Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 153

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 289

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 238

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks