Narkoba Jenis Baru, Penanganan Gaya Lama 0 179

Oleh: Julian Sadam*

Hujan yang nggak berhenti sejak dua jam dan air mengalir dari plafon yang bocor menjadi kemasan esensial untuk menonton televisi sambil makan mie kuah telor. Entah mengapa setiap kali aku menyalakan tv, selalu diarahkan pada channel berita yang sama.

Waktu itu, headline berita kebetulan menuliskan “selebgram ditangkap pakai narkoba jenis baru”. Aku sendiri nggak tahu dengan selebgram yang dimaksud ataupun karya-karyanya. Namun rasanya, memajang tersangka narkoba berbaju tahanan beserta barang bukti masih ampuh untuk menggenjot rating pemberitaan. Apalagi si tersangka adalah selebgram yang punya followers banyak. Wajar saja waktu prime time dipilih untuk menyiarkan berita yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi khalayak banyak.

Berita itu diselingi dengan video call bersama pejabat BNN yang menjelaskan kronologi penangkapan serta narasi normatif yang selalu sama seperti setiap kasus penangkapan serupa. Dan ditutup dengan tulisan nama tersangka tanpa ada sensor inisial, berikut ancaman hukuman 15 tahun yang membayanginya. Waduh. Itu mampu memunculkan rasa iba di benak orang dengan taraf empati minim macam diriku.

Tak terhitung lamanya perang terhadap narkoba ini diagendakan, tak terhitung juga berapa banyak korban yang harus kehilangan waktu akibat implementasi hukumnya yang salah kaprah. Mbak selebgram itu hanya salah satu yang tidak beruntung.

Aku sepintas teringat tulisan Dandhy dalam buku Indonesia For Sale tentang penertiban pedagang liar. Penertiban akan selalu ada. Sebab, bila tak ada proyek penertiban, maka tak ada anggaran. Supaya proyek penertiban selalu ada, maka ketidaktertiban dan pelanggaran juga harus selalu tersedia.

Jadinya, banyak pelanggar ketertiban dibiarkan bahkan ‘dipelihara’, hingga tiba musimnya proyek penertiban. Jika persoalan diatasi secara ad-hoc agar tidak hilang secara permanen, maka proyek penertiban dan anggaran akan ikut lenyap. Begitu seterusnya.

Rasanya, analogi itu bisa digunakan untuk kasus pemberantasan narkoba, rasanya loh ya. Mengingat sudah sejak lama, kita seperti tidak pernah menang melawan narkoba. Mungkin bisa ditelusuri, lebih banyak mana anggaran untuk BNN atau reskoba di daerah kalian dibanding untuk pendidikan dasar atau puskesmas-puskesmas.

Penanganan kasus narkoba yang umumnya masih diproses sebagai tindak pidana, membuat pengguna narkoba yang sebenarnya adalah korban, ditempatkan sebagai terpidana di ruang tahanan negara. Itu adalah kesalahan, mengingat bagaimana masifnya narkoba justru beredar dalam penjara, seperti yang pernah secara semi-investigatif diliput oleh Mbak Nana.

Pengguna narkoba bukanlah kriminal. Sebaliknya, mereka adalah korban perilakunya sendiri yang perlu mendapat pertolongan. Masalah adiksi itu bukan masalah polisi, melainkan masalah kedokteran, yang secara ilmiah mempunyai kompetensi untuk membantu pengguna terlepas dari ketergantungannya.

Eunike Sri Tyas Suci juga pernah nulis di buku Jalan Panjang Pemulihan Pecandu Narkoba, kalau UU Nomor 35 Tahun 2009 sendiri, pengesahannya dilakukan secara tergesa-gesa sehingga ada sejumlah isu yang luput untuk dikaji lebih jauh. Khususnya terkait dengan perlakuan yang lebih humanis pada pengguna narkoba. Tren menangkap pengguna narkoba dengan pendekatan kriminal sudah lewat karena dirasa tidak efektif, dan bahkan membuat permasalahan lebih kompleks mengingat kapasitas penjara sangat terbatas.

Ada 4 tingkatan pengguna narkoba; experimenters (coba-coba), recreational users (rekreasi), involved users (biasa), dan dysfunctional abusers (pecandu). Nah, kebijakan narkoba di Indonesia belum membedakan keempat tingkatan itu. Sehingga, siapapun orang yang menggunakan narkotika, dapat terjerat dalam ketentuan dan sanksi hukum yang sama.

Kalau menurutku, cara agar kita bisa menang melawan narkoba adalah ya dengan tidak memeranginya, tapi mempelajarinya. You live, you learn, you upgrade kan?

Percayalah bahwa zat-zat yang terkandung dalam setiap narkoba yang memenuhi draft Kemenkes itu, sedikit banyak memiliki manfaat untuk kesehatan manusia. Upgrade undang-undang yang relevan dengan ilmu pengetahuan. Jika penyalahgunaan narkoba menjadi masalah, toh ada obat-obat macam morfin dan berbagai anti depresan yang beredar dengan ijin ketat.

Selama undang-undang mendukung ilmu pengetahuan, semua penyalahgunaan akan bisa dicegah. Menggembor-gemborkan narkoba sebagai barang yang berbahaya justru membuat orang jadi penasaran dan tertarik mencarinya.

Motif para bandar itu jelas; keuntungan, uang. Jika penanganan hanya mbulet ke para pengguna ecek-ecek, tentu kita banyak bertanya apa motif sebenarnya dari para pemberantas?

Ah.. mie kuah telorku langsung tandas tak tersisa. Mbak selebgram, semangat ya!

 

*)Akrab dipanggil Adam. Lahir di Karanganyar pada malam Selasa menjelang lailatul qadar. Aktif mengisi konten di berbagai laman dan baru saja menerbitkan buku pertamanya berjudul Satu Kosong.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks