Narkoba Jenis Baru, Penanganan Gaya Lama 0 129

Oleh: Julian Sadam*

Hujan yang nggak berhenti sejak dua jam dan air mengalir dari plafon yang bocor menjadi kemasan esensial untuk menonton televisi sambil makan mie kuah telor. Entah mengapa setiap kali aku menyalakan tv, selalu diarahkan pada channel berita yang sama.

Waktu itu, headline berita kebetulan menuliskan “selebgram ditangkap pakai narkoba jenis baru”. Aku sendiri nggak tahu dengan selebgram yang dimaksud ataupun karya-karyanya. Namun rasanya, memajang tersangka narkoba berbaju tahanan beserta barang bukti masih ampuh untuk menggenjot rating pemberitaan. Apalagi si tersangka adalah selebgram yang punya followers banyak. Wajar saja waktu prime time dipilih untuk menyiarkan berita yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi khalayak banyak.

Berita itu diselingi dengan video call bersama pejabat BNN yang menjelaskan kronologi penangkapan serta narasi normatif yang selalu sama seperti setiap kasus penangkapan serupa. Dan ditutup dengan tulisan nama tersangka tanpa ada sensor inisial, berikut ancaman hukuman 15 tahun yang membayanginya. Waduh. Itu mampu memunculkan rasa iba di benak orang dengan taraf empati minim macam diriku.

Tak terhitung lamanya perang terhadap narkoba ini diagendakan, tak terhitung juga berapa banyak korban yang harus kehilangan waktu akibat implementasi hukumnya yang salah kaprah. Mbak selebgram itu hanya salah satu yang tidak beruntung.

Aku sepintas teringat tulisan Dandhy dalam buku Indonesia For Sale tentang penertiban pedagang liar. Penertiban akan selalu ada. Sebab, bila tak ada proyek penertiban, maka tak ada anggaran. Supaya proyek penertiban selalu ada, maka ketidaktertiban dan pelanggaran juga harus selalu tersedia.

Jadinya, banyak pelanggar ketertiban dibiarkan bahkan ‘dipelihara’, hingga tiba musimnya proyek penertiban. Jika persoalan diatasi secara ad-hoc agar tidak hilang secara permanen, maka proyek penertiban dan anggaran akan ikut lenyap. Begitu seterusnya.

Rasanya, analogi itu bisa digunakan untuk kasus pemberantasan narkoba, rasanya loh ya. Mengingat sudah sejak lama, kita seperti tidak pernah menang melawan narkoba. Mungkin bisa ditelusuri, lebih banyak mana anggaran untuk BNN atau reskoba di daerah kalian dibanding untuk pendidikan dasar atau puskesmas-puskesmas.

Penanganan kasus narkoba yang umumnya masih diproses sebagai tindak pidana, membuat pengguna narkoba yang sebenarnya adalah korban, ditempatkan sebagai terpidana di ruang tahanan negara. Itu adalah kesalahan, mengingat bagaimana masifnya narkoba justru beredar dalam penjara, seperti yang pernah secara semi-investigatif diliput oleh Mbak Nana.

Pengguna narkoba bukanlah kriminal. Sebaliknya, mereka adalah korban perilakunya sendiri yang perlu mendapat pertolongan. Masalah adiksi itu bukan masalah polisi, melainkan masalah kedokteran, yang secara ilmiah mempunyai kompetensi untuk membantu pengguna terlepas dari ketergantungannya.

Eunike Sri Tyas Suci juga pernah nulis di buku Jalan Panjang Pemulihan Pecandu Narkoba, kalau UU Nomor 35 Tahun 2009 sendiri, pengesahannya dilakukan secara tergesa-gesa sehingga ada sejumlah isu yang luput untuk dikaji lebih jauh. Khususnya terkait dengan perlakuan yang lebih humanis pada pengguna narkoba. Tren menangkap pengguna narkoba dengan pendekatan kriminal sudah lewat karena dirasa tidak efektif, dan bahkan membuat permasalahan lebih kompleks mengingat kapasitas penjara sangat terbatas.

Ada 4 tingkatan pengguna narkoba; experimenters (coba-coba), recreational users (rekreasi), involved users (biasa), dan dysfunctional abusers (pecandu). Nah, kebijakan narkoba di Indonesia belum membedakan keempat tingkatan itu. Sehingga, siapapun orang yang menggunakan narkotika, dapat terjerat dalam ketentuan dan sanksi hukum yang sama.

Kalau menurutku, cara agar kita bisa menang melawan narkoba adalah ya dengan tidak memeranginya, tapi mempelajarinya. You live, you learn, you upgrade kan?

Percayalah bahwa zat-zat yang terkandung dalam setiap narkoba yang memenuhi draft Kemenkes itu, sedikit banyak memiliki manfaat untuk kesehatan manusia. Upgrade undang-undang yang relevan dengan ilmu pengetahuan. Jika penyalahgunaan narkoba menjadi masalah, toh ada obat-obat macam morfin dan berbagai anti depresan yang beredar dengan ijin ketat.

Selama undang-undang mendukung ilmu pengetahuan, semua penyalahgunaan akan bisa dicegah. Menggembor-gemborkan narkoba sebagai barang yang berbahaya justru membuat orang jadi penasaran dan tertarik mencarinya.

Motif para bandar itu jelas; keuntungan, uang. Jika penanganan hanya mbulet ke para pengguna ecek-ecek, tentu kita banyak bertanya apa motif sebenarnya dari para pemberantas?

Ah.. mie kuah telorku langsung tandas tak tersisa. Mbak selebgram, semangat ya!

 

*)Akrab dipanggil Adam. Lahir di Karanganyar pada malam Selasa menjelang lailatul qadar. Aktif mengisi konten di berbagai laman dan baru saja menerbitkan buku pertamanya berjudul Satu Kosong.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menstrual Cup dan Obsesi Selaput Dara Perempuan 0 371

Oleh: Jen*

 

Di usiaku yang tak lagi muda (cielah), aku masih berusaha menempatkan diri sebagai seorang perempuan yang baik di depan tetangga. Karena apapun yang aku lakukan di depan merek dapat menjadi ancaman bisik.

Hingga saat ini, aku juga masih tidak memahami dan terkadang bosan dengan segala peraturan dan norma yang disematkan kepada perempuan untuk memenuhi standar mereka. Entah itu dalam berpakaian hingga perilaku, dan bahkan sampai urusan menstruasi!

Berani taruhan, hampir semua perempuan di sekitarku tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya atau membuka topik seputar menstruasi kepada ibu mereka secara dalam dan luas. Termasuk tentang hal-hal yang sebetulnya sangat dasar.

Salah satunya saja, yang sampai saat masih jadi topik hot: apa iya pembalut itu satu-satunya alat sanitasi yang membantu menampung darah menstruasi? Apakah menjadi salah jika kita membuat pilihan tersendiri untuk menolak penggunaan pembalut?

Beberapa tahun belakangan ini, pembahasan mengenai alternatif pembalut, khususnya menstrual cup, sedang ramai diperbincangkan. Menstrual cup disebut sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurangi jumlah sampah pembalut sekali pakai yang susah terurai. Hal ini lantas mengundang pro dan kontra dari beberapa kelompok, sebut saja SJW dan netijen awam yang budiman.

Lucunya di Endonesa, pendapat kontra terpopuler justru tidak mempersoalkan teknologi cawan menstruasi atau implikasinya terhadap kesehatan, melainkan lebih pada ketakutan rusaknya the-socalled virginity as something holy that women should keep. Netijen umumnya mengkhawatirkan hilangnya selaput dara karena penggunaan cawan, terlebih dan terutama pada mereka yang belum melakukan hubungan seksual.

Reaksi tersebut teralamatkan dengan bermacam nada, mulai dari, “Haduh aku kok jadi ngeri sendiri ya masukin benda asing ke dalam sana,hingga khawatir vagina akan longgar dan tidak rapet lagi karena memakai cawan ini. Padahal anggapan soal rapet atau tidaknya vagina sendiri masih merupakan salah kaprah, dengan logika bodoh sederhana bahwa “rapet” berarti masih perawan dan “longgar” berarti sudah tidak perawan. Parahnya, hal ini dipercayai oleh masyarakat kita secara turun-temurun.

Sekadar mengingatkan, nih. Vagina itu anggota tubuh yang bisa diibaratkan seperti “karet” karena sifatnya yang elastis. Seusai mengendur atau membuka, vagina bisa kembali ke bentuk semula meskipun memerlukan waktu.

Perlu diingat pula, bentuk vagina setiap perempuan tidaklah sama. Bentuk ini sudah terbawa sejak lahir. Wanita yang sudah pernah melahirkan dan yang belum pernah melahirkan juga biasanya memiliki ukuran vagina yang berbeda. Inilah alasan mengapa ada beragam ukuran cawan menstruasi tersedia, yang mengacu pada keragaman bentuk vagina itu sendiri.

Penulis jadi teringat dengan sebuah tayangan YouTube, salah satu seri TedTalk yang edgy itu. Judulnya The Virginity Fraud. Dalam video tersebut, kita bisa lebih memahami “kebenaran yang hakiki” tentang selaput dara. Nina Brochmann dan Ellen Støkken Dahl, sebagai pembicara, mengejawantahkan bagaimana masyarakat bisa menjadi terobsesi dengan hal yang mungkin saja tidak pernah ada pada tubuh seorang perempuan. Karena ternyata tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara!

Sedihnya, obsesi budaya kita tentang daerah kewanitaan ini kini telah menjadi sebuah cara untuk merendahkan dan membuat kaum perempuan malu untuk mencintai tubuh mereka sendiri. Although to be honest, your penis no matter how big it is isn’t gonna break our Ms. V, duh!

Maka dari itu, tante dan ibu-ibu sekalian, om dan bapak-bapak, pada intinya mari kita belajar bersama tak cepat-cepat memberi justifikasi pada suatu objek. Galilah dulu segala sesuatunya dari segi ilmiahnya, dan hargai otoritas tubuh seseorang!

Hidup di tengah masyarakat yang cukup judgemental on daily basis memanglah ribet. Mau hidup wajar dan beralih kepada pilihan yang lebih sehat saja, masih harus minta izin kepada netijen sekalian—yang kalau diturutin terus bisa bikin koleng. Huft!

 

*) Mahasiswa akhir (zaman) pengabdi BTS yang merintis jadi aktipis feminis.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kebiasaan Aneh Peserta Webinar (dan Berikut Panitianya) 0 307

Di suatu akhir pekan, pagi hari, saya mengikuti sebuah webinar karena tuntutan pekerjaan. Saya diwajibkan meliput berdasarkan suatu topik yang masih ada hubungannya dengan Covid-19, yang mana pekerjaan ini tentu sudah menjadi sangat jamak di masa pandemi ini.

Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu bahasan ke bahasan lain, ada sejumlah kebiasaan peserta onlen yang saya perhatikan selalu bisa ditemui di seluruh webinar. Walau tak seperti pertemuan seminar tatap muka, kolom live chat yang disajikan di platform online sangat memungkinkan peserta saling berinteraksi  dan mengajukan pernyataan kepada admin pembuat pertemuan. Nah, di sanalah, lahir beberapa pola aktivitas yang setidaknya ingin digambarkan penulis sebagai berikut.

Pertama, dalam webinar dalam skala partisipan yang luas, tingkat nasional misalnya, akan banyak sekali peserta yang bergabung. Mereka biasanya dengan sukarela melakukan absen tanpa diminta panitia. Biasanya formatnya akan berupa: nama lengkap – kalau bisa diikuti dengan serenteng gelar dan jabatan, nama instansi yang dicantumkan dengan penuh rasa bangga, lalu diakhiri dengan kata “hadir” atau “izin menyimak”.

Penulis habis pikir sebenarnya apa maksud dan tujuan absensi ini. Mungkin secara teknis, panitia acara butuh melakukan pengukuran terhadap segmentasi peserta yang hadir, demi urusan administrasi dan cairnya uang negara – jika webinar adalah acara pemerintahan dengan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi, ada beberapa webinar yang sesungguhnya tak mengharuskan partisipan melakukan absensi.

Mungkin, Mbah Abraham Maslow benar soal teorinya hierarchy of needs. Dalam dua kebutuhan manusia yang terakhir, setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, adalah pentingnya pengakuan dari orang lain. Menunjukkan eksistensi, dengan kebanggaan jabatan dan nama besar instansi yang diwakili, mungkin digunakan untuk membayar gengsi dan harga diri di kolom live chat.

Mungkin hal ini tak bisa dipenuhi oleh mereka yang suka “pamer” di seminar tatap muka. Mereka yang punya kebiasaan bertanya, berpendapat di muka umum, mencari muka di depan narasumber, tak dapat melakukannya lagi di kala pandemi menghalangi pertemuan-pertemuan. Kolom live chat inilah yang barangkali memenuhi kehausan mereka ini.

Harapannya sih, kebutuhan mendapat pengakuan ini tak hanya berhenti di sini. Ada baiknya, penyebutan nama dan gelar serta nama lembaga itu menjadi awal mula diskusi sehat di kolom chat. Inilah kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow: aktualisasi diri. Ia bukan sekadar menunjukkan diri, tapi berusaha mengembangkan potensi, sehingga nantinya mencapai pemenuhan karakter, kepekaan terhadap kebenaran, keindahan, keadilan, dan sebagainya secara paripurna.

Kedua, yang tak kalah mengherankannya adalah jika gelar dan jabatan dalam instansi tempat bekerja tak bisa jadi kebangaan, paling tidak peserta biasanya menyebut “salam dari…” diikuti kota asal. Nah, yang satu ini juga tak tahu apa juntrungannya. Apa mungkin ini adalah buah dari etnosentrisme yang ada dalam habitus bangsa ini? Yang walaupun disatukan oleh Pancasila dan Sumpah Pemuda, tapi tetap ada suatu kebanggaan berlebih akan daerah asal atau kota kelahiran. Muaranya, tak jarang adalah “reuni” himpunan-himpunan perantau secara virtual.

Atau bisa jadi absensi nama dan kota asal ini justru memberi makan harga diri panitia penggelar webinar. Seakan-akan webinar dan berikut manfaat dari materi yang dibawakannya, telah didengar seluruh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Padahal, pun satu-dua orang yang mengaku berasal dari daerah tertentu, belum tentu bisa menjadi perwakilan karakteristik dan suara daerah yang bersangkutan.

Ketiga, jarang sekali ada komentar mengapresiasi konten atau penggelar acara yang sudah bersusah-payah memungkinkan webinar terjadi di dunia maya. Kalaupun ada, biasanya paling banter ya mek “Alhamdulillah, materinya keren sekali. Terima kasih pemateri dan panitia!”

Padahal, webinar seharusnya sama marwahnya seperti seminar tatap muka. Peserta seharusnya tak sekadar hadir, tapi terlibat dalam diskusi aktif agar materi yang disampaikan bukan hanya deklarasi yang cukup di telinga saja. Materi dalam webinar adalah wacana yang masih bisa diperdebatkan.

Namun, karena keterbatasan durasi dan sempitnya ruang diskusi yang disediakan para penggelar webinar, atau mungkin hanya formalitas “pokoknya ada acara buat ngabisin anggaran 2020”, kolom chat adalah tempat yang kering ilmu dan dinamika.

Katanya, teknologi komunikasi kita, media sosial kita ini, adalah wadah member kesempatan mereka yang selama ini tak punya akses bicara. Nyatanya, webinar tak ubahnya seminar dan media mainstream kita. Hanya mereka yang punya nama, jabatan, keahlian, dan modal, yang bisa bicara sebagai narasumber. Sisanya, kita-kita para netijen budiman cuma bisa numpang “absen” di kolom live chat.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

Editor Picks