Kita Semua Benar Kecuali Mbak Denise 0 661

Cukup satu Denise Chariesta untuk mengacak-ngacak jiwa miskin kami.

Video berdurasi tak sampai satu menit itu menggegerkan linimasa media sosial dan mengundang tangan-tangan gatal kita untuk berkomentar. Dalam video itu, Mbak Denise dan teman-temannya mendeklarasikan diri sebagai orang kaya, dan hobi nongkrong di mall mevvah.

Di situ, mereka juga berucap, “kalau kalian (orang miskin) nongkrongnya di pinggiran, ya?”. Sebagaimana tabiat yang mudah emosi, sepertinya kalimat inilah yang kemudian membakar hati sebagian besar kita, para netijen.

Komentar yang terkirim beraneka ragam. Ada yang memaki, menasehati, memberi ayat-ayat suci, bahkan mendoakan celaka kepada Mbak Denise dan teman-temannya yang wajahnya nampang di video itu.

“Di atas langit masih ada langit. Gak usah sombong!”

Ini salah satunya. Lantas, beragam perbandingan dengan orang-orang yang dianggap lebih kaya, dimasukkan. “si A aja kaya gak pernah sombong dan norak kayak situ”. Barangkali kita semua yang salah. Berharap orang kaya harus berperilaku manis, anggun, lemah lembut, dan tidak pamer kepunyaannya.

Kita yang terlalu berharap, menuntut gambaran ideal pada seluruh orang berduit. Kita salut dan memberi jempol bagi mereka orang kaya yang naiknya Ferrari, tapi mau makan bakso malang di pinggiran jalan.

Mungkin juga, kita dimabukkan oleh cerita hepi ending dongeng anak-anak. Di mana kisah-kisah pangeran atau putri raja, yang selalu membela rakyat kecil, ingin hidup sederhana, diciptakan sedemikian rupa protagonis oleh sang sutradara.

Layaknya tokoh dongeng tersebut, kita menuntut orang-orang kaya agar jadi teladan sikap bagi kita, kaum kelas menengah. Mereka harusnya mengajarkan bersyukur, bukannya takabur! Bahwa harta di dunia ini juga datangnya dari Sang Kuasa, bukan semata-mata kerja keras di dunia!

“Sudah disindir sultan masih aja gak tahu malu!”

Kalimat ini juga muncul setelah deretan artis tanah air mengunggah video tanggapan. Bukankah kita sedang berperilaku tak adil pada Mbak Denise. Sementara itu, nama kondang lain semacam Denny Cagur, Raffi Ahmad, Andre Taulany, yang kalian agung-agungkan karena konten rumah besar dan koleksi motor mahal; kita bela mati-matian.

Bahkan, doa-doa baik agar mereka tetap sehat, sukses, dan bertambah kaya, tak segan-segan kita daraskan. Alih-alih menasehati agar tak pamer kekayaan, kita malah mendambakan punya rumah besar dan bergelimang harta layaknya mereka.

“Report akunnya biar gak berseliweran di timeline kita”

Sudah tahun 2020 dan masih banyak dari kita yang gak paham logika algoritma media sosial. Semakin sering kita melihat akun serupa, semakin sering berkomentar di konten yang sejenis, semakin sering pula wajah Mbak Denise muncul di rekomendasi timeline kita. Ya gak heran, lha wong yang kita tonton artis-artis yang sedang menunjukkan koleksi-koleksi mewahnya. Media sosial kan juga membaca habitus kita.

“Ini kan lagi masa susah pandemi,banyak yang di-PHK dan ekonomi lagi sulit, kok malah menyinggung orang yang ekonomi rendah sih Mbak!”

Baik sekali budi orang ini. Tapi siapa sih kita ini yang berhak menghakimi dan menyuruh orang untuk berperilaku “baik” sesuai ukuran kita? Ada banyak cara untuk mengabaikan konten yang menyakiti hati kita, ketimbang nyocoti wong, sok-sokan jadi polisi moral dan berlagak membela kepentingan kaum tertindas, padahal belum tentu yang kita lakukan berdampak juga pada orang-orang yang seharusnya dibela.

“Ih, belajar ngomong huruf R dulu sana!”

Kecenderungan kita jika tak bisa lagi mencari kesalahan orang, adalah menyerang hal-hal yang sifatnya personal, walau gak nyambung-nyambung amat dengan permasalahan utama. Tujuannya tentu menjatuhkan karakternya, karena bagi kita dia pantas mendapatkannya. Kita jadi sibuk menghakimi dan mengejek kelemahan orang lain karena merasa tersinggung, tanpa sadar bahwa kita juga bisa saja menyakitihatinya.

Lagi pula, penulis sebagai bagian dari anggota aktif komunitas Persatuan Cadel Indonesia menyatakan sikap: bahwa kalimat kami masih bisa terdengar jelas konsep dan konteksnya, walau tidak dengan artikulasi yang semestinya. Kami mengecam keras ejekan semacam ini! (lho kok melok-melok tersinggung)

“Enaknya ‘dipake’ dan diewe rame-rame, nih!”

Ini mungkin komentar kita yang ter-epic. Ini adalah senjata terakhir kita dalam menjatuhkan karakter seseorang. Sebab kita orang Indonesia yang mengaku beradat ketimuran ini, tak bisa melepaskan pandang pada soal seputar selangkangan. Dan bahwa kita ini adalah orang-orang yang merasa berhak melepaskan syahwat seenak jidat. Bahwa logika ini sudah terbalik-balik dan melenceng dari persoalan utama, lain soal.

Terlepas dari ini semua, kita mungkin lupa hakikat awal pembuatan video ini. Kita bebas mengekspresikan diri melalui aplikasi paling mukhtahir mengusir kebosanan: TikTok. Kita tiba-tiba bisa njoged walau bukan penari profesional. Kita menunjukkan ekspresi wajah lucu dan belajar meningkatkan kepercayaan diri. Tak ada yang menghalangi kita.

Tapi begitu ada satu konten Denise yang congkak hati, yang juga tak dilarang agama dan negara, kita olok habis-habisan. Selamat tinggal freedom of speech! Kita semua boleh bersenang-senang, bahkan cari duit dariTikTok, kecuali Denise!

Bisnis-bisnis Denise yang sangar itu, coffee shop-nya dengan kemasan nampak premium yang harganya bikin melongo kaum proletar macam kita, florist-nya yang jadi langganan banyak pesohor nasional itu. Kedua store-nya boleh jadi berlokasi di Pacific Place, mall paling beken di Jakarta Selatan, yang masuk ke lobinya aja bikin minder dan berkeliling ke food court-nya bikin hati ciut akibat tak familiar dengan nama-nama tenant makanannya.

Paling-paling semuanya itu cuma tipu-tipu dan hasil ngutang! Ya kan? Ngaku kamu, Mbak Denise!

– jeritan hati netijen sing ngopine nang warkop giras, nukokno kembang pacare nang Kayoon

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Alasan Mengapa Aldi Taher Adalah Artis Paling Berprestasi Abad Ini 0 257

Sebelumnya, Penulis menahan diri dan mencoba melihat fenomena ketenaran Aldi Taher lebih jauh. Agar yang dituliskan nantinya (dan yang kalian baca saat ini) adalah kata-kata terbijak yang Penulis mampu tuliskan.

Rahmat Aldiansyah atau dikenal dengan Aldi Taher adalah selebritis generasi lama. Sejak 2000-an ia sudah familiar dengan dunia entertainment. Anda-Anda yang seumuran saya pasti sering melihat ia dulu mondar-mandir di sinetron dan ftv layar kaca, ataupun film horror layar lebar.

Tapi, ini semua berubah sejak Aldi Taher rekam posting baca al-Quran di Instagram. Belum ditambah beragam gimmick tag-tag akun Instagram seluruh artis terkenal dan media, mengaku ingin jadi wakil gubernur DKI Jakarta, hingga berambisi melaju di Pilpres Amerika Serikat.

Kita memang menganggap Aldi Taher kini mungkin aneh. Kita bertanya-tanya apa yang mendasarinya berperilaku tak masuk akal. Tapi, justru di situlah nilai jualnya.

Dalam kaidah berita, keunikan adalah salah satu unsur penting berita. Suatu peristiwa tidak akan diliput dan ditayangkan dalam berita jika tidak unik atau berbeda. Ini teori dasar jurnalistik ya, yang dipelajari anak-anak komunikasi di kampus-kampus beken, hingga kami terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Aldi Taher adalah perwujudan sempurna dari unsur keunikan ini. Ia bangun dari hibernasinya di dunia hiburan dengan suatu persona yang berbeda, stand out from the rest. Ia menjadi ustadz dadakan yang pandai mengaji. Atau sebagai pencipta lagu serba bisa.

Usahanya berhasil bukan? Buktinya, kita semua membicarakannya, dan bahkan tulisan ini lahir menjawab betapa sering namanya menduduki trending topic.

Barangkali, sebagian besar netijen menganggap Aldi Taher adalah artis tukang cari sensasi. Kita beranggapan bahwa artis yang ingin terkenal harus berkarya dan mencetak prestasi. Lagipula, sejak kapan ada pakem seperti ini?

Bukankah apa yang diciptakan Aldi kini adalah karya seni juga? Rekam posting itu sebuah konten dan perlu diakui sebagai karya dalam konteks kebebasan berekspresi. Demikian pula dengan lagi “NISSA SABYAAANN~ I LOVE YOUUU SO MUCH” yang ia ciptakan. Apalagi, liriknya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan rikues khalayak. Sungguh inovatif, bukan?

Keseluruhan usaha membuat sensasi ini justru membuat Aldi Taher mencetak prestasi: membuat namanya menjadi top of mind kita. Lirik dan nada lagunya sangat menempel di benak kita, dan diam-diam kita senandungkan ketika sedang masak mie instan, atau sedang menunggu bis datang di halte. Dan lagi, paling tidak ketika ditanya “siapa artis paling aneh di dunia” kita akan menyebut nama Aldi Taher bukan?

Perlu juga diakui, bahwa Aldi Taher cerdas membaca situasi. Ia tahu cara bertahan di industri hiburan hari ini. Bisnis media kita kan memang demikian, siapa yang viral dan sensasional, dialah yang akan bertahan lama.

Dari seorang Aldi Taher yang mencetak prestasi dengan kemampuan modelling, akting, dan menyanyinya yang sungguh-sungguh di masa silam. Kini ia bertransformasi menjadi Aldi Taher yang absurd. Nyatanya, ia kini berhasil jadi rebutan bintang tamu televisi dan Youtube.

Tentu, soal substansi konten dan gagasan pribadi yang sering ia lontarkan tentang beramal, poligami, hingga maksiat tak perlu kita bahas. Sebab penulis tentu tak punya kapasitas di bidang itu.

Yang jelas, prestasi Aldi Taher adalah mampu menciptakan sensasi atas dirinya sendiri, dan mampu beradaptasi di kerasnya situasi era ini. Kitalah yang seharusnya banyak belajar darinya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks