Selak dan Jampi-jampi Kakek 0 339

Ini cerita waktu dulu, saat saya berusia kurang dari sepuluh tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya merupakan orang yang cukup disegani di desa. Menurut cerita yang sudah beredar jauh sebelum saya lahir, kakek saya sering memenangkan perkelahian antar orang sakti.

Nenek saya juga pernah mengatakan, bahwa orang-orang yang hendak berbuat jahat di rumah saya atau kepada tetangga-tetangga, akan selalu berakhir buruk. Mereka tak pernah benar-benar bisa menyentuh halaman rumah kami, sebab yang akan mereka dapati hanya laut dan sebentang sawah. Dengan kata lain, bila anda mau mencuri ke rumah saya, maka penglihatan anda akan disulap menjadi “berbeda” dari yang sebenarnya.

Rumah saya letaknya di belakang tembok sekolah. Nah, di tembok itu, terdapat gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya. Suasana sekolah yang sepi ketika malam hari membuat saya selalu ketakutan tiap kali melaluinya.

Pada sebuah malam yang dingin, saya pulang dari mengaji seorang diri. Biasanya saya bersama tiga teman saya; Weli, Iwan dan Erik. Tapi malam itu mereka tak datang ke surau karena demam. Aneh memang, mereka demam secara bersamaan. Seperti kebetulan yang disengaja.

Entah bagaimana, malam itu ketakutan saya memuncak. Mungkin karena sebelumnya, teman mengaji saya bercerita tentang hilangnya seorang anak laki-laki di desa saya, setelah dikutuk ibunya karena belum menurunkan layangan ketika magrib naik. Saya yakin, anak itu diculik oleh Selak.

Saya berjalan lebih cepat dari biasanya, namun gerbang kecil yang mengarah menuju halaman rumah saya tak kunjung bisa saya dekati. Gerbang itu bagaikan berlari dari kejaran saya.

Saya akhirnya kelelahan, dan mencoba berjalan lambat.

Pada momen saya berjalan lambat itulah, saya melihat sosok gemuk berpakaian putih dan tinggi sedang berdiri di samping gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya.

Saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya, bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Sosok besar itu memiliki bola mata yang memancarkan cahaya hijau. Bola mata itu tampak melayang di antara pendar cahaya bulan.

Kejadian itu berlangsung hanya sekitar satu menit. Setelah saya kembali bisa menggerakkan tubuh saya, sosok besar itu menghilang. Lantas saya segera berlari sambil berteriak ketakutan.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya dan para tetangga sedang asyik menonton acara sinetron di televisi.

“Kenapa kamu lari-lari kayak habis dikejar selak?” kata nenek saya.

“Dia habis diganggu itu,” kata Inaq Rabitah, ibunya Iwan.

Bejarup dulu sana,” kata Kakek saya.

Saya terlalu ketakutan sehingga tidak sempat memberi tanggapan atas semua komentar itu. Saya masuk ke dalam kamar dan menggunakan sarung mengaji sebagai selimut, berusaha tidur sambil membaca ayat kursi.

Benar, saya yakin bahwa saya sudah tidur waktu itu. Bahkan saya mengingat mimpi saya; saya bermimpi sedang terjaga di sepertiga malam. Saya kembali melihat sosok besar yang sebelumnya menghadang saat pulang mengaji.

Sosok besar itu tengah menimang dan membawa saya ke ruang tamu. Saya melihat ruang tamu penuh oleh entah siapa, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang memakan jagung, ada yang sedang berkelahi, dan ada yang sekadar berbaring di lantai. Lampu di ruang tamu menjadi bercahaya hijau.

Meski memberontak, saya tidak merasakan tubuh saya bergerak. Sampai saya tiba-tiba terlepas dari tangan sosok besar itu. Tetapi tubuh saya tidak menyentuh lantai, melainkan kembali ke tempat saya tidur.

Sampai hari ini, saya masih mengingat mimpi itu dan menyimpannya juga dalam sebuah catatan.

Sebangunnya dari mimpi buruk, saya keluar dan mendapati kakek, nenek, dan para tetangga masih menonton televisi. Entah apa yang menggerakkan tubuh saya hingga berjalan menuju televisi lalu memencet tombol off. Spontan orang-orang yang berada di ruang tamu menatap saya sambil bergurau.

Waktu itu hanya rumah saya yang memiliki televisi di antara empat tetangga yang lain. Terkadang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyediakan tontonan, mereka kerap secara sengaja memberikan beras dan gula sebagai semacam “tiket” masuk ke bioskop.

Nenek yang barangkali ketika itu menyadari tingkah saya yang ganjil segera menggendong dan mengembalikan saya ke kamar. Saya tak bisa tidur sampai jam dinding di kamar menunjuk angka sebelas. Bayangan sosok besar bermata hijau dan berpakaian putih itu terus menghantui saya.

Lama-kelamaan, para tetangga satu per satu mulai beranjak ke rumah mereka masing-masing. Suara sandal mereka yang menjauh dari rumah justru menambah ketegangan saya malam itu. Kakek dan nenek memadamkan televisi dan lampu ruang tamu.

Dalam kegelapan, saya bisa merasakan, bahwa saya tidak sendiri di kamar itu. Saya mendengar kain bermotif bangau yang menjadi pintu kamar saya bergerak. Suara kain yang disingkap itu jelas sekali.

Sekilas saya melihat sebentuk sosok dengan mata bercahaya hijau berdiri di ambang pintu kamar saya. Ketika hendak berteriak, suara saya seakan terhenti di leher.

Cukup lama saya merasakan ketegangan itu, sampai tubuh saya basah oleh keringat. Entah pada zikir ke berapa, kakek dan nenek akhirnya datang menolong saya. Lampu ruang tamu dan lampu kamar dihidupkan, dan saya diangkut masuk ke kamar mereka.

Wajah saya dibasuh oleh kakek menggunakan segelas air yang telah dijampi. Menggunakan tangannya, ia kemudian mengusap kedua kelopak mata saya seolah-olah sedang membersihkan apa yang sebelumnya saya lihat. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat sosok berbadan besar itu. Setidaknya sampai saya lulus SMA.

Saya pindah ke Kota Mataram dan bermukim bersama kedua orangtua saya pada pertengahan tahun 2012. Kakek meninggal pada tahun 2006, dan nenek terpaksa tinggal seorang diri, sebab anak-anaknya sudah berpencar ke luar daerah melanjutkan kehidupan masing-masing bersama keluarga baru.

Pada tahun 2015, saya mulai menempuh pendidikan S1 di Surabaya. Pada waktu itu pula, saya kembali merasakan ketakutan yang ganjil. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi hendak lepas landas, saya bisa melihat dari balik jendela, sosok berbadan besar dengan pakaian putih yang matanya menguarkan cahaya hijau sedang berdiri tidak jauh dari sayap pesawat. Sosok itu melambaikan tangannya kepada saya.

Catatan:

Selak: hantu atau manusia yang menggunakan ilmu hitam.

Bejarup: membasuh muka

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks