Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 89

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kita Semua Benar Kecuali Mbak Denise 0 417

Cukup satu Denise Chariesta untuk mengacak-ngacak jiwa miskin kami.

Video berdurasi tak sampai satu menit itu menggegerkan linimasa media sosial dan mengundang tangan-tangan gatal kita untuk berkomentar. Dalam video itu, Mbak Denise dan teman-temannya mendeklarasikan diri sebagai orang kaya, dan hobi nongkrong di mall mevvah.

Di situ, mereka juga berucap, “kalau kalian (orang miskin) nongkrongnya di pinggiran, ya?”. Sebagaimana tabiat yang mudah emosi, sepertinya kalimat inilah yang kemudian membakar hati sebagian besar kita, para netijen.

Komentar yang terkirim beraneka ragam. Ada yang memaki, menasehati, memberi ayat-ayat suci, bahkan mendoakan celaka kepada Mbak Denise dan teman-temannya yang wajahnya nampang di video itu.

“Di atas langit masih ada langit. Gak usah sombong!”

Ini salah satunya. Lantas, beragam perbandingan dengan orang-orang yang dianggap lebih kaya, dimasukkan. “si A aja kaya gak pernah sombong dan norak kayak situ”. Barangkali kita semua yang salah. Berharap orang kaya harus berperilaku manis, anggun, lemah lembut, dan tidak pamer kepunyaannya.

Kita yang terlalu berharap, menuntut gambaran ideal pada seluruh orang berduit. Kita salut dan memberi jempol bagi mereka orang kaya yang naiknya Ferrari, tapi mau makan bakso malang di pinggiran jalan.

Mungkin juga, kita dimabukkan oleh cerita hepi ending dongeng anak-anak. Di mana kisah-kisah pangeran atau putri raja, yang selalu membela rakyat kecil, ingin hidup sederhana, diciptakan sedemikian rupa protagonis oleh sang sutradara.

Layaknya tokoh dongeng tersebut, kita menuntut orang-orang kaya agar jadi teladan sikap bagi kita, kaum kelas menengah. Mereka harusnya mengajarkan bersyukur, bukannya takabur! Bahwa harta di dunia ini juga datangnya dari Sang Kuasa, bukan semata-mata kerja keras di dunia!

“Sudah disindir sultan masih aja gak tahu malu!”

Kalimat ini juga muncul setelah deretan artis tanah air mengunggah video tanggapan. Bukankah kita sedang berperilaku tak adil pada Mbak Denise. Sementara itu, nama kondang lain semacam Denny Cagur, Raffi Ahmad, Andre Taulany, yang kalian agung-agungkan karena konten rumah besar dan koleksi motor mahal; kita bela mati-matian.

Bahkan, doa-doa baik agar mereka tetap sehat, sukses, dan bertambah kaya, tak segan-segan kita daraskan. Alih-alih menasehati agar tak pamer kekayaan, kita malah mendambakan punya rumah besar dan bergelimang harta layaknya mereka.

“Report akunnya biar gak berseliweran di timeline kita”

Sudah tahun 2020 dan masih banyak dari kita yang gak paham logika algoritma media sosial. Semakin sering kita melihat akun serupa, semakin sering berkomentar di konten yang sejenis, semakin sering pula wajah Mbak Denise muncul di rekomendasi timeline kita. Ya gak heran, lha wong yang kita tonton artis-artis yang sedang menunjukkan koleksi-koleksi mewahnya. Media sosial kan juga membaca habitus kita.

“Ini kan lagi masa susah pandemi,banyak yang di-PHK dan ekonomi lagi sulit, kok malah menyinggung orang yang ekonomi rendah sih Mbak!”

Baik sekali budi orang ini. Tapi siapa sih kita ini yang berhak menghakimi dan menyuruh orang untuk berperilaku “baik” sesuai ukuran kita? Ada banyak cara untuk mengabaikan konten yang menyakiti hati kita, ketimbang nyocoti wong, sok-sokan jadi polisi moral dan berlagak membela kepentingan kaum tertindas, padahal belum tentu yang kita lakukan berdampak juga pada orang-orang yang seharusnya dibela.

“Ih, belajar ngomong huruf R dulu sana!”

Kecenderungan kita jika tak bisa lagi mencari kesalahan orang, adalah menyerang hal-hal yang sifatnya personal, walau gak nyambung-nyambung amat dengan permasalahan utama. Tujuannya tentu menjatuhkan karakternya, karena bagi kita dia pantas mendapatkannya. Kita jadi sibuk menghakimi dan mengejek kelemahan orang lain karena merasa tersinggung, tanpa sadar bahwa kita juga bisa saja menyakitihatinya.

Lagi pula, penulis sebagai bagian dari anggota aktif komunitas Persatuan Cadel Indonesia menyatakan sikap: bahwa kalimat kami masih bisa terdengar jelas konsep dan konteksnya, walau tidak dengan artikulasi yang semestinya. Kami mengecam keras ejekan semacam ini! (lho kok melok-melok tersinggung)

“Enaknya ‘dipake’ dan diewe rame-rame, nih!”

Ini mungkin komentar kita yang ter-epic. Ini adalah senjata terakhir kita dalam menjatuhkan karakter seseorang. Sebab kita orang Indonesia yang mengaku beradat ketimuran ini, tak bisa melepaskan pandang pada soal seputar selangkangan. Dan bahwa kita ini adalah orang-orang yang merasa berhak melepaskan syahwat seenak jidat. Bahwa logika ini sudah terbalik-balik dan melenceng dari persoalan utama, lain soal.

Terlepas dari ini semua, kita mungkin lupa hakikat awal pembuatan video ini. Kita bebas mengekspresikan diri melalui aplikasi paling mukhtahir mengusir kebosanan: TikTok. Kita tiba-tiba bisa njoged walau bukan penari profesional. Kita menunjukkan ekspresi wajah lucu dan belajar meningkatkan kepercayaan diri. Tak ada yang menghalangi kita.

Tapi begitu ada satu konten Denise yang congkak hati, yang juga tak dilarang agama dan negara, kita olok habis-habisan. Selamat tinggal freedom of speech! Kita semua boleh bersenang-senang, bahkan cari duit dariTikTok, kecuali Denise!

Bisnis-bisnis Denise yang sangar itu, coffee shop-nya dengan kemasan nampak premium yang harganya bikin melongo kaum proletar macam kita, florist-nya yang jadi langganan banyak pesohor nasional itu. Kedua store-nya boleh jadi berlokasi di Pacific Place, mall paling beken di Jakarta Selatan, yang masuk ke lobinya aja bikin minder dan berkeliling ke food court-nya bikin hati ciut akibat tak familiar dengan nama-nama tenant makanannya.

Paling-paling semuanya itu cuma tipu-tipu dan hasil ngutang! Ya kan? Ngaku kamu, Mbak Denise!

– jeritan hati netijen sing ngopine nang warkop giras, nukokno kembang pacare nang Kayoon

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Kursi Kosong Najwa Shihab dan Kita yang Sibuk Menghakimi 0 477

Lagi-lagi Najwa Shihab menggemparkan dunia persilatan!

Sebagai jurnalis terbaik di Indonesia saat ini, ia merupakan bukti bagaimana membuat karya tak hanya menyuarakan kepentingan publik dan mengkritisi penguasa, tapi juga bisa diterima khalayak dan berdampak.

Dampak yang penulis maksud ini, gak selalu harus positif lho, ya!

Wawancaranya dengan kursi kosong beberapa hari lalu lantas menuai pro dan kontra. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Maju, Terawan Agus Putranto. Namun, menurut keterangan Mbak Nana (selanjutnya saya akan menyebutnya demikian biar kelihatan akrab) di video berdurasi tak sampai 5 menit ini, tim Mata Najwa – talk show bergenre politik besutan Najwa Shihab – telah mengundang yang bersangkutan berulang kali, tapi berulang kali itu pula ia menunjukkan batang hidungnya.

Sebagian yang pro memuji dan memuja karya Nana. Baru hitungan 24 jam diunggah ke Youtube, sudah ada lebih dari 1 juta penonton, belum ditambah jumlah penonton di akun medsos pribadi, Narasi, dan jutaan komentar yang timbul karenanya.

Mereka yang pro ini, setuju dan menggantungkan kepercayaannya pada jurnalis kawakan sekelas Nana. Tentu saja mengajukan pertanyaan di hadapan kursi kosong ini sudah berdasarkan riset dan mewakili keresahan hati umat. Hal ini juga dikonfirmasi kemudian di caption Instagram Najwa Shihab.

Pun, teknik ini juga sudah banyak dilakukan di luar negeri, demikian pula Nana menyebutnya. Di Inggris misalnya, wawancara Kay Burley di Sky News kepada Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Atau yang dilakukan Andrew Neil kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sebelum pemilu.

Selain itu, satire menjadi sastra yang berhak pula dimasukkan ke dalam karya jurnalistik, demi kian sebagian orang menilai karya #MataNajwaMenantiTerawanini.

Tapi, yang kontra tak kalah banyaknya. Ada yang kaku sekali soal prinsip jurnalisme. Pada tahapan seorang Nana yang belasan tahun menjadi jurnalis, seharusnya ia tahu betul bahwa karya jurnalistik harus mengutamakan asas keberimbangan. Setiap orang yang menjadi narasumber dari berbagai sisi dan kubu harus mendapat porsi menjawab yang sama. Dalam hal ini, ia dinilai sengaja mencecar Terawan dengan sejumlah pertanyaan tanpa berusaha menghadirkan pembelaan darinya.

Ada pula yang berkomentar Nana hanya mencari sensasi. Sebagai fans gak terlalu garis keras, menurut saya, Nana sudah selesai dengan apa yang dinamakan popularitas.  Ia sudah memilikinya sejak reportase fenomenalnya, menangis di tsunami Aceh, apalagi  latar belakangnya sebagai anak cendekiawan dan mantan Menteri Agama di era Soeharto, Quraish Shihab.

Ia pun dituding melakukan bullying. Padahal, karya ini bisa jadi bukan hanya menggugah hati menkes seorang. Ini adalah kritik terhadap keseluruhan sistem kementerian, dan bahkan kabinet berkuasa yang memilih bungkam pada keadaan super genting.

Nana ingin mengingatkan kita, rakyat yang berleha-leha di rumah sembari bikin TikTok ini, soal peran besar Menteri Terawan, yang seharusnya paling bertanggung jawab selama tujuh bulan pandemi ini. Ironisnya, yang selama ini kita kenal dari sang menteri hanyalah jargon “nanti juga sembuh sendiri”.

Sedangkan presiden sibuk membuat beragam komite. Nama Doni Monardo selaku ketua Satgas Covid, Airlangga Hartarto sebagai ketua Komite Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dan tentu saja Lord Luhut Binsar, menteri segala urusan, kini lebih populer.

Pertanyaan “kemana Menteri Terawan?” seharusnya memang diajukan kembali kepada Pak Presiden Jokowi tercinta. Pertanyaan genit macam “Terawan disuruh diam biar gak blunder terus ya?” seharusnya sangat sah kita ajukan bersama di negara demokras iini.

Di luar ini semua, Nana memang pantas digelari jurnalis terbaik negeri ini. Inget ya, penulis gak di-endorse!

Ia tahu betul siapa segmentasi audiensnya. Ia selama ini telah rajin membangun brand image melalui gaya fesyen misalnya. Nana tak hanya dikenal sebagai jurnalis perempuan yang powerful dan duta baca nasional, tapi akhir-akhir ini juga duta sepatu sneakers. Terlihat dari postingannya semenjak menjadi bos Narasi, tak pernah lepas dari sepatu-sepatu kekinian yang harganya bikin melongo kaum proletar.

Gaya  kekinian dan serba muda yang terus dianut Nana adalah tanda kesadarannya, bahwa acaranya Mata Najwa, dan konten Narasi-nya banyak ditonton remaja dan kaum muda. Pada poin ini, ia juga berhasil mendekatkan topik politik pada adek-adek gemes. Kita, kaum muda ini lantas dibuat terpikat, tertambat, dan setia mengapresiasinya.

Proses panjang menjadikan audiensnya loyal dan mendukung karya jurnalistiknya, semakin terwujud nyata dari aksinya mewawancarai kursi kosong ini. Ia tahu bahwa konten ini akan menjadi ramai diperbincangkan. Entah menjadi meme dan menjajaki trending topic, atau yang kelewat serius karena tersinggung. Ia tahu betul bahwa kursi kosong itu akan membuat petinggi kebakaran jenggot, sementara kita, netijen yang selama ini tertidur dan mengeluh bosan karena PSBB, menjadi geram dibuatnya.

Jadi, sudah patutkah wawancara kursi kosong ini dari segi etika? Siapalah saya dan Anda ini yang berhak mengadili? Selagi kita berdebat menjawabi pertanyaan ini dengan sok-sokan membawa teori dan harga diri, Nana sedang menikmati buaian kemenangan algoritma media sosial yang membuatnya semakin populer.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks