Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 251

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebiasaan Aneh Peserta Webinar (dan Berikut Panitianya) 0 270

Di suatu akhir pekan, pagi hari, saya mengikuti sebuah webinar karena tuntutan pekerjaan. Saya diwajibkan meliput berdasarkan suatu topik yang masih ada hubungannya dengan Covid-19, yang mana pekerjaan ini tentu sudah menjadi sangat jamak di masa pandemi ini.

Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu bahasan ke bahasan lain, ada sejumlah kebiasaan peserta onlen yang saya perhatikan selalu bisa ditemui di seluruh webinar. Walau tak seperti pertemuan seminar tatap muka, kolom live chat yang disajikan di platform online sangat memungkinkan peserta saling berinteraksi  dan mengajukan pernyataan kepada admin pembuat pertemuan. Nah, di sanalah, lahir beberapa pola aktivitas yang setidaknya ingin digambarkan penulis sebagai berikut.

Pertama, dalam webinar dalam skala partisipan yang luas, tingkat nasional misalnya, akan banyak sekali peserta yang bergabung. Mereka biasanya dengan sukarela melakukan absen tanpa diminta panitia. Biasanya formatnya akan berupa: nama lengkap – kalau bisa diikuti dengan serenteng gelar dan jabatan, nama instansi yang dicantumkan dengan penuh rasa bangga, lalu diakhiri dengan kata “hadir” atau “izin menyimak”.

Penulis habis pikir sebenarnya apa maksud dan tujuan absensi ini. Mungkin secara teknis, panitia acara butuh melakukan pengukuran terhadap segmentasi peserta yang hadir, demi urusan administrasi dan cairnya uang negara – jika webinar adalah acara pemerintahan dengan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi, ada beberapa webinar yang sesungguhnya tak mengharuskan partisipan melakukan absensi.

Mungkin, Mbah Abraham Maslow benar soal teorinya hierarchy of needs. Dalam dua kebutuhan manusia yang terakhir, setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, adalah pentingnya pengakuan dari orang lain. Menunjukkan eksistensi, dengan kebanggaan jabatan dan nama besar instansi yang diwakili, mungkin digunakan untuk membayar gengsi dan harga diri di kolom live chat.

Mungkin hal ini tak bisa dipenuhi oleh mereka yang suka “pamer” di seminar tatap muka. Mereka yang punya kebiasaan bertanya, berpendapat di muka umum, mencari muka di depan narasumber, tak dapat melakukannya lagi di kala pandemi menghalangi pertemuan-pertemuan. Kolom live chat inilah yang barangkali memenuhi kehausan mereka ini.

Harapannya sih, kebutuhan mendapat pengakuan ini tak hanya berhenti di sini. Ada baiknya, penyebutan nama dan gelar serta nama lembaga itu menjadi awal mula diskusi sehat di kolom chat. Inilah kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow: aktualisasi diri. Ia bukan sekadar menunjukkan diri, tapi berusaha mengembangkan potensi, sehingga nantinya mencapai pemenuhan karakter, kepekaan terhadap kebenaran, keindahan, keadilan, dan sebagainya secara paripurna.

Kedua, yang tak kalah mengherankannya adalah jika gelar dan jabatan dalam instansi tempat bekerja tak bisa jadi kebangaan, paling tidak peserta biasanya menyebut “salam dari…” diikuti kota asal. Nah, yang satu ini juga tak tahu apa juntrungannya. Apa mungkin ini adalah buah dari etnosentrisme yang ada dalam habitus bangsa ini? Yang walaupun disatukan oleh Pancasila dan Sumpah Pemuda, tapi tetap ada suatu kebanggaan berlebih akan daerah asal atau kota kelahiran. Muaranya, tak jarang adalah “reuni” himpunan-himpunan perantau secara virtual.

Atau bisa jadi absensi nama dan kota asal ini justru memberi makan harga diri panitia penggelar webinar. Seakan-akan webinar dan berikut manfaat dari materi yang dibawakannya, telah didengar seluruh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Padahal, pun satu-dua orang yang mengaku berasal dari daerah tertentu, belum tentu bisa menjadi perwakilan karakteristik dan suara daerah yang bersangkutan.

Ketiga, jarang sekali ada komentar mengapresiasi konten atau penggelar acara yang sudah bersusah-payah memungkinkan webinar terjadi di dunia maya. Kalaupun ada, biasanya paling banter ya mek “Alhamdulillah, materinya keren sekali. Terima kasih pemateri dan panitia!”

Padahal, webinar seharusnya sama marwahnya seperti seminar tatap muka. Peserta seharusnya tak sekadar hadir, tapi terlibat dalam diskusi aktif agar materi yang disampaikan bukan hanya deklarasi yang cukup di telinga saja. Materi dalam webinar adalah wacana yang masih bisa diperdebatkan.

Namun, karena keterbatasan durasi dan sempitnya ruang diskusi yang disediakan para penggelar webinar, atau mungkin hanya formalitas “pokoknya ada acara buat ngabisin anggaran 2020”, kolom chat adalah tempat yang kering ilmu dan dinamika.

Katanya, teknologi komunikasi kita, media sosial kita ini, adalah wadah member kesempatan mereka yang selama ini tak punya akses bicara. Nyatanya, webinar tak ubahnya seminar dan media mainstream kita. Hanya mereka yang punya nama, jabatan, keahlian, dan modal, yang bisa bicara sebagai narasumber. Sisanya, kita-kita para netijen budiman cuma bisa numpang “absen” di kolom live chat.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

Kursi Kosong Najwa Shihab dan Kita yang Sibuk Menghakimi 0 422

Lagi-lagi Najwa Shihab menggemparkan dunia persilatan!

Sebagai jurnalis terbaik di Indonesia saat ini, ia merupakan bukti bagaimana membuat karya tak hanya menyuarakan kepentingan publik dan mengkritisi penguasa, tapi juga bisa diterima khalayak dan berdampak.

Dampak yang penulis maksud ini, gak selalu harus positif lho, ya!

Wawancaranya dengan kursi kosong beberapa hari lalu lantas menuai pro dan kontra. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Maju, Terawan Agus Putranto. Namun, menurut keterangan Mbak Nana (selanjutnya saya akan menyebutnya demikian biar kelihatan akrab) di video berdurasi tak sampai 5 menit ini, tim Mata Najwa – talk show bergenre politik besutan Najwa Shihab – telah mengundang yang bersangkutan berulang kali, tapi berulang kali itu pula ia menunjukkan batang hidungnya.

Sebagian yang pro memuji dan memuja karya Nana. Baru hitungan 24 jam diunggah ke Youtube, sudah ada lebih dari 1 juta penonton, belum ditambah jumlah penonton di akun medsos pribadi, Narasi, dan jutaan komentar yang timbul karenanya.

Mereka yang pro ini, setuju dan menggantungkan kepercayaannya pada jurnalis kawakan sekelas Nana. Tentu saja mengajukan pertanyaan di hadapan kursi kosong ini sudah berdasarkan riset dan mewakili keresahan hati umat. Hal ini juga dikonfirmasi kemudian di caption Instagram Najwa Shihab.

Pun, teknik ini juga sudah banyak dilakukan di luar negeri, demikian pula Nana menyebutnya. Di Inggris misalnya, wawancara Kay Burley di Sky News kepada Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Atau yang dilakukan Andrew Neil kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sebelum pemilu.

Selain itu, satire menjadi sastra yang berhak pula dimasukkan ke dalam karya jurnalistik, demi kian sebagian orang menilai karya #MataNajwaMenantiTerawanini.

Tapi, yang kontra tak kalah banyaknya. Ada yang kaku sekali soal prinsip jurnalisme. Pada tahapan seorang Nana yang belasan tahun menjadi jurnalis, seharusnya ia tahu betul bahwa karya jurnalistik harus mengutamakan asas keberimbangan. Setiap orang yang menjadi narasumber dari berbagai sisi dan kubu harus mendapat porsi menjawab yang sama. Dalam hal ini, ia dinilai sengaja mencecar Terawan dengan sejumlah pertanyaan tanpa berusaha menghadirkan pembelaan darinya.

Ada pula yang berkomentar Nana hanya mencari sensasi. Sebagai fans gak terlalu garis keras, menurut saya, Nana sudah selesai dengan apa yang dinamakan popularitas.  Ia sudah memilikinya sejak reportase fenomenalnya, menangis di tsunami Aceh, apalagi  latar belakangnya sebagai anak cendekiawan dan mantan Menteri Agama di era Soeharto, Quraish Shihab.

Ia pun dituding melakukan bullying. Padahal, karya ini bisa jadi bukan hanya menggugah hati menkes seorang. Ini adalah kritik terhadap keseluruhan sistem kementerian, dan bahkan kabinet berkuasa yang memilih bungkam pada keadaan super genting.

Nana ingin mengingatkan kita, rakyat yang berleha-leha di rumah sembari bikin TikTok ini, soal peran besar Menteri Terawan, yang seharusnya paling bertanggung jawab selama tujuh bulan pandemi ini. Ironisnya, yang selama ini kita kenal dari sang menteri hanyalah jargon “nanti juga sembuh sendiri”.

Sedangkan presiden sibuk membuat beragam komite. Nama Doni Monardo selaku ketua Satgas Covid, Airlangga Hartarto sebagai ketua Komite Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dan tentu saja Lord Luhut Binsar, menteri segala urusan, kini lebih populer.

Pertanyaan “kemana Menteri Terawan?” seharusnya memang diajukan kembali kepada Pak Presiden Jokowi tercinta. Pertanyaan genit macam “Terawan disuruh diam biar gak blunder terus ya?” seharusnya sangat sah kita ajukan bersama di negara demokras iini.

Di luar ini semua, Nana memang pantas digelari jurnalis terbaik negeri ini. Inget ya, penulis gak di-endorse!

Ia tahu betul siapa segmentasi audiensnya. Ia selama ini telah rajin membangun brand image melalui gaya fesyen misalnya. Nana tak hanya dikenal sebagai jurnalis perempuan yang powerful dan duta baca nasional, tapi akhir-akhir ini juga duta sepatu sneakers. Terlihat dari postingannya semenjak menjadi bos Narasi, tak pernah lepas dari sepatu-sepatu kekinian yang harganya bikin melongo kaum proletar.

Gaya  kekinian dan serba muda yang terus dianut Nana adalah tanda kesadarannya, bahwa acaranya Mata Najwa, dan konten Narasi-nya banyak ditonton remaja dan kaum muda. Pada poin ini, ia juga berhasil mendekatkan topik politik pada adek-adek gemes. Kita, kaum muda ini lantas dibuat terpikat, tertambat, dan setia mengapresiasinya.

Proses panjang menjadikan audiensnya loyal dan mendukung karya jurnalistiknya, semakin terwujud nyata dari aksinya mewawancarai kursi kosong ini. Ia tahu bahwa konten ini akan menjadi ramai diperbincangkan. Entah menjadi meme dan menjajaki trending topic, atau yang kelewat serius karena tersinggung. Ia tahu betul bahwa kursi kosong itu akan membuat petinggi kebakaran jenggot, sementara kita, netijen yang selama ini tertidur dan mengeluh bosan karena PSBB, menjadi geram dibuatnya.

Jadi, sudah patutkah wawancara kursi kosong ini dari segi etika? Siapalah saya dan Anda ini yang berhak mengadili? Selagi kita berdebat menjawabi pertanyaan ini dengan sok-sokan membawa teori dan harga diri, Nana sedang menikmati buaian kemenangan algoritma media sosial yang membuatnya semakin populer.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks