Dari Gelay, Membagongkan, dan Demi Alek 0 776

Bahasa berkembang kemana-mana, melintir kemana-mana. Seperti suatu siang lalu, ketika kebingungan dengan segera menyergap, membaca sebuah status media sosial memuat kata alien ‘membagongkan’.

Sebagai reaksi manusia beradab four point o, segeralah mencari apakah gerangan arti kata itu, di Google, pengganti kamus yang lebih ringkas dan tangkas dan menjawab penasaran lebih lekas. Saya tak tertarik membahas definisinya, tapi kira-kira kata ini dipakai guna memberi kesan kejutan, membingungkan, efek tercekat.

Di status yang lain setelah pada status sebelumnya tertulis di sana ‘demi alek’. Sebelumnya, kita sibuk menerka, bahkan media-media besar dengan liputan khususnya, atas arti maknawiyah kata ‘gelay’—sebuah frasa antah berantah yang popular karena pesohor kita.

Tulisan ini sebetulnya khusus mengasihani kepada diri sendiri yang mulai bangkotan dan tak gaul, yang menyia-nyiakan usianya untuk melewatkan betapa berwarnanya bahasa. Dalam hati meruap rasa sesal: adakah ini musababnya, hidup menjadi kering karena tak mampu memahami, atau malah mencipta, kesegaran-kesegaran dan warna-warni bahasa.

Tentu saja itu segar, sebab ia disampaikan dengan massif, riang, dan dirayakan. Di mana-mana orang bicara tentang kosakata-kosakata itu, dan tertawa. Bukan karena kata-kata itu lucu, melainkan karena suasana dan—mengutip kata-kata gaul lain—‘vibes’ yang ditimbulkannya. Akun-akun kondang media sosial diisi oleh reaksi gembira dari para pengikutnya ketika bicara atau menirukan kata-kata itu.

Di kubu seberang, seperti biasa, saya membaca beberapa orang-orang tua tampaknya tak terlalu suka bahasa ini. Konon, ini adalah gejala membusuknya bahasa, ketika unsur-unsur recehan merasuk dan membinasakan kata-kata lain yang lebih elok dan ‘resmi’, yang baik dan benar, atau benar dulu lalu baik, atau sebaliknya….

Kata mereka, makna kata-kata gaul ini sudah terwakili oleh kata-kata lain yang termaktub dalam kitab bahasa resmi, Kamus Besar Bahasa Indonesia—yang hampir-hampir menyerupai sebuah otoritas dalam memberi kata putus atas mana bahasa yang baik dan mana tidak. Kita juga mulai terobsesi dengan thesaurus, dan orang-orang yang tiba-tiba merasa sebagai pemanggul kewajiban yang mengoreksi segala hal yang tak lurus dari segi kebahasaan.

Sifat keresmian dan estetika bahasa inilah yang membuat kata-kata ‘tak resmi’ di atas, mustahil hadir dalam suasana serius. Para pejabat mungkin tak pernah bisa dibayangkan berpidato di pengadilan di hadapan yang mulia hakim sambil menyelipkan “…demi alek, saya tak makan uang haram..”.

Tetapi ada saat di mana bahkan kelacuran sekaligus keanehannya yang sering disindir, pada akhirnya menginterupsi keresmian-formal dari peristiwa. Apalagi pada kampanye. Bukankah kita masih sering terngiang Pak Jokowi bertemu Atta geledek dalam masa kampanye dan berujar “ashhiaapp” yang merdunya bukan main?

Ketika bahasa mencari bentuk barunya, orang tak lagi mudah mengejeknya sebagai sebuah recehan belaka. Ia adalah pertanda dari sesuatu hal yang lain, kecairan, kejutan yang tak tertebak, fenomena yang membagongkan. Bahkan lebih jauh, mungkin pula ini refleksi atas sebuah perlawanan, atas keajekan dan keresmian yang bertahan demikian lama. Boleh jadi pula bahwa ada gerilya diam-diam yang berupaya mendongkel dinginnya bahasa—dan beserta orang-orang bangkotannya macam saya—dan menghadirkan alternatif di sana.

Maka, dalam hemat hamba, jangan tergesa bilang invensi kosakata-kosakata itu tak berguna; justru mereka memantulkan perkembangan yang, sedihnya, terlambat dibaca. Dari manakah lahirnya bejibun diksi ini, yang barangkali akan terus tercipta lebih cepat? Bagaimanakah daya tahannya, berapa lama ia digunakan, sebelum lalu tandas oleh kosakata yang lain lagi? Jika penggunanya adalah anak-anak belia, apakah ini dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang didorong oleh kekhasan yang mereka miliki, entah apa? Bagaimana peran teknologi, media sosial, bacaan-bacaan anak muda, pergaulan-pergaulannya, bahkan badhokan mereka—sehingga dari salah satunya atau kombinasinya pada akhirnya memicu kebiasaan berbahasa yang baru?

Segala tanya itu diam menggantung, setidaknya belum terjawab penuh semuanya. Entah apakah di suatu hari nanti akan ada sebuah penelusuran yang lebih serius atas segala ‘ketakseriusan’ ini. Sedapat dan sependek yang saya tau, sedikit sekali anak-anak muda yang meneliti dirinya sendiri, menjadi jurubicara untuk mereka sendiri, tanpa bergantung ke kiblat dan orang-orang ‘tua’.

Maka, demi alek, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kedukaan atas betapa sia-sianya waktu selama ini, membaca sok serius, bicara sok serius, tetapi gak gaul blass. Untuk apa.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 243

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Yakin Kekayaan Akan Sia-sia jika Meninggal? 0 319

Beberapa hari belakangan, banyak kenalan keluarga saya yang pergi meninggalkan dunia menuju ke alam baka. Bukan, bukan karena Covid-19 si virus membagongkan saja, tapi juga riwayat penyakit yang mereka idap. Tapi, bukan itu yang saya akan bahas.

Fenomena banyaknya orang meninggal di sekitar saya mengingatkan saya dengan quote (yang katanya bijak), “janganlah sibuk mengumpulkan harta di dunia, uangmu di dunia tidak bisa kamu bawa”. Ya kira-kira seperti itu kalimatnya. Kata-kata itu sering saya dengar di gereja dan orang-orang sekitar saya.

Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung, tapi saya mau menjawab: MATAMU!

Harta memang tidak dibawa mati, tapi mati juga butuh harta. Mati bukan berarti dengan enaknya pergi ke alam lain tanpa masalah. Mati juga menimbulkan masalah baru bagi keluarga yang ditinggalkan: biaya.

Siapa bilang upacara mahal hanya ditimbulkan oleh pernikahan atau swit sepentin yang digelar di hotel? Tidak! Meninggal juga butuh biaya. Mohon jangan berpikiran upacara pemakaman yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman Ciputra yang super mevvah. Yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman yang cukup sederhana.

Meski upacara tidak digelar mewah dan hanya di rumah duka sederhana, biayanya bisa menyamai orang menikah di hotel. Mahalnya biaya pamakaman di Indonesia bahkan masih terbilang lebih terjangkau dari pada negara lain seperti Jepang.

Menurut pengalaman salah seorang keluarga saya yang meninggal 2017 silam, hanya untuk peti mati saja bisa menelan biaya sebesar 80 juta rupiah! Itupun tidak mewah-mewah banget. Kira-kira bisa dapat 4 Prada “Saffiano” ukuran kecil. Mahalnya peti mati memang menjadi permasalahan, bahkan juga dialami di luar negeri seperti Amerika Serikat.

Ini masih peti mati saja, belum ditambah biaya lainnya. Sewa rumah duka kira-kira mencapai 1,5 juta per lokal dan per hari. Untuk jenazah dengan jumlah keluarga dan pelayat yang besar, biasanya menyewa 2-3 lokal. Selanjutnya biaya ketering yang mencapai 30 ribu per porsi untuk nasi goreng yang tidak enak. Nasi goreng yang semakin banyak porsinya semakin murah itu.

Lalu, masih ada biaya makam yang mencapai 18 juta untuk tempat yang biasa saja. Biasanya, masih ada biaya per bulan untuk perawatan dan lain-lain (menurut laporan Insert Investigasi belasan tahun lalu, biaya perawatan ini tidak berlaku di San Diego Hills). Untuk pemakaman di bukit, biasanya semakin tinggi letak kuburan, semakin tinggi juga harganya. Karena semakin dekat Surga katanya. Yah kalau letak kuburan menentukan orang masuk Surga, ngapain susah payah menjalankan keagamaan, ya kan?!

Kembali ke biaya, biaya lainnya adalah biaya EO duka (yang tahu istilah yang benar, komen di bawah), mobil jenazah, jajan, baju mayat, dan lainnya. Belum lagi pihak penyewa rumah duka tidak dibebaskan parkir, padahal kami harus bolak-balik rumah duka-rumah. Bayangkan berapa kali uang lima ribu rupiah yang terkorbankan. Ditambah, biasanya upacara duka ini berlasung setidaknya tiga hari sampai akhirnya sang jenazah dikuburkan.

Biaya kematian ini juga bervariasi tergantung agama dan adat. Tapi, apapun adat dan agamanya, kesamaannya adalah sama-sama mahal. Apalagi kepercayaan orang Tionghoa bilang kalau untuk acara orang meninggal, TIDAK BAIK UNTUK MENAWAR. Katanya akan menimbulkan marabahaya.

Sangking mahalnya biaya urusan kematian ini, setiap tamu atau pelayat yang datang bukannya mengungkapkan dukacita, tapi selalu bilang “bisnis orang mati ini enak, yo“. Bukannya sedih, tapi semua berandai-andai menjadi pemilik Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya).

Maka dari itu, saya mengimbau untuk Pembaca atau kawan Anda yang terpikirkan untuk bunuh diri dan menyerah akan hidup, renungkanlah ini! Keluarga Anda akan tertimba masalah yang besar. Bukan hanya ditinggal orang yang terkasih, namun kematian juga meninggalkan biaya fantastis bagi keluarga.

Maka dari itu, harta juga perlu dikumpulkan untuk bekal Anda meninggal. Bukan untuk dibawa ke Surga atau Neraka, tapi ya untuk upacara kematian Anda sendiri.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks