Dari Gelay, Membagongkan, dan Demi Alek

Bahasa berkembang kemana-mana, melintir kemana-mana. Seperti suatu siang lalu, ketika kebingungan dengan segera menyergap, membaca sebuah status media sosial memuat kata alien ‘membagongkan’.

Sebagai reaksi manusia beradab four point o, segeralah mencari apakah gerangan arti kata itu, di Google, pengganti kamus yang lebih ringkas dan tangkas dan menjawab penasaran lebih lekas. Saya tak tertarik membahas definisinya, tapi kira-kira kata ini dipakai guna memberi kesan kejutan, membingungkan, efek tercekat.

Di status yang lain setelah pada status sebelumnya tertulis di sana ‘demi alek’. Sebelumnya, kita sibuk menerka, bahkan media-media besar dengan liputan khususnya, atas arti maknawiyah kata ‘gelay’—sebuah frasa antah berantah yang popular karena pesohor kita.

Tulisan ini sebetulnya khusus mengasihani kepada diri sendiri yang mulai bangkotan dan tak gaul, yang menyia-nyiakan usianya untuk melewatkan betapa berwarnanya bahasa. Dalam hati meruap rasa sesal: adakah ini musababnya, hidup menjadi kering karena tak mampu memahami, atau malah mencipta, kesegaran-kesegaran dan warna-warni bahasa.

Tentu saja itu segar, sebab ia disampaikan dengan massif, riang, dan dirayakan. Di mana-mana orang bicara tentang kosakata-kosakata itu, dan tertawa. Bukan karena kata-kata itu lucu, melainkan karena suasana dan—mengutip kata-kata gaul lain—‘vibes’ yang ditimbulkannya. Akun-akun kondang media sosial diisi oleh reaksi gembira dari para pengikutnya ketika bicara atau menirukan kata-kata itu.

Di kubu seberang, seperti biasa, saya membaca beberapa orang-orang tua tampaknya tak terlalu suka bahasa ini. Konon, ini adalah gejala membusuknya bahasa, ketika unsur-unsur recehan merasuk dan membinasakan kata-kata lain yang lebih elok dan ‘resmi’, yang baik dan benar, atau benar dulu lalu baik, atau sebaliknya….

Kata mereka, makna kata-kata gaul ini sudah terwakili oleh kata-kata lain yang termaktub dalam kitab bahasa resmi, Kamus Besar Bahasa Indonesia—yang hampir-hampir menyerupai sebuah otoritas dalam memberi kata putus atas mana bahasa yang baik dan mana tidak. Kita juga mulai terobsesi dengan thesaurus, dan orang-orang yang tiba-tiba merasa sebagai pemanggul kewajiban yang mengoreksi segala hal yang tak lurus dari segi kebahasaan.

Sifat keresmian dan estetika bahasa inilah yang membuat kata-kata ‘tak resmi’ di atas, mustahil hadir dalam suasana serius. Para pejabat mungkin tak pernah bisa dibayangkan berpidato di pengadilan di hadapan yang mulia hakim sambil menyelipkan “…demi alek, saya tak makan uang haram..”.

Tetapi ada saat di mana bahkan kelacuran sekaligus keanehannya yang sering disindir, pada akhirnya menginterupsi keresmian-formal dari peristiwa. Apalagi pada kampanye. Bukankah kita masih sering terngiang Pak Jokowi bertemu Atta geledek dalam masa kampanye dan berujar “ashhiaapp” yang merdunya bukan main?

Ketika bahasa mencari bentuk barunya, orang tak lagi mudah mengejeknya sebagai sebuah recehan belaka. Ia adalah pertanda dari sesuatu hal yang lain, kecairan, kejutan yang tak tertebak, fenomena yang membagongkan. Bahkan lebih jauh, mungkin pula ini refleksi atas sebuah perlawanan, atas keajekan dan keresmian yang bertahan demikian lama. Boleh jadi pula bahwa ada gerilya diam-diam yang berupaya mendongkel dinginnya bahasa—dan beserta orang-orang bangkotannya macam saya—dan menghadirkan alternatif di sana.

Maka, dalam hemat hamba, jangan tergesa bilang invensi kosakata-kosakata itu tak berguna; justru mereka memantulkan perkembangan yang, sedihnya, terlambat dibaca. Dari manakah lahirnya bejibun diksi ini, yang barangkali akan terus tercipta lebih cepat? Bagaimanakah daya tahannya, berapa lama ia digunakan, sebelum lalu tandas oleh kosakata yang lain lagi? Jika penggunanya adalah anak-anak belia, apakah ini dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang didorong oleh kekhasan yang mereka miliki, entah apa? Bagaimana peran teknologi, media sosial, bacaan-bacaan anak muda, pergaulan-pergaulannya, bahkan badhokan mereka—sehingga dari salah satunya atau kombinasinya pada akhirnya memicu kebiasaan berbahasa yang baru?

Segala tanya itu diam menggantung, setidaknya belum terjawab penuh semuanya. Entah apakah di suatu hari nanti akan ada sebuah penelusuran yang lebih serius atas segala ‘ketakseriusan’ ini. Sedapat dan sependek yang saya tau, sedikit sekali anak-anak muda yang meneliti dirinya sendiri, menjadi jurubicara untuk mereka sendiri, tanpa bergantung ke kiblat dan orang-orang ‘tua’.

Maka, demi alek, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kedukaan atas betapa sia-sianya waktu selama ini, membaca sok serius, bicara sok serius, tetapi gak gaul blass. Untuk apa.