Dari Gelay, Membagongkan, dan Demi Alek 0 219

Bahasa berkembang kemana-mana, melintir kemana-mana. Seperti suatu siang lalu, ketika kebingungan dengan segera menyergap, membaca sebuah status media sosial memuat kata alien ‘membagongkan’.

Sebagai reaksi manusia beradab four point o, segeralah mencari apakah gerangan arti kata itu, di Google, pengganti kamus yang lebih ringkas dan tangkas dan menjawab penasaran lebih lekas. Saya tak tertarik membahas definisinya, tapi kira-kira kata ini dipakai guna memberi kesan kejutan, membingungkan, efek tercekat.

Di status yang lain setelah pada status sebelumnya tertulis di sana ‘demi alek’. Sebelumnya, kita sibuk menerka, bahkan media-media besar dengan liputan khususnya, atas arti maknawiyah kata ‘gelay’—sebuah frasa antah berantah yang popular karena pesohor kita.

Tulisan ini sebetulnya khusus mengasihani kepada diri sendiri yang mulai bangkotan dan tak gaul, yang menyia-nyiakan usianya untuk melewatkan betapa berwarnanya bahasa. Dalam hati meruap rasa sesal: adakah ini musababnya, hidup menjadi kering karena tak mampu memahami, atau malah mencipta, kesegaran-kesegaran dan warna-warni bahasa.

Tentu saja itu segar, sebab ia disampaikan dengan massif, riang, dan dirayakan. Di mana-mana orang bicara tentang kosakata-kosakata itu, dan tertawa. Bukan karena kata-kata itu lucu, melainkan karena suasana dan—mengutip kata-kata gaul lain—‘vibes’ yang ditimbulkannya. Akun-akun kondang media sosial diisi oleh reaksi gembira dari para pengikutnya ketika bicara atau menirukan kata-kata itu.

Di kubu seberang, seperti biasa, saya membaca beberapa orang-orang tua tampaknya tak terlalu suka bahasa ini. Konon, ini adalah gejala membusuknya bahasa, ketika unsur-unsur recehan merasuk dan membinasakan kata-kata lain yang lebih elok dan ‘resmi’, yang baik dan benar, atau benar dulu lalu baik, atau sebaliknya….

Kata mereka, makna kata-kata gaul ini sudah terwakili oleh kata-kata lain yang termaktub dalam kitab bahasa resmi, Kamus Besar Bahasa Indonesia—yang hampir-hampir menyerupai sebuah otoritas dalam memberi kata putus atas mana bahasa yang baik dan mana tidak. Kita juga mulai terobsesi dengan thesaurus, dan orang-orang yang tiba-tiba merasa sebagai pemanggul kewajiban yang mengoreksi segala hal yang tak lurus dari segi kebahasaan.

Sifat keresmian dan estetika bahasa inilah yang membuat kata-kata ‘tak resmi’ di atas, mustahil hadir dalam suasana serius. Para pejabat mungkin tak pernah bisa dibayangkan berpidato di pengadilan di hadapan yang mulia hakim sambil menyelipkan “…demi alek, saya tak makan uang haram..”.

Tetapi ada saat di mana bahkan kelacuran sekaligus keanehannya yang sering disindir, pada akhirnya menginterupsi keresmian-formal dari peristiwa. Apalagi pada kampanye. Bukankah kita masih sering terngiang Pak Jokowi bertemu Atta geledek dalam masa kampanye dan berujar “ashhiaapp” yang merdunya bukan main?

Ketika bahasa mencari bentuk barunya, orang tak lagi mudah mengejeknya sebagai sebuah recehan belaka. Ia adalah pertanda dari sesuatu hal yang lain, kecairan, kejutan yang tak tertebak, fenomena yang membagongkan. Bahkan lebih jauh, mungkin pula ini refleksi atas sebuah perlawanan, atas keajekan dan keresmian yang bertahan demikian lama. Boleh jadi pula bahwa ada gerilya diam-diam yang berupaya mendongkel dinginnya bahasa—dan beserta orang-orang bangkotannya macam saya—dan menghadirkan alternatif di sana.

Maka, dalam hemat hamba, jangan tergesa bilang invensi kosakata-kosakata itu tak berguna; justru mereka memantulkan perkembangan yang, sedihnya, terlambat dibaca. Dari manakah lahirnya bejibun diksi ini, yang barangkali akan terus tercipta lebih cepat? Bagaimanakah daya tahannya, berapa lama ia digunakan, sebelum lalu tandas oleh kosakata yang lain lagi? Jika penggunanya adalah anak-anak belia, apakah ini dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang didorong oleh kekhasan yang mereka miliki, entah apa? Bagaimana peran teknologi, media sosial, bacaan-bacaan anak muda, pergaulan-pergaulannya, bahkan badhokan mereka—sehingga dari salah satunya atau kombinasinya pada akhirnya memicu kebiasaan berbahasa yang baru?

Segala tanya itu diam menggantung, setidaknya belum terjawab penuh semuanya. Entah apakah di suatu hari nanti akan ada sebuah penelusuran yang lebih serius atas segala ‘ketakseriusan’ ini. Sedapat dan sependek yang saya tau, sedikit sekali anak-anak muda yang meneliti dirinya sendiri, menjadi jurubicara untuk mereka sendiri, tanpa bergantung ke kiblat dan orang-orang ‘tua’.

Maka, demi alek, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kedukaan atas betapa sia-sianya waktu selama ini, membaca sok serius, bicara sok serius, tetapi gak gaul blass. Untuk apa.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 300

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Menstrual Cup dan Obsesi Selaput Dara Perempuan 0 394

Oleh: Jen*

 

Di usiaku yang tak lagi muda (cielah), aku masih berusaha menempatkan diri sebagai seorang perempuan yang baik di depan tetangga. Karena apapun yang aku lakukan di depan merek dapat menjadi ancaman bisik.

Hingga saat ini, aku juga masih tidak memahami dan terkadang bosan dengan segala peraturan dan norma yang disematkan kepada perempuan untuk memenuhi standar mereka. Entah itu dalam berpakaian hingga perilaku, dan bahkan sampai urusan menstruasi!

Berani taruhan, hampir semua perempuan di sekitarku tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya atau membuka topik seputar menstruasi kepada ibu mereka secara dalam dan luas. Termasuk tentang hal-hal yang sebetulnya sangat dasar.

Salah satunya saja, yang sampai saat masih jadi topik hot: apa iya pembalut itu satu-satunya alat sanitasi yang membantu menampung darah menstruasi? Apakah menjadi salah jika kita membuat pilihan tersendiri untuk menolak penggunaan pembalut?

Beberapa tahun belakangan ini, pembahasan mengenai alternatif pembalut, khususnya menstrual cup, sedang ramai diperbincangkan. Menstrual cup disebut sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurangi jumlah sampah pembalut sekali pakai yang susah terurai. Hal ini lantas mengundang pro dan kontra dari beberapa kelompok, sebut saja SJW dan netijen awam yang budiman.

Lucunya di Endonesa, pendapat kontra terpopuler justru tidak mempersoalkan teknologi cawan menstruasi atau implikasinya terhadap kesehatan, melainkan lebih pada ketakutan rusaknya the-socalled virginity as something holy that women should keep. Netijen umumnya mengkhawatirkan hilangnya selaput dara karena penggunaan cawan, terlebih dan terutama pada mereka yang belum melakukan hubungan seksual.

Reaksi tersebut teralamatkan dengan bermacam nada, mulai dari, “Haduh aku kok jadi ngeri sendiri ya masukin benda asing ke dalam sana,hingga khawatir vagina akan longgar dan tidak rapet lagi karena memakai cawan ini. Padahal anggapan soal rapet atau tidaknya vagina sendiri masih merupakan salah kaprah, dengan logika bodoh sederhana bahwa “rapet” berarti masih perawan dan “longgar” berarti sudah tidak perawan. Parahnya, hal ini dipercayai oleh masyarakat kita secara turun-temurun.

Sekadar mengingatkan, nih. Vagina itu anggota tubuh yang bisa diibaratkan seperti “karet” karena sifatnya yang elastis. Seusai mengendur atau membuka, vagina bisa kembali ke bentuk semula meskipun memerlukan waktu.

Perlu diingat pula, bentuk vagina setiap perempuan tidaklah sama. Bentuk ini sudah terbawa sejak lahir. Wanita yang sudah pernah melahirkan dan yang belum pernah melahirkan juga biasanya memiliki ukuran vagina yang berbeda. Inilah alasan mengapa ada beragam ukuran cawan menstruasi tersedia, yang mengacu pada keragaman bentuk vagina itu sendiri.

Penulis jadi teringat dengan sebuah tayangan YouTube, salah satu seri TedTalk yang edgy itu. Judulnya The Virginity Fraud. Dalam video tersebut, kita bisa lebih memahami “kebenaran yang hakiki” tentang selaput dara. Nina Brochmann dan Ellen Støkken Dahl, sebagai pembicara, mengejawantahkan bagaimana masyarakat bisa menjadi terobsesi dengan hal yang mungkin saja tidak pernah ada pada tubuh seorang perempuan. Karena ternyata tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara!

Sedihnya, obsesi budaya kita tentang daerah kewanitaan ini kini telah menjadi sebuah cara untuk merendahkan dan membuat kaum perempuan malu untuk mencintai tubuh mereka sendiri. Although to be honest, your penis no matter how big it is isn’t gonna break our Ms. V, duh!

Maka dari itu, tante dan ibu-ibu sekalian, om dan bapak-bapak, pada intinya mari kita belajar bersama tak cepat-cepat memberi justifikasi pada suatu objek. Galilah dulu segala sesuatunya dari segi ilmiahnya, dan hargai otoritas tubuh seseorang!

Hidup di tengah masyarakat yang cukup judgemental on daily basis memanglah ribet. Mau hidup wajar dan beralih kepada pilihan yang lebih sehat saja, masih harus minta izin kepada netijen sekalian—yang kalau diturutin terus bisa bikin koleng. Huft!

 

*) Mahasiswa akhir (zaman) pengabdi BTS yang merintis jadi aktipis feminis.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks