Kursi Kosong Najwa Shihab dan Kita yang Sibuk Menghakimi 0 786

Lagi-lagi Najwa Shihab menggemparkan dunia persilatan!

Sebagai jurnalis terbaik di Indonesia saat ini, ia merupakan bukti bagaimana membuat karya tak hanya menyuarakan kepentingan publik dan mengkritisi penguasa, tapi juga bisa diterima khalayak dan berdampak.

Dampak yang penulis maksud ini, gak selalu harus positif lho, ya!

Wawancaranya dengan kursi kosong beberapa hari lalu lantas menuai pro dan kontra. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Maju, Terawan Agus Putranto. Namun, menurut keterangan Mbak Nana (selanjutnya saya akan menyebutnya demikian biar kelihatan akrab) di video berdurasi tak sampai 5 menit ini, tim Mata Najwa – talk show bergenre politik besutan Najwa Shihab – telah mengundang yang bersangkutan berulang kali, tapi berulang kali itu pula ia menunjukkan batang hidungnya.

Sebagian yang pro memuji dan memuja karya Nana. Baru hitungan 24 jam diunggah ke Youtube, sudah ada lebih dari 1 juta penonton, belum ditambah jumlah penonton di akun medsos pribadi, Narasi, dan jutaan komentar yang timbul karenanya.

Mereka yang pro ini, setuju dan menggantungkan kepercayaannya pada jurnalis kawakan sekelas Nana. Tentu saja mengajukan pertanyaan di hadapan kursi kosong ini sudah berdasarkan riset dan mewakili keresahan hati umat. Hal ini juga dikonfirmasi kemudian di caption Instagram Najwa Shihab.

Pun, teknik ini juga sudah banyak dilakukan di luar negeri, demikian pula Nana menyebutnya. Di Inggris misalnya, wawancara Kay Burley di Sky News kepada Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Atau yang dilakukan Andrew Neil kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sebelum pemilu.

Selain itu, satire menjadi sastra yang berhak pula dimasukkan ke dalam karya jurnalistik, demi kian sebagian orang menilai karya #MataNajwaMenantiTerawanini.

Tapi, yang kontra tak kalah banyaknya. Ada yang kaku sekali soal prinsip jurnalisme. Pada tahapan seorang Nana yang belasan tahun menjadi jurnalis, seharusnya ia tahu betul bahwa karya jurnalistik harus mengutamakan asas keberimbangan. Setiap orang yang menjadi narasumber dari berbagai sisi dan kubu harus mendapat porsi menjawab yang sama. Dalam hal ini, ia dinilai sengaja mencecar Terawan dengan sejumlah pertanyaan tanpa berusaha menghadirkan pembelaan darinya.

Ada pula yang berkomentar Nana hanya mencari sensasi. Sebagai fans gak terlalu garis keras, menurut saya, Nana sudah selesai dengan apa yang dinamakan popularitas.  Ia sudah memilikinya sejak reportase fenomenalnya, menangis di tsunami Aceh, apalagi  latar belakangnya sebagai anak cendekiawan dan mantan Menteri Agama di era Soeharto, Quraish Shihab.

Ia pun dituding melakukan bullying. Padahal, karya ini bisa jadi bukan hanya menggugah hati menkes seorang. Ini adalah kritik terhadap keseluruhan sistem kementerian, dan bahkan kabinet berkuasa yang memilih bungkam pada keadaan super genting.

Nana ingin mengingatkan kita, rakyat yang berleha-leha di rumah sembari bikin TikTok ini, soal peran besar Menteri Terawan, yang seharusnya paling bertanggung jawab selama tujuh bulan pandemi ini. Ironisnya, yang selama ini kita kenal dari sang menteri hanyalah jargon “nanti juga sembuh sendiri”.

Sedangkan presiden sibuk membuat beragam komite. Nama Doni Monardo selaku ketua Satgas Covid, Airlangga Hartarto sebagai ketua Komite Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dan tentu saja Lord Luhut Binsar, menteri segala urusan, kini lebih populer.

Pertanyaan “kemana Menteri Terawan?” seharusnya memang diajukan kembali kepada Pak Presiden Jokowi tercinta. Pertanyaan genit macam “Terawan disuruh diam biar gak blunder terus ya?” seharusnya sangat sah kita ajukan bersama di negara demokras iini.

Di luar ini semua, Nana memang pantas digelari jurnalis terbaik negeri ini. Inget ya, penulis gak di-endorse!

Ia tahu betul siapa segmentasi audiensnya. Ia selama ini telah rajin membangun brand image melalui gaya fesyen misalnya. Nana tak hanya dikenal sebagai jurnalis perempuan yang powerful dan duta baca nasional, tapi akhir-akhir ini juga duta sepatu sneakers. Terlihat dari postingannya semenjak menjadi bos Narasi, tak pernah lepas dari sepatu-sepatu kekinian yang harganya bikin melongo kaum proletar.

Gaya  kekinian dan serba muda yang terus dianut Nana adalah tanda kesadarannya, bahwa acaranya Mata Najwa, dan konten Narasi-nya banyak ditonton remaja dan kaum muda. Pada poin ini, ia juga berhasil mendekatkan topik politik pada adek-adek gemes. Kita, kaum muda ini lantas dibuat terpikat, tertambat, dan setia mengapresiasinya.

Proses panjang menjadikan audiensnya loyal dan mendukung karya jurnalistiknya, semakin terwujud nyata dari aksinya mewawancarai kursi kosong ini. Ia tahu bahwa konten ini akan menjadi ramai diperbincangkan. Entah menjadi meme dan menjajaki trending topic, atau yang kelewat serius karena tersinggung. Ia tahu betul bahwa kursi kosong itu akan membuat petinggi kebakaran jenggot, sementara kita, netijen yang selama ini tertidur dan mengeluh bosan karena PSBB, menjadi geram dibuatnya.

Jadi, sudah patutkah wawancara kursi kosong ini dari segi etika? Siapalah saya dan Anda ini yang berhak mengadili? Selagi kita berdebat menjawabi pertanyaan ini dengan sok-sokan membawa teori dan harga diri, Nana sedang menikmati buaian kemenangan algoritma media sosial yang membuatnya semakin populer.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 158

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 152

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks