Mengagumi Mantan Smartphone dalam Mode Senyap 0 124

Oleh: Edeliya Relanika*

Dear smartphone Android lawasku, sudah berapa lama ya aku tidak menyentuhmu? Sejak setahun lebih beralih jadi pengguna iPhone, aku malah kangen dengan segala kelincahan kita dahulu.

Ada-ada saja alasan mengapa aku sebagai mantan pengguna smartphone Android masih kangen dengan si dia. Sebagai pembelaan, kini kunyatakan bahwa kesempatanku menjadi pengguna iPhone juga hanya karena peruntungan nasib semata. Belum jaminan di masa depan aku akan terus bersama iPhone, bukan?

Mantanku, si smartphone Android, terkenal dengan ketahanbantingan serta kerakyatannya. Maklum, smartphone Android kan harganya lebih cocok buat yang berkantong “dangkal”, lebih mudah dijangkau masyarakat kita.

Sekalian curhat, di sini aku jabarkan saja buah-buah rindu ini. Siapa tahu pembaca yang senasib juga bisa terhubung dengan tulisan ini, hihihi.

 

Android-ku yang Egaliter

Semasa sekolah menengah, sejumlah teman anak holang kaya suka memampangkan smartphone mereka yang bermerek iPhone. Mulai dari iPhone 6 hingga 8 yang kala itu menjadi bunga gawai paling hits. Semua anak di sekolah pasti pernah, paling tidak sekali, turut berbisik-gemericik-bericik kalau ada anak baru yang punya iPhone.

Tapi mari kita telisik lebih lanjut keberadaan kelompok mayoritas di sekolah. Sudah pasti sebagian besar dari kami ya adopters dari smartphone Android. Kalau bukan Samsung ya merek-merek dari Cina gitu. Walaupun banyak juga jenis smartphone Android harganya sampai belasan juta, tapi banyak dari kita yang entah bagaimana punya anggapan bahwa iPhone jauh lebih unggul. Bahkan, salah satu teman SMA-ku pernah ngambek sama bapaknya karena dibelikan smartphone Oppo, bukan iPhone.

Padahal, kita juga tahu kalau smartphone Android lebih banyak dijual di konter-konter tepi jalan. Ketimbang iPhone yang seringkali harus dibeli di distributor resmi macam iBox, smartphone Android bagai kawan yang selalu ada di mana saja. Kebanyakan kalau mau ke iBox harus mblusuk ke dalam mal terlebih dahulu. Sedangkan kalau mau konter HP tepi jalanan kan lebih enak, langsung parkir cantik, gas pol masuk toko.

Malahan, pasukan sales smartphone Android seperti Oppo, Vivo, dan Realme selalu gencar promosi—kadang melalui acara joget-joget di pinggir jalan, diiringi musik EDM kaum Tiktokers. Salah satu yang paling ikonik adalah hadirnya maskot robot balon besar yang suka goyang-goyang di depan konter. Pokoknya, penjualan smartphone Android itu paling semarak promosinya!

 

Smartphone Android Lebih Merakyat untuk Disentuh

Menceritakan pengalaman ini mungkin terkesan membawa sinisme berlebihan terhadap para pemilik iPhone. Tapi aku yakin pasti ada saja pembaca yang bisa terhubung dengan tulisan ini.

Mungkin karena takut disalahgunakan oleh pihak tak bertanggungjawab, para pemilik iPhone cenderung bersikap sangat hati-hati. Berbeda dengan pemilik smartphone ber-OS Android, yang lebih berani bermain kotor dengan gawai tahan-bantingnya.

Gawai terbanting maupun terlempar saat mabar tak menjadi masalah yang memusingkan bagi pemilik smartphone Android. Sebagian beralasan kalau Android-nya rusak kan bisa beli lagi. Beberapa pengguna ada juga yang beranggapan, bahwa pengguna smartphone Android memang akan selalu mengalami pergantian tipe rutin dalam beberapa waktu sekali.

Semasa SMA, aku pernah meminjam iPhone salah seorang teman. Biasa, niat awalnya hanya ingin sekadar utak-atik mengetahui ragam aplikasi di home screen-nya. Belum ada satu menit melihat-lihat, langsung saja tuh iPhone ditarik dari tanganku.

Secara implisit, sepertinya dia tidak ingin iPhone-nya dipinjam terlalu lama. Sejak saat itu, aku mulai menahan keinginan untuk melihat-lihat iPhone milik teman yang lain. Maklum, itu bawaan trauma terhadap smartphone mahal cum elit dengan keamanan privasi yang super duper ketat. Bukan hanya privasi perangkatnya yang highly protected, pemiliknya juga sangar-sangar wey~

 

So, my dearest smartphone Android… Sekarang aku juga mengetahui rasanya jadi pengguna iPhone. Rasanya seperti menjajal teknologi canggih pada busana Iron Man. Namun segala kenangan indahku bersamamu membuatku tetap tidak lupa untuk membumikan diri sendiri. Tenang Android, aku masih mencintaimu dalam mode senyap.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 300

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Menstrual Cup dan Obsesi Selaput Dara Perempuan 0 394

Oleh: Jen*

 

Di usiaku yang tak lagi muda (cielah), aku masih berusaha menempatkan diri sebagai seorang perempuan yang baik di depan tetangga. Karena apapun yang aku lakukan di depan merek dapat menjadi ancaman bisik.

Hingga saat ini, aku juga masih tidak memahami dan terkadang bosan dengan segala peraturan dan norma yang disematkan kepada perempuan untuk memenuhi standar mereka. Entah itu dalam berpakaian hingga perilaku, dan bahkan sampai urusan menstruasi!

Berani taruhan, hampir semua perempuan di sekitarku tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya atau membuka topik seputar menstruasi kepada ibu mereka secara dalam dan luas. Termasuk tentang hal-hal yang sebetulnya sangat dasar.

Salah satunya saja, yang sampai saat masih jadi topik hot: apa iya pembalut itu satu-satunya alat sanitasi yang membantu menampung darah menstruasi? Apakah menjadi salah jika kita membuat pilihan tersendiri untuk menolak penggunaan pembalut?

Beberapa tahun belakangan ini, pembahasan mengenai alternatif pembalut, khususnya menstrual cup, sedang ramai diperbincangkan. Menstrual cup disebut sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurangi jumlah sampah pembalut sekali pakai yang susah terurai. Hal ini lantas mengundang pro dan kontra dari beberapa kelompok, sebut saja SJW dan netijen awam yang budiman.

Lucunya di Endonesa, pendapat kontra terpopuler justru tidak mempersoalkan teknologi cawan menstruasi atau implikasinya terhadap kesehatan, melainkan lebih pada ketakutan rusaknya the-socalled virginity as something holy that women should keep. Netijen umumnya mengkhawatirkan hilangnya selaput dara karena penggunaan cawan, terlebih dan terutama pada mereka yang belum melakukan hubungan seksual.

Reaksi tersebut teralamatkan dengan bermacam nada, mulai dari, “Haduh aku kok jadi ngeri sendiri ya masukin benda asing ke dalam sana,hingga khawatir vagina akan longgar dan tidak rapet lagi karena memakai cawan ini. Padahal anggapan soal rapet atau tidaknya vagina sendiri masih merupakan salah kaprah, dengan logika bodoh sederhana bahwa “rapet” berarti masih perawan dan “longgar” berarti sudah tidak perawan. Parahnya, hal ini dipercayai oleh masyarakat kita secara turun-temurun.

Sekadar mengingatkan, nih. Vagina itu anggota tubuh yang bisa diibaratkan seperti “karet” karena sifatnya yang elastis. Seusai mengendur atau membuka, vagina bisa kembali ke bentuk semula meskipun memerlukan waktu.

Perlu diingat pula, bentuk vagina setiap perempuan tidaklah sama. Bentuk ini sudah terbawa sejak lahir. Wanita yang sudah pernah melahirkan dan yang belum pernah melahirkan juga biasanya memiliki ukuran vagina yang berbeda. Inilah alasan mengapa ada beragam ukuran cawan menstruasi tersedia, yang mengacu pada keragaman bentuk vagina itu sendiri.

Penulis jadi teringat dengan sebuah tayangan YouTube, salah satu seri TedTalk yang edgy itu. Judulnya The Virginity Fraud. Dalam video tersebut, kita bisa lebih memahami “kebenaran yang hakiki” tentang selaput dara. Nina Brochmann dan Ellen Støkken Dahl, sebagai pembicara, mengejawantahkan bagaimana masyarakat bisa menjadi terobsesi dengan hal yang mungkin saja tidak pernah ada pada tubuh seorang perempuan. Karena ternyata tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara!

Sedihnya, obsesi budaya kita tentang daerah kewanitaan ini kini telah menjadi sebuah cara untuk merendahkan dan membuat kaum perempuan malu untuk mencintai tubuh mereka sendiri. Although to be honest, your penis no matter how big it is isn’t gonna break our Ms. V, duh!

Maka dari itu, tante dan ibu-ibu sekalian, om dan bapak-bapak, pada intinya mari kita belajar bersama tak cepat-cepat memberi justifikasi pada suatu objek. Galilah dulu segala sesuatunya dari segi ilmiahnya, dan hargai otoritas tubuh seseorang!

Hidup di tengah masyarakat yang cukup judgemental on daily basis memanglah ribet. Mau hidup wajar dan beralih kepada pilihan yang lebih sehat saja, masih harus minta izin kepada netijen sekalian—yang kalau diturutin terus bisa bikin koleng. Huft!

 

*) Mahasiswa akhir (zaman) pengabdi BTS yang merintis jadi aktipis feminis.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks