal Anda meninggal. Bukan untuk dibawa ke Surga atau Neraka, tapi ya untuk upacara kematian Anda sendiri.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Editor Picks