Selak dan Jampi-jampi Kakek 0 470

Ini cerita waktu dulu, saat saya berusia kurang dari sepuluh tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya merupakan orang yang cukup disegani di desa. Menurut cerita yang sudah beredar jauh sebelum saya lahir, kakek saya sering memenangkan perkelahian antar orang sakti.

Nenek saya juga pernah mengatakan, bahwa orang-orang yang hendak berbuat jahat di rumah saya atau kepada tetangga-tetangga, akan selalu berakhir buruk. Mereka tak pernah benar-benar bisa menyentuh halaman rumah kami, sebab yang akan mereka dapati hanya laut dan sebentang sawah. Dengan kata lain, bila anda mau mencuri ke rumah saya, maka penglihatan anda akan disulap menjadi “berbeda” dari yang sebenarnya.

Rumah saya letaknya di belakang tembok sekolah. Nah, di tembok itu, terdapat gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya. Suasana sekolah yang sepi ketika malam hari membuat saya selalu ketakutan tiap kali melaluinya.

Pada sebuah malam yang dingin, saya pulang dari mengaji seorang diri. Biasanya saya bersama tiga teman saya; Weli, Iwan dan Erik. Tapi malam itu mereka tak datang ke surau karena demam. Aneh memang, mereka demam secara bersamaan. Seperti kebetulan yang disengaja.

Entah bagaimana, malam itu ketakutan saya memuncak. Mungkin karena sebelumnya, teman mengaji saya bercerita tentang hilangnya seorang anak laki-laki di desa saya, setelah dikutuk ibunya karena belum menurunkan layangan ketika magrib naik. Saya yakin, anak itu diculik oleh Selak.

Saya berjalan lebih cepat dari biasanya, namun gerbang kecil yang mengarah menuju halaman rumah saya tak kunjung bisa saya dekati. Gerbang itu bagaikan berlari dari kejaran saya.

Saya akhirnya kelelahan, dan mencoba berjalan lambat.

Pada momen saya berjalan lambat itulah, saya melihat sosok gemuk berpakaian putih dan tinggi sedang berdiri di samping gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya.

Saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya, bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Sosok besar itu memiliki bola mata yang memancarkan cahaya hijau. Bola mata itu tampak melayang di antara pendar cahaya bulan.

Kejadian itu berlangsung hanya sekitar satu menit. Setelah saya kembali bisa menggerakkan tubuh saya, sosok besar itu menghilang. Lantas saya segera berlari sambil berteriak ketakutan.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya dan para tetangga sedang asyik menonton acara sinetron di televisi.

“Kenapa kamu lari-lari kayak habis dikejar selak?” kata nenek saya.

“Dia habis diganggu itu,” kata Inaq Rabitah, ibunya Iwan.

Bejarup dulu sana,” kata Kakek saya.

Saya terlalu ketakutan sehingga tidak sempat memberi tanggapan atas semua komentar itu. Saya masuk ke dalam kamar dan menggunakan sarung mengaji sebagai selimut, berusaha tidur sambil membaca ayat kursi.

Benar, saya yakin bahwa saya sudah tidur waktu itu. Bahkan saya mengingat mimpi saya; saya bermimpi sedang terjaga di sepertiga malam. Saya kembali melihat sosok besar yang sebelumnya menghadang saat pulang mengaji.

Sosok besar itu tengah menimang dan membawa saya ke ruang tamu. Saya melihat ruang tamu penuh oleh entah siapa, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang memakan jagung, ada yang sedang berkelahi, dan ada yang sekadar berbaring di lantai. Lampu di ruang tamu menjadi bercahaya hijau.

Meski memberontak, saya tidak merasakan tubuh saya bergerak. Sampai saya tiba-tiba terlepas dari tangan sosok besar itu. Tetapi tubuh saya tidak menyentuh lantai, melainkan kembali ke tempat saya tidur.

Sampai hari ini, saya masih mengingat mimpi itu dan menyimpannya juga dalam sebuah catatan.

Sebangunnya dari mimpi buruk, saya keluar dan mendapati kakek, nenek, dan para tetangga masih menonton televisi. Entah apa yang menggerakkan tubuh saya hingga berjalan menuju televisi lalu memencet tombol off. Spontan orang-orang yang berada di ruang tamu menatap saya sambil bergurau.

Waktu itu hanya rumah saya yang memiliki televisi di antara empat tetangga yang lain. Terkadang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyediakan tontonan, mereka kerap secara sengaja memberikan beras dan gula sebagai semacam “tiket” masuk ke bioskop.

Nenek yang barangkali ketika itu menyadari tingkah saya yang ganjil segera menggendong dan mengembalikan saya ke kamar. Saya tak bisa tidur sampai jam dinding di kamar menunjuk angka sebelas. Bayangan sosok besar bermata hijau dan berpakaian putih itu terus menghantui saya.

Lama-kelamaan, para tetangga satu per satu mulai beranjak ke rumah mereka masing-masing. Suara sandal mereka yang menjauh dari rumah justru menambah ketegangan saya malam itu. Kakek dan nenek memadamkan televisi dan lampu ruang tamu.

Dalam kegelapan, saya bisa merasakan, bahwa saya tidak sendiri di kamar itu. Saya mendengar kain bermotif bangau yang menjadi pintu kamar saya bergerak. Suara kain yang disingkap itu jelas sekali.

Sekilas saya melihat sebentuk sosok dengan mata bercahaya hijau berdiri di ambang pintu kamar saya. Ketika hendak berteriak, suara saya seakan terhenti di leher.

Cukup lama saya merasakan ketegangan itu, sampai tubuh saya basah oleh keringat. Entah pada zikir ke berapa, kakek dan nenek akhirnya datang menolong saya. Lampu ruang tamu dan lampu kamar dihidupkan, dan saya diangkut masuk ke kamar mereka.

Wajah saya dibasuh oleh kakek menggunakan segelas air yang telah dijampi. Menggunakan tangannya, ia kemudian mengusap kedua kelopak mata saya seolah-olah sedang membersihkan apa yang sebelumnya saya lihat. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat sosok berbadan besar itu. Setidaknya sampai saya lulus SMA.

Saya pindah ke Kota Mataram dan bermukim bersama kedua orangtua saya pada pertengahan tahun 2012. Kakek meninggal pada tahun 2006, dan nenek terpaksa tinggal seorang diri, sebab anak-anaknya sudah berpencar ke luar daerah melanjutkan kehidupan masing-masing bersama keluarga baru.

Pada tahun 2015, saya mulai menempuh pendidikan S1 di Surabaya. Pada waktu itu pula, saya kembali merasakan ketakutan yang ganjil. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi hendak lepas landas, saya bisa melihat dari balik jendela, sosok berbadan besar dengan pakaian putih yang matanya menguarkan cahaya hijau sedang berdiri tidak jauh dari sayap pesawat. Sosok itu melambaikan tangannya kepada saya.

Catatan:

Selak: hantu atau manusia yang menggunakan ilmu hitam.

Bejarup: membasuh muka

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 158

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 152

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks