Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 230

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tipe-tipe Pasien Isolasi Mandiri (Kamuuuu Mungkin Salah Satunya) 0 246

Pernah menjadi pasien positif Covid-19 di Indonesia, atau setidaknya pernah berinteraksi dengan pasien positif, bisa memberikan sejumlah pengalaman unik dalam hidup.

Terlebih di kurun lonjakan kedua pandemi ini, saat mayoritas warga yang positif terpaksa isolasi mandiri alias ‘isoman’ di tempat tinggal masing-masing. Sebab kapasitas penanganan pasien di RS maupun puskesmas harus diprioritaskan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.

Dibandingkan mereka yang harus berebut jatah ventilator oksigen atau dag-dig-dug menanti donor plasma konvalesen, tantangan yang dihadapi pasien isoman memang relatif lebih mudah. Paling-paling cuma ngelus dompet dada ketika nggak kebagian jatah obat gratis, atau nggak tahan pengen tahu hasil PCR dari puskesmas yang keluarnya dua minggu setelah di-swab.

Di sisi lain, situasi tersebut ternyata bisa memunculkan tabiat unik manusia yang kadang lucu-lucu kalau diperhatikan. Berikut beberapa tipe pasien isoman yang marak ditemui di Endonesah.

 

Tipe Esktra Waspada

Tipe ini didominasi mereka yang bisa merogoh kocek sedikit lebih dalam daripada orang lain. Bagaimana tidak? Sejak awal merasa tidak enak badan, nggak tanggung-tanggung langsung swab PCR. PCR di puskesmas hasilnya lama keluar? No problemo. Bisa PCR mandiri.

Begitu dapat hasil positif, mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya: kok bisa? Padahal selama ini sudah menjalankan protokol kesehatan alias ‘prokes’ superketat, dengan alokasi investasi terbesar untuk sarung tangan plastik dan masker N95.

Sebagai warga negara yang baik, mereka langsung lapor ke RT dan RW sambil melarang betul-betul tetangga satu komplek untuk bertamu ke rumah. Kalau ada yang mau kirim barang atau makanan, boleh, tinggal dicentelin alias digantung di tempat gantungan yang sudah disiapkan di pagar.

Nggak dapat penanganan dari puskesmas nggak masalah. Toh mereka sudah gercep pesan obat-obatan, vitamin, dan oksimeter secara online. Tak lupa ketika paket datang, wajib disemprot disinfektan dulu sebelum masuk rumah. Karena memang dasarnya waspada gyet, mereka juga sudah siap tabung oksigen yang terisi penuh, oxycan, sampai nebulizer.

Isoman kelar, harus PCR lagi dong. Karena kalau belum melihat kata ‘negatif’, jiwa belum tenang shay

 

Tipe Denial

Ini tipe yang paling bikin repot, didominasi boomers dengan hobi mem-forward pesan dan video di WA secepat kilat. Tipe ini juga bisa dibagi jadi dua jenis.

Pertama, mereka yang menganut teori konspirasi, yang sejak awal tidak percaya ada virus Covid-19 dan tidak mau prokes. Kedua, mereka yang percaya corona itu ada, tapi entah bagaimana merasa diri mereka adalah manusia super nan spesial yang nggak mungkin terjangkit.

Keduanya sama. Begitu dibuktikan positif, masih saja tidak percaya. Kata-kata andalannya, “Ini tuh flu biasa!”

Kalau dilarang supaya jangan ketemu orang dulu, marah-marah. Kalau disuruh minum obat, menolak mentah-mentah. Walhasil yang jadi pusing dan turun imun bukan dia, tapi keluarganya.

 

Tipe Paulus

Nama tipe ini terinspirasi cerita Rasul Paulus dalam kitab suci umat Nasrani. Rasul yang dulu hater-nya Yesus itu, yang lalu berubah 180 derajat setelah dapat terapi syok dan berubah jadi penginjil relijius.

Pasien tipe ini awalnya sama seperti tipe denial. Anti-corona dan sangat vokal dalam menunjukkan pendiriannya itu. Senantiasa menantang, “Mana coba, corona itu?” Tentunya, mereka juga amat tidak taat prokes.

Sialnya, ketika dikecup oleh sang corona, mereka termasuk yang langsung mengalami gejala cukup berat. Makin stres setelah tidak ada RS yang bisa menerima, mereka terpaksa dirawat dengan seadanya dan sebisanya di rumah sendiri. Tak jarang anggota keluarga lain harus turut spaneng karena harus mencarikan obat-obatan, bahkan antre berjam-jam untuk dapat oksigen kalau mereka sudah mulai sesak napas.

Bagai tersiram cahaya surgawi, setelah sembuh dengan susah-payah, pasien tipe ini berubah menjadi penginjil Covid-19. Mau hidup dengan lebih sehat dan gencar menceritakan pengalaman pribadinya, walau kadang harus tahan diejek netijen. Beberapa bahkan bersedia jadi relawan, minimal di lingkup RT sendiri.

Tak bisa dipungkiri, kalau ketemu kisah pertobatan macam begini sensasinya bagaikan nonton video masak ASMR. Sooo satisfying… 🙂

 

Tipe Impulsif

Kalau yang satu ini karakternya gampang banget percaya sama video kesehatan dari TikTok yang berseliweran di media sosial. Mereka juga mudah percaya sama omongan teman-teman grup WA, sekalipun baru berupa “katanya si itu” dan “katanya si ini”.

Padahal info-info itu masih perlu dikroscek dulu dari sumber lain, apakah benar dan relevan dengan kebutuhan diri sendiri. Jangan-jangan, rekomendasi yang ditonton atau dibaca itu malah bisa membahayakan kesehatan.

Ada yang bilang harus minum antibiotik, langsung minum tanpa konsultasi dokter. Ada yang bilang produk MLM herbal ‘X’ bisa meningkatkan imun, langsung beli banyak. Ada yang bilang harus minum vitamin C 1000 setiap tiga jam, langsung diikuti. Jangankan malah jadi memicu penyakit lain, lambung nggak keburu modyar aja sudah alhamdulillah.

 

Tipe Woles Wae

Tipe ini didominasi oleh mereka yang tidak bergejala dan bergejala sangat ringan. Mereka cukup cuek kalau menerima pesan-pesan dari keluarga dan kerabat yang menyampaikan kekhawatiran berlebihan. Tidak merasa anxious maupun panik saat membaca update terbaru tentang situasi Covid-19, tapi juga tidak terlalu aktif mencari-cari berita.

Mungkin karena sudah tahu kalau tubuhnya punya imun yang kuat, pasien tipe ini merasa tidak perlu ada perubahan berarti dalam hidupnya. Ya paling istirahat diperbanyak, makanan dipastikan bergizi, dan tiap pagi hari berjemur. Pesan makanan bisa online. Kalau nggak begitu ya beli sendiri keluar rumah tapi dengan prokes lebih ketat. Beberapa bahkan merasa nggak perlu minum obat dan vitamin karena terasa berlebihan.

 

Tipe Selebriti

Nah, kalau tipe yang ini, begitu dapat surat pernyataan positif, langsung dipotret dan di-upload ke story Instagram. Diikuti dengan update setiap harinya bertajuk ‘Isoman day one’, ‘day two’, dan seterusnya lengkap dengan deskripsi gejala yang dirasakan.

Alhasil, banyak yang kirim DM menanyakan kabar, mendoakan supaya cepat sembuh, dan nanyain alamat yang tentu saja dijawab dengan, “Nggak usah repot-repot.” Kemudian melalui pola komunikasi tarik-ulur dan sungkan-sungkanan, mereka akhirnya membagikan alamat juga.

Setiap hari mereka dapat kiriman kue-kue favorit, vitamin, susu, dan lain-lain. Tentu saja semuanya difoto, diunggah ke story untuk bilang terima kasih sambil nge-tag si pengirim. Yaaa… Nggak ada yang salah sih. Semakin banyak dapat support, semakin hemat meningkat imun kita.

 

Bagi pembaca yang pernah positif, kalian termasuk tipe yang mana? Salah satu atau kombinasi? Tentu masih banyak tipe pasien isoman yang belum tertulis di sini.

Termasuk mereka yang tidak tertangani sebagaimana mestinya dan akhirnya tak mampu bertahan. Mari turut berdoa untuk mereka yang terpaksa harus meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di saat-saat seperti ini, badan dan akal jiwa yang sehat sungguh adalah sebuah kemewahan.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Sejumlah Alasan Mengapa Aldi Taher Adalah Artis Paling Berprestasi Abad Ini 0 317

Sebelumnya, Penulis menahan diri dan mencoba melihat fenomena ketenaran Aldi Taher lebih jauh. Agar yang dituliskan nantinya (dan yang kalian baca saat ini) adalah kata-kata terbijak yang Penulis mampu tuliskan.

Rahmat Aldiansyah atau dikenal dengan Aldi Taher adalah selebritis generasi lama. Sejak 2000-an ia sudah familiar dengan dunia entertainment. Anda-Anda yang seumuran saya pasti sering melihat ia dulu mondar-mandir di sinetron dan ftv layar kaca, ataupun film horror layar lebar.

Tapi, ini semua berubah sejak Aldi Taher rekam posting baca al-Quran di Instagram. Belum ditambah beragam gimmick tag-tag akun Instagram seluruh artis terkenal dan media, mengaku ingin jadi wakil gubernur DKI Jakarta, hingga berambisi melaju di Pilpres Amerika Serikat.

Kita memang menganggap Aldi Taher kini mungkin aneh. Kita bertanya-tanya apa yang mendasarinya berperilaku tak masuk akal. Tapi, justru di situlah nilai jualnya.

Dalam kaidah berita, keunikan adalah salah satu unsur penting berita. Suatu peristiwa tidak akan diliput dan ditayangkan dalam berita jika tidak unik atau berbeda. Ini teori dasar jurnalistik ya, yang dipelajari anak-anak komunikasi di kampus-kampus beken, hingga kami terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Aldi Taher adalah perwujudan sempurna dari unsur keunikan ini. Ia bangun dari hibernasinya di dunia hiburan dengan suatu persona yang berbeda, stand out from the rest. Ia menjadi ustadz dadakan yang pandai mengaji. Atau sebagai pencipta lagu serba bisa.

Usahanya berhasil bukan? Buktinya, kita semua membicarakannya, dan bahkan tulisan ini lahir menjawab betapa sering namanya menduduki trending topic.

Barangkali, sebagian besar netijen menganggap Aldi Taher adalah artis tukang cari sensasi. Kita beranggapan bahwa artis yang ingin terkenal harus berkarya dan mencetak prestasi. Lagipula, sejak kapan ada pakem seperti ini?

Bukankah apa yang diciptakan Aldi kini adalah karya seni juga? Rekam posting itu sebuah konten dan perlu diakui sebagai karya dalam konteks kebebasan berekspresi. Demikian pula dengan lagi “NISSA SABYAAANN~ I LOVE YOUUU SO MUCH” yang ia ciptakan. Apalagi, liriknya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan rikues khalayak. Sungguh inovatif, bukan?

Keseluruhan usaha membuat sensasi ini justru membuat Aldi Taher mencetak prestasi: membuat namanya menjadi top of mind kita. Lirik dan nada lagunya sangat menempel di benak kita, dan diam-diam kita senandungkan ketika sedang masak mie instan, atau sedang menunggu bis datang di halte. Dan lagi, paling tidak ketika ditanya “siapa artis paling aneh di dunia” kita akan menyebut nama Aldi Taher bukan?

Perlu juga diakui, bahwa Aldi Taher cerdas membaca situasi. Ia tahu cara bertahan di industri hiburan hari ini. Bisnis media kita kan memang demikian, siapa yang viral dan sensasional, dialah yang akan bertahan lama.

Dari seorang Aldi Taher yang mencetak prestasi dengan kemampuan modelling, akting, dan menyanyinya yang sungguh-sungguh di masa silam. Kini ia bertransformasi menjadi Aldi Taher yang absurd. Nyatanya, ia kini berhasil jadi rebutan bintang tamu televisi dan Youtube.

Tentu, soal substansi konten dan gagasan pribadi yang sering ia lontarkan tentang beramal, poligami, hingga maksiat tak perlu kita bahas. Sebab penulis tentu tak punya kapasitas di bidang itu.

Yang jelas, prestasi Aldi Taher adalah mampu menciptakan sensasi atas dirinya sendiri, dan mampu beradaptasi di kerasnya situasi era ini. Kitalah yang seharusnya banyak belajar darinya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Editor Picks