Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 266

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kita Hanyalah Penonton di Reshuffle Menteri 0 337

Semua mata tertuju pada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf, yang melangkah dengan heroik ke hadapan media di beranda Istana. Sore itu konferensi pers berjalan diiringi harap cemas 200 juta lebih rakyat Indonesia. Semua karena berbagai peristiwa naas yang menimpa negara akhir-akhir ini.

Mulai dari Corona yang tak kunjung selesai, sampai 2 menteri korup dalam waktu bersamaan. Untuk itu, semua sedang menantikan langkah tegas Pak Presiden melengkapi tubuh kabinetnya.

6 nama baru kemudian diumumkan, mengisi dan/atau menggantikan nama-nama lama, menjabat menteri di era kedua Joko Widodo ini. Seperti biasa, kabar baru seperti penunjukan menteri ini menimbulkan beragam percakapan menarik di kalangan kita, rakyat jelata.

Pertama, di grup whatsapp saya menemukan sebuah meme yang bunyinya begini: “coblos Jokowi-Ma’ruf, bonus Prabowo-Sandi”. Kalimat dalam meme ini memang tidak asing. Dulu pernah keluar sejak aksi Jokowi dan Prabowo yang dengan mesranya naik satu gerbong MRT, hingga penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan. Meme ini hangat dan relevan dimunculkan kembali, setelah nama Mas ganteng Sandiaga Salahuddin Uno yang ditunjuk sebagai Menparekraf, menggantikan Wishnutama.

Ini mungkin menjadi sejarah penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia, di mana rival capres-cawapres yang menimbulkan berbagai drama india selama paling tidak 10 tahun terakhir ini, malah masuk dan merasuk menjadi satu kabinet. Sungguh dunia ini maha terbolak-balik, lawan jadi kawan, dan begitu pula sebaliknya.

Komentar yang muncul atas meme ini juga beragam, dan ada satu yang menarik perhatian saya: “semua akan cebong pada waktunya”. Ini suatu ironi. Kita sendiri yang sering mengeluh betapa melelahkannya perdebatan cebong vs kampret yang tak pernah berhenti. Tapi tanpa sadar, kita sendirilah yang mempopulerkannya, terus-terusan menggaungkannya, membicarakannya, mengomentarinya, dan menjadikannya wacana yang mencuat di ruang media sosial.

Situ tahu kan, kalau suatu trending topic di dunia maya, akan dijadikan agenda setting media mainstream juga. Jadi ya jangan heran, jika persaingan dua kubu akan tetap abadi. Lah wong kita sendiri yang terus menyebarkan meme-meme semacam ini. Sementara elit politik kita sibuk bernegosiasi dan ketawa hahahihi.

Kedua, seperti biasa reshuffle menteri menjadikan kita pakarnya pakar dan ahlinya ahli. Kita menganalisis dengan seksama rekam jejak, imej, dan prospek keenam nama menteri baru Jokowi ini. Kita mendadak jadi paling tahu alasan mengapa Wishnutama digantikan Sandi, sang pelopor giat UMKM Oke-oce. Kita mendadak menilai betapa tak punya pengalaman si Budi Gunadi di bidang kesehatan, tapi justru menggantikan menkes kesayangan Mbak Najwa Shihab, Terawan Agus Putranto, yang katanya kerja dalam diam di balik layar (mbuh layar tancep RT piro).

Kita juga tiba-tiba memuji-muji keputusan Jokowi dalam memilih Tri Rismaharini menjadi mensos, sang walikota kondang yang sukses mengijo-royo-royo-kan Surabaya. Kita mendadak sok tahu, berpikir sosok Risma paling pas untuk memberantas korupsi miris yang baru saja dilakukan pejabat sebelumnya, Juliari Batubara, hanya karena track record-nya yang tegas marah-marah ketika tamannya dirusak. Ingat ya, JIKA TAMANNYA DIRUSAK! (mbuh perkoro liyane)

Sementara itu kita mengenyampingkan bahwa fakta bahwa kursi menteri adalah bagi-bagi jatah partai politik. Mensos adalah jatahnya anak buah Megawati Soekarnoputri. Dan lantas kita jadi dibutakan imej tokoh politik yang selama ini sudah dipotret baik oleh media.

Ketiga, pidato penuh makna Mendag yang baru. Posisi menteri perdagangan diisi Muhammad Lutfi, seorang berpengalaman yang sering langganan menduduki kursi kabinet, dengan jabatan yang sama di masa silam.

Saya perhatikan betul pidatonya yang ternyata semakin mendekati akhir, malah semakin menyakiti hati saya sebagai rakyat biasa-biasa aja ini. Dengan gagah ia sampaikan rasa tanggung jawab besar membawa perekonomian nasional di tengah masa sulit pandemi. Pidato dilengkapi analogi bak pujangga melamar kekasih. Katanya, Mendag adalah wasit pertandingan tinju, pembeli dan penjual adalah petinjunya, dan rakyat adalah penontonnya. Ingat ya, RAKYAT ADALAH PENONTON!

Pak Mendag yang terhormat, bagaimana bisa negara demokrasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi – setidaknya ini yang saya tahu dari pelajaran PPKN waktu SMP dulu – mosok cuma jadi penonton? Bagaimana sang promotor pertandingan tinju berhak menggelar acaranya di mana dan kapan saja, menentukan siapa wasitnya, petinju gontok-gontokan bertaruh nyawa, dan kita yang hanya penonton ini pasif dan tak berdaya, selain daripada memendam emosi melihat pertikaian, menaruh judi karena taruhan, atau ujung-ujungnya chaos antar pendukung.

Omongan Pak Mendag Lutfi ini memang problematis, tapi banyak benarnya. Bahwa kita, rakyat sebagai tingkatan terendah dalam rantai makanan perpolitikan Indonesia ini, hanya asyik menonton. Paling banter ya hanya bikin status WA atau story Instagram “hayo siapa yang kemarin bertengkar sampai putus kongsi gara-gara beda pilihan 01 dan 02?” sambil saling menertawakan satu sama lain. Tak lebih dan tak kurang.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 362

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Editor Picks