Dari Gelay, Membagongkan, dan Demi Alek 0 474

Bahasa berkembang kemana-mana, melintir kemana-mana. Seperti suatu siang lalu, ketika kebingungan dengan segera menyergap, membaca sebuah status media sosial memuat kata alien ‘membagongkan’.

Sebagai reaksi manusia beradab four point o, segeralah mencari apakah gerangan arti kata itu, di Google, pengganti kamus yang lebih ringkas dan tangkas dan menjawab penasaran lebih lekas. Saya tak tertarik membahas definisinya, tapi kira-kira kata ini dipakai guna memberi kesan kejutan, membingungkan, efek tercekat.

Di status yang lain setelah pada status sebelumnya tertulis di sana ‘demi alek’. Sebelumnya, kita sibuk menerka, bahkan media-media besar dengan liputan khususnya, atas arti maknawiyah kata ‘gelay’—sebuah frasa antah berantah yang popular karena pesohor kita.

Tulisan ini sebetulnya khusus mengasihani kepada diri sendiri yang mulai bangkotan dan tak gaul, yang menyia-nyiakan usianya untuk melewatkan betapa berwarnanya bahasa. Dalam hati meruap rasa sesal: adakah ini musababnya, hidup menjadi kering karena tak mampu memahami, atau malah mencipta, kesegaran-kesegaran dan warna-warni bahasa.

Tentu saja itu segar, sebab ia disampaikan dengan massif, riang, dan dirayakan. Di mana-mana orang bicara tentang kosakata-kosakata itu, dan tertawa. Bukan karena kata-kata itu lucu, melainkan karena suasana dan—mengutip kata-kata gaul lain—‘vibes’ yang ditimbulkannya. Akun-akun kondang media sosial diisi oleh reaksi gembira dari para pengikutnya ketika bicara atau menirukan kata-kata itu.

Di kubu seberang, seperti biasa, saya membaca beberapa orang-orang tua tampaknya tak terlalu suka bahasa ini. Konon, ini adalah gejala membusuknya bahasa, ketika unsur-unsur recehan merasuk dan membinasakan kata-kata lain yang lebih elok dan ‘resmi’, yang baik dan benar, atau benar dulu lalu baik, atau sebaliknya….

Kata mereka, makna kata-kata gaul ini sudah terwakili oleh kata-kata lain yang termaktub dalam kitab bahasa resmi, Kamus Besar Bahasa Indonesia—yang hampir-hampir menyerupai sebuah otoritas dalam memberi kata putus atas mana bahasa yang baik dan mana tidak. Kita juga mulai terobsesi dengan thesaurus, dan orang-orang yang tiba-tiba merasa sebagai pemanggul kewajiban yang mengoreksi segala hal yang tak lurus dari segi kebahasaan.

Sifat keresmian dan estetika bahasa inilah yang membuat kata-kata ‘tak resmi’ di atas, mustahil hadir dalam suasana serius. Para pejabat mungkin tak pernah bisa dibayangkan berpidato di pengadilan di hadapan yang mulia hakim sambil menyelipkan “…demi alek, saya tak makan uang haram..”.

Tetapi ada saat di mana bahkan kelacuran sekaligus keanehannya yang sering disindir, pada akhirnya menginterupsi keresmian-formal dari peristiwa. Apalagi pada kampanye. Bukankah kita masih sering terngiang Pak Jokowi bertemu Atta geledek dalam masa kampanye dan berujar “ashhiaapp” yang merdunya bukan main?

Ketika bahasa mencari bentuk barunya, orang tak lagi mudah mengejeknya sebagai sebuah recehan belaka. Ia adalah pertanda dari sesuatu hal yang lain, kecairan, kejutan yang tak tertebak, fenomena yang membagongkan. Bahkan lebih jauh, mungkin pula ini refleksi atas sebuah perlawanan, atas keajekan dan keresmian yang bertahan demikian lama. Boleh jadi pula bahwa ada gerilya diam-diam yang berupaya mendongkel dinginnya bahasa—dan beserta orang-orang bangkotannya macam saya—dan menghadirkan alternatif di sana.

Maka, dalam hemat hamba, jangan tergesa bilang invensi kosakata-kosakata itu tak berguna; justru mereka memantulkan perkembangan yang, sedihnya, terlambat dibaca. Dari manakah lahirnya bejibun diksi ini, yang barangkali akan terus tercipta lebih cepat? Bagaimanakah daya tahannya, berapa lama ia digunakan, sebelum lalu tandas oleh kosakata yang lain lagi? Jika penggunanya adalah anak-anak belia, apakah ini dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang didorong oleh kekhasan yang mereka miliki, entah apa? Bagaimana peran teknologi, media sosial, bacaan-bacaan anak muda, pergaulan-pergaulannya, bahkan badhokan mereka—sehingga dari salah satunya atau kombinasinya pada akhirnya memicu kebiasaan berbahasa yang baru?

Segala tanya itu diam menggantung, setidaknya belum terjawab penuh semuanya. Entah apakah di suatu hari nanti akan ada sebuah penelusuran yang lebih serius atas segala ‘ketakseriusan’ ini. Sedapat dan sependek yang saya tau, sedikit sekali anak-anak muda yang meneliti dirinya sendiri, menjadi jurubicara untuk mereka sendiri, tanpa bergantung ke kiblat dan orang-orang ‘tua’.

Maka, demi alek, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kedukaan atas betapa sia-sianya waktu selama ini, membaca sok serius, bicara sok serius, tetapi gak gaul blass. Untuk apa.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 130

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 199

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks