Selak dan Jampi-jampi Kakek 0 247

Ini cerita waktu dulu, saat saya berusia kurang dari sepuluh tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya merupakan orang yang cukup disegani di desa. Menurut cerita yang sudah beredar jauh sebelum saya lahir, kakek saya sering memenangkan perkelahian antar orang sakti.

Nenek saya juga pernah mengatakan, bahwa orang-orang yang hendak berbuat jahat di rumah saya atau kepada tetangga-tetangga, akan selalu berakhir buruk. Mereka tak pernah benar-benar bisa menyentuh halaman rumah kami, sebab yang akan mereka dapati hanya laut dan sebentang sawah. Dengan kata lain, bila anda mau mencuri ke rumah saya, maka penglihatan anda akan disulap menjadi “berbeda” dari yang sebenarnya.

Rumah saya letaknya di belakang tembok sekolah. Nah, di tembok itu, terdapat gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya. Suasana sekolah yang sepi ketika malam hari membuat saya selalu ketakutan tiap kali melaluinya.

Pada sebuah malam yang dingin, saya pulang dari mengaji seorang diri. Biasanya saya bersama tiga teman saya; Weli, Iwan dan Erik. Tapi malam itu mereka tak datang ke surau karena demam. Aneh memang, mereka demam secara bersamaan. Seperti kebetulan yang disengaja.

Entah bagaimana, malam itu ketakutan saya memuncak. Mungkin karena sebelumnya, teman mengaji saya bercerita tentang hilangnya seorang anak laki-laki di desa saya, setelah dikutuk ibunya karena belum menurunkan layangan ketika magrib naik. Saya yakin, anak itu diculik oleh Selak.

Saya berjalan lebih cepat dari biasanya, namun gerbang kecil yang mengarah menuju halaman rumah saya tak kunjung bisa saya dekati. Gerbang itu bagaikan berlari dari kejaran saya.

Saya akhirnya kelelahan, dan mencoba berjalan lambat.

Pada momen saya berjalan lambat itulah, saya melihat sosok gemuk berpakaian putih dan tinggi sedang berdiri di samping gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya.

Saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya, bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Sosok besar itu memiliki bola mata yang memancarkan cahaya hijau. Bola mata itu tampak melayang di antara pendar cahaya bulan.

Kejadian itu berlangsung hanya sekitar satu menit. Setelah saya kembali bisa menggerakkan tubuh saya, sosok besar itu menghilang. Lantas saya segera berlari sambil berteriak ketakutan.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya dan para tetangga sedang asyik menonton acara sinetron di televisi.

“Kenapa kamu lari-lari kayak habis dikejar selak?” kata nenek saya.

“Dia habis diganggu itu,” kata Inaq Rabitah, ibunya Iwan.

Bejarup dulu sana,” kata Kakek saya.

Saya terlalu ketakutan sehingga tidak sempat memberi tanggapan atas semua komentar itu. Saya masuk ke dalam kamar dan menggunakan sarung mengaji sebagai selimut, berusaha tidur sambil membaca ayat kursi.

Benar, saya yakin bahwa saya sudah tidur waktu itu. Bahkan saya mengingat mimpi saya; saya bermimpi sedang terjaga di sepertiga malam. Saya kembali melihat sosok besar yang sebelumnya menghadang saat pulang mengaji.

Sosok besar itu tengah menimang dan membawa saya ke ruang tamu. Saya melihat ruang tamu penuh oleh entah siapa, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang memakan jagung, ada yang sedang berkelahi, dan ada yang sekadar berbaring di lantai. Lampu di ruang tamu menjadi bercahaya hijau.

Meski memberontak, saya tidak merasakan tubuh saya bergerak. Sampai saya tiba-tiba terlepas dari tangan sosok besar itu. Tetapi tubuh saya tidak menyentuh lantai, melainkan kembali ke tempat saya tidur.

Sampai hari ini, saya masih mengingat mimpi itu dan menyimpannya juga dalam sebuah catatan.

Sebangunnya dari mimpi buruk, saya keluar dan mendapati kakek, nenek, dan para tetangga masih menonton televisi. Entah apa yang menggerakkan tubuh saya hingga berjalan menuju televisi lalu memencet tombol off. Spontan orang-orang yang berada di ruang tamu menatap saya sambil bergurau.

Waktu itu hanya rumah saya yang memiliki televisi di antara empat tetangga yang lain. Terkadang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyediakan tontonan, mereka kerap secara sengaja memberikan beras dan gula sebagai semacam “tiket” masuk ke bioskop.

Nenek yang barangkali ketika itu menyadari tingkah saya yang ganjil segera menggendong dan mengembalikan saya ke kamar. Saya tak bisa tidur sampai jam dinding di kamar menunjuk angka sebelas. Bayangan sosok besar bermata hijau dan berpakaian putih itu terus menghantui saya.

Lama-kelamaan, para tetangga satu per satu mulai beranjak ke rumah mereka masing-masing. Suara sandal mereka yang menjauh dari rumah justru menambah ketegangan saya malam itu. Kakek dan nenek memadamkan televisi dan lampu ruang tamu.

Dalam kegelapan, saya bisa merasakan, bahwa saya tidak sendiri di kamar itu. Saya mendengar kain bermotif bangau yang menjadi pintu kamar saya bergerak. Suara kain yang disingkap itu jelas sekali.

Sekilas saya melihat sebentuk sosok dengan mata bercahaya hijau berdiri di ambang pintu kamar saya. Ketika hendak berteriak, suara saya seakan terhenti di leher.

Cukup lama saya merasakan ketegangan itu, sampai tubuh saya basah oleh keringat. Entah pada zikir ke berapa, kakek dan nenek akhirnya datang menolong saya. Lampu ruang tamu dan lampu kamar dihidupkan, dan saya diangkut masuk ke kamar mereka.

Wajah saya dibasuh oleh kakek menggunakan segelas air yang telah dijampi. Menggunakan tangannya, ia kemudian mengusap kedua kelopak mata saya seolah-olah sedang membersihkan apa yang sebelumnya saya lihat. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat sosok berbadan besar itu. Setidaknya sampai saya lulus SMA.

Saya pindah ke Kota Mataram dan bermukim bersama kedua orangtua saya pada pertengahan tahun 2012. Kakek meninggal pada tahun 2006, dan nenek terpaksa tinggal seorang diri, sebab anak-anaknya sudah berpencar ke luar daerah melanjutkan kehidupan masing-masing bersama keluarga baru.

Pada tahun 2015, saya mulai menempuh pendidikan S1 di Surabaya. Pada waktu itu pula, saya kembali merasakan ketakutan yang ganjil. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi hendak lepas landas, saya bisa melihat dari balik jendela, sosok berbadan besar dengan pakaian putih yang matanya menguarkan cahaya hijau sedang berdiri tidak jauh dari sayap pesawat. Sosok itu melambaikan tangannya kepada saya.

Catatan:

Selak: hantu atau manusia yang menggunakan ilmu hitam.

Bejarup: membasuh muka

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebiasaan Aparat Saat Masuk Tipi: Sebuah Rangkuman 0 122

Setelah berkutat dengan dunia media televisi selama beberapa caturwulan terakhir, saya dan sejumlah teman sepermainan menyadari dan bersepakat, orang-orang berseragam (bukan seragam OSIS tentu saja) punya mentalitas solidaritas yang kuat. Dedikasinya untuk mengabdi pada negara memang harus kita akui jempol. Selain menjaga stabilitas dan keamanan negara, mereka juga sangat loyal pada lembaga tempat mereka bernaung.

Saking solidnya, baik bawahan pada atasan, maupun sebaliknya, mereka segan jika hanya namanya atau wajahnya yang nampang di layar kaca. Maka, inilah kebiasaan yang pertama: perwakilan petugas yang kami wawancara biasanya tak mau hanya sendirian nampak di frame kamera. Mereka akan mengajak sejumlah pasukannya, atau pasukan dari satuan lain yang bekerja sama (sebut saja misal TNI dan Polri), untuk berdiri di belakangnya.

“Sini, sini semua ikut mengawal”, begitu si bapak yang hendak diwawancara berseru.

“Semua kelihatan kan ya Mas?”, begitu tanya si bapak pada juru kamera. Memastikan bahwa semua anggotanya terlihat di layar kaca, dan bisa menyampaikan kabar pada sanak saudara di rumah kalau dirinya masuk tipi.

Sebanyak mungkin anggota harus diajak, sampai satu layar tivi Anda akan dipenuhi oleh tubuh dan wajah manusia berseragam dari berbagai warna. Walau tak ikut bicara, yang penting mejeng.

Setelah itu, biasanya tanpa si reporter mengajukan pertanyaan, si bapak yang berlaku sebagai narasumber akan berinisiatif melontarkan kalimat-kalimat yang akan kami kutip. Inilah kebiasaan kedua:

Hari ini, kami dari satuan blablabla bekerjasama dengan blabla dan blabla melakukan giat blablabla”, begitu tutur si bapak sesaat setelah kami menyodorkan mic dan kamera telah merekam.

Format kalimat ini hampir sama. Percaya deh! Mau siapapun yang bicara, atau dari satuan mana ia berasal, si bapak berseragam akan memulai kalimat penjelasannya seperti tertulis di atas. Kalimat ini juga pasti akan kalian temui sebentar lagi, saat mereka menjaga penyekatan larangan mudik Mei mendatang.

Eits, tidak selesai sampai di sini ya, kebiasaan ketiga masih erat kaitannya dengan solidaritas: jika ada bapak pimpinan dengan status jabatan dan pangkat yang lebih tinggi, maka pasukannya harus mengurungkan niat dan menyimpan suara dari media.

“Nanti saja Mbak ada pimpinan saya sebentar lagi ke sini. Jangan saya yang diwawancara,” begitu kata bapak-bapak pasukan terbawah. Mereka hanya mau menyajikan data tertulis, tapi tak mau nampak di layar. Sebab porsi itu hanyalah milik “kepala-kepala” mereka.

Lantas, walau berjam-jam hingga mungkin hitungan hari atau minggu, kami para awak media akan rela menunggu jawaban sang bapak pimpinan. Walaupun kalimat utamanya akan dimulai seperti kalimat kedua tadi. Sangat bisa ditebak. Kami bahkan bisa menulis naskah perkiraan sebelum wawancara dilakukan.

Bapak-bapak berseragam ini memang cukup menyenangkan dan mudah diajak bekerjasama, sangat bisa ditebak gaya komunikasinya pada kami para wartawan. Mereka juga bisa ngopi dan ngerokok bareng kami, bahkan tak segan-segan menraktir jajan di kantin polda bila mereka merasa senang (karena sudah masuk tipi).

Pembaca yang terhormat, rangkuman ini sepertinya harus berhenti di sini. Sebab, pertanyaan dalam sukma terdalam kita sebagai rakyat jelata mengenai: “bagaimana sifat represif aparat pada media di berbagai kesempatan” tak perlu dibahas di sini. Hehehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 232

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks