Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 410

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ali dan Ratu-ratu Queens: Sebuah Film yang Serba Ada 0 254

Setelah menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai soal betapa menyentuh dan relatable-nya film ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini lewat link ilegal.

Bagi saya sendiri, ada daya tarik kedua yaitu penulis skripnya, Gina S. Noer, yang terlanjur membuat saya jatuh hati lewat “Dua Garis Biru”-nya. Saya berekpetasi tinggi pada film Ali & Ratu-ratu Queen–yang kemudian saya sesali–bahwa sekali lagi Gina akan membawa tema keluarga dengan premis yang keren.

Film satu ini sebenarnya berangkat dari premis yang ciamik: gimana jadinya kalau kamu kehilangan sosok ibu selama bertumbuh kembang, dan setelah beranjak dewasa, kamu pengen nyari ibumu.

Tapi ini nyari ibunya ke New York. Iya, yang di Ameriki.

Alkisah seorang ibu bernama Mia (diperankan Marissa Anita) pergi ke New York meninggalkan anak semata wayangnya, Ali (Iqbaal Ramadhan), dan suaminya. Ia harus melakukan itu demi mengejar mimpinya jadi penyanyi.

Nah, masuklah kita pada hal pertama yang membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: harus banget Amerika gitu? Barangkali, sang sutradara, Lucky Kuswandi, punya obsesi membawa film ini pada segmen yang mendunia, menceritakan American Dreams: semua bisa jadi siapa saja di negeri Paman Sam. Mengingat film ini tayang di Netflix.

Seandainya saja, sutradara bisa memberi ruang lebih banyak untuk menunjukkan seberapa besar peluang menjadi penyanyi di Amerika bagi Mia. Punya kenalan kah dia di sana? Atau sudah ada label yang menawarinya kontrak? Atau ada satu penyanyi idola Mia di sana yang membuatnya membabi buta ingin menyusul karir?

Atau seberapa besar kecintaan Mia terhadap musik. Hal ini mungkin digambarkan dengan super singkat, dalam satu scene adegan flash back: adegan dramatis Mia bermain piano sambil bernyanyi. Tapi kita gak tahu seberapa keren suara Mia, sebab adegan ini full diisi scoring musik lain. Kita kan jadi penasaran, apakah Mia mampu menaklukkan #Jemimachallenge?

Poin ini juga semakin melegitimasi posisi kita sebagai negara dunia ketiga. Bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang mati-matian mengejar mimpinya jadi seniman ke Amerika, seakan hanya di sanalah mimpi itu bisa terwujud. Atau mungkin ini ironi atas seburuk-buruknya negara kita sendiri, bahkan ibu kota seperti Jakarta sekalipun, yang gak pernah menghargai karya seniman, sampai-sampai mereka gak mau berkarir di negara sendiri.

Kekurangan akar cerita yang kuat juga nampak pada penggambaran seberapa kurangnya sosok ibu dalam kehidupan Dilan, eh Ali. Ali nampaknya hidup sebagai anak yang biasa-biasa saja, selain dari hidup penuh kekangan keluarga besar bapaknya. Untuk hal ini, kita tak perlu membahas lebih jauh, sebab sudah terselamatkan dengan akting keren Cut Mini menjadi budhe yang protektif.

Padahal, hidup tanpa ibu, misalnya, menjadikan Ali parno dengan perempuan. Perempuan akan meninggalkannya, cepat atau lambat. (Cielah galau bro?)

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan Ali dengan ratu-ratu di Queens terjadi dengan sangat mulus. Tidak ada rasa canggung, atau kebingungan hidup dengan 4 wanita yang asing sama sekali. Party (Nirina Zubir) yang keibuan, Biyah (Asri Welas) yang selengehan, Ance (Tika Panggabean) ibu-ibu metal, dan Chinta (Happy Salma) yang feminin. Keempat tokoh dengan karakter unik yang telah berhasil digambarkan dalam film ini, satu poin plus.

Tapi, tak cukup sampai di sana. Tanpa ada halang merintang, Ali mudah sekali akrab dengan keempat tante ini. Ikut bekerja paruh waktu, makan bersama, sampai tiba-tiba pada adegan emosional: menonton video momen kebersamaan mereka di ruang tamu. Bagaimana bisa, pertemuan dengan orang asing yang rasanya hanya terjadi dalam beberapa hari itu, mendadak seperti hubungan ibu dan anak? Inilah yang janggal dan lupa diceritakan  di film ini.

Keempat tante ini seharunya lebih menggambarkan, betapa mereka saling melengkapi untuk mengisi kekosongan sosok ibu dalam hidup Ali. Masakin makanan kesukaan, bangunin tidur, ngingetin solat, ada banyak macemnya, yang gak pernah dirasakan seumur hidupnya Ali.

Film ini seharusnya lebih berfokus pada interaksi Ali dan 4 ibu-ibu nyentrik ini, ketimbang memaksakan sosok Eva harus ada dalam cerita. Inilah yang kedua, menghilangkan Eva dari film ini tak akan membawa masalah yang terlalu besar. Eva, anak tante Ance, bertemu dengan Ali, dan tiba-tiba mereka saling jatuh cinta. Sangat klise film Indonesia: memasukkan unsur romansa dengan cewek berwajah blasteran.

Gara-gara ada Eva, kita juga harus menghabiskan waktu menonton adegan cinta monyet mereka. Jalan-jalan di New York, yang tiba-tiba membuat Ali pengen ikut Eva kuliah seni di Amerika. Mau kuliah di luar negeri semudah mencari Indomie dobel di warung kopi. Bukankah visa perjalanan Ali ketika berangkat adalah untuk wisatawan? Dan bukankah ia berangkat tanpa berbekal fotokopi ijazah dan Kartu Keluarga? (Eh maaf, di Amerika gak usah gini-ginian ya mungkin?)

Selanjutnya, kita beranjak pada Mia, tokoh yang tadinya tak punya bekgron kuat-kuat amat untuk meninggalkan keluarganya di Indonesia. Kemampuan akting Marissa Anita yang terpukul, tercabik-cabik, dan terjebak dalam dilema syukurlah bisa menyelamatkan film ini. Terlebih ketika adegan Mia bercucuran air mata di hadapan Ali, dan dengan lirih mengatakan “I am a bad mother”.

Maka, yang ketiga, Mia perlu diberi tempat pada sekuel film lanjutan. Perlu ada part 2 dari film ini, menceritakan sudut pandang Mia mengapa ia meninggalkan Ali, bahkan menolaknya setelah ditemui jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika. Biar kita semua tak terlanjur benci dan menyalahkan Mia sebagai ibu yang gagal.

Poin ketiga ini harap menjadi masukan bagi produser dan segenap kru film. Sebab, kami tak mau salah paham seperti pada Joker dalam Batman. Atau pada Dilan dan Milea.

Pun, jika film ini dibuat lanjutannya, tentu akan laris manis dan membawa keuntungan finansial yang besar. Kita semua tahu kan, selama pemerannya Iqbaal Ramadhan, pasti banyak yang nonton kok, terlepas dari kualitas cerita dan aktingnya.

Pada akhirnya, jujur saja, penulis kebingungan menemukan makna yang hendak dituju film ini. Cerita keluarga, iya. Cerita tentang peran gender dalam keluarga, juga iya. Cerita tentang cita-cita di Amerika, juga ada. Semua ada tetapi serba nanggung. Hanya saja si pembuat film bisa memilih salah satu untuk dihilangkan, mungkin penceritaan akan lebih bisa fokus dan tak hilang arah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 177

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks