Ali dan Ratu-ratu Queens: Sebuah Film yang Serba Ada 0 62

Setelah menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai soal betapa menyentuh dan relatable-nya film ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini lewat link ilegal.

Bagi saya sendiri, ada daya tarik kedua yaitu penulis skripnya, Gina S. Noer, yang terlanjur membuat saya jatuh hati lewat “Dua Garis Biru”-nya. Saya berekpetasi tinggi pada film Ali & Ratu-ratu Queen–yang kemudian saya sesali–bahwa sekali lagi Gina akan membawa tema keluarga dengan premis yang keren.

Film satu ini sebenarnya berangkat dari premis yang ciamik: gimana jadinya kalau kamu kehilangan sosok ibu selama bertumbuh kembang, dan setelah beranjak dewasa, kamu pengen nyari ibumu.

Tapi ini nyari ibunya ke New York. Iya, yang di Ameriki.

Alkisah seorang ibu bernama Mia (diperankan Marissa Anita) pergi ke New York meninggalkan anak semata wayangnya, Ali (Iqbaal Ramadhan), dan suaminya. Ia harus melakukan itu demi mengejar mimpinya jadi penyanyi.

Nah, masuklah kita pada hal pertama yang membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: harus banget Amerika gitu? Barangkali, sang sutradara, Lucky Kuswandi, punya obsesi membawa film ini pada segmen yang mendunia, menceritakan American Dreams: semua bisa jadi siapa saja di negeri Paman Sam. Mengingat film ini tayang di Netflix.

Seandainya saja, sutradara bisa memberi ruang lebih banyak untuk menunjukkan seberapa besar peluang menjadi penyanyi di Amerika bagi Mia. Punya kenalan kah dia di sana? Atau sudah ada label yang menawarinya kontrak? Atau ada satu penyanyi idola Mia di sana yang membuatnya membabi buta ingin menyusul karir?

Atau seberapa besar kecintaan Mia terhadap musik. Hal ini mungkin digambarkan dengan super singkat, dalam satu scene adegan flash back: adegan dramatis Mia bermain piano sambil bernyanyi. Tapi kita gak tahu seberapa keren suara Mia, sebab adegan ini full diisi scoring musik lain. Kita kan jadi penasaran, apakah Mia mampu menaklukkan #Jemimachallenge?

Poin ini juga semakin melegitimasi posisi kita sebagai negara dunia ketiga. Bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang mati-matian mengejar mimpinya jadi seniman ke Amerika, seakan hanya di sanalah mimpi itu bisa terwujud. Atau mungkin ini ironi atas seburuk-buruknya negara kita sendiri, bahkan ibu kota seperti Jakarta sekalipun, yang gak pernah menghargai karya seniman, sampai-sampai mereka gak mau berkarir di negara sendiri.

Kekurangan akar cerita yang kuat juga nampak pada penggambaran seberapa kurangnya sosok ibu dalam kehidupan Dilan, eh Ali. Ali nampaknya hidup sebagai anak yang biasa-biasa saja, selain dari hidup penuh kekangan keluarga besar bapaknya. Untuk hal ini, kita tak perlu membahas lebih jauh, sebab sudah terselamatkan dengan akting keren Cut Mini menjadi budhe yang protektif.

Padahal, hidup tanpa ibu, misalnya, menjadikan Ali parno dengan perempuan. Perempuan akan meninggalkannya, cepat atau lambat. (Cielah galau bro?)

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan Ali dengan ratu-ratu di Queens terjadi dengan sangat mulus. Tidak ada rasa canggung, atau kebingungan hidup dengan 4 wanita yang asing sama sekali. Party (Nirina Zubir) yang keibuan, Biyah (Asri Welas) yang selengehan, Ance (Tika Panggabean) ibu-ibu metal, dan Chinta (Happy Salma) yang feminin. Keempat tokoh dengan karakter unik yang telah berhasil digambarkan dalam film ini, satu poin plus.

Tapi, tak cukup sampai di sana. Tanpa ada halang merintang, Ali mudah sekali akrab dengan keempat tante ini. Ikut bekerja paruh waktu, makan bersama, sampai tiba-tiba pada adegan emosional: menonton video momen kebersamaan mereka di ruang tamu. Bagaimana bisa, pertemuan dengan orang asing yang rasanya hanya terjadi dalam beberapa hari itu, mendadak seperti hubungan ibu dan anak? Inilah yang janggal dan lupa diceritakan  di film ini.

Keempat tante ini seharunya lebih menggambarkan, betapa mereka saling melengkapi untuk mengisi kekosongan sosok ibu dalam hidup Ali. Masakin makanan kesukaan, bangunin tidur, ngingetin solat, ada banyak macemnya, yang gak pernah dirasakan seumur hidupnya Ali.

Film ini seharusnya lebih berfokus pada interaksi Ali dan 4 ibu-ibu nyentrik ini, ketimbang memaksakan sosok Eva harus ada dalam cerita. Inilah yang kedua, menghilangkan Eva dari film ini tak akan membawa masalah yang terlalu besar. Eva, anak tante Ance, bertemu dengan Ali, dan tiba-tiba mereka saling jatuh cinta. Sangat klise film Indonesia: memasukkan unsur romansa dengan cewek berwajah blasteran.

Gara-gara ada Eva, kita juga harus menghabiskan waktu menonton adegan cinta monyet mereka. Jalan-jalan di New York, yang tiba-tiba membuat Ali pengen ikut Eva kuliah seni di Amerika. Mau kuliah di luar negeri semudah mencari Indomie dobel di warung kopi. Bukankah visa perjalanan Ali ketika berangkat adalah untuk wisatawan? Dan bukankah ia berangkat tanpa berbekal fotokopi ijazah dan Kartu Keluarga? (Eh maaf, di Amerika gak usah gini-ginian ya mungkin?)

Selanjutnya, kita beranjak pada Mia, tokoh yang tadinya tak punya bekgron kuat-kuat amat untuk meninggalkan keluarganya di Indonesia. Kemampuan akting Marissa Anita yang terpukul, tercabik-cabik, dan terjebak dalam dilema syukurlah bisa menyelamatkan film ini. Terlebih ketika adegan Mia bercucuran air mata di hadapan Ali, dan dengan lirih mengatakan “I am a bad mother”.

Maka, yang ketiga, Mia perlu diberi tempat pada sekuel film lanjutan. Perlu ada part 2 dari film ini, menceritakan sudut pandang Mia mengapa ia meninggalkan Ali, bahkan menolaknya setelah ditemui jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika. Biar kita semua tak terlanjur benci dan menyalahkan Mia sebagai ibu yang gagal.

Poin ketiga ini harap menjadi masukan bagi produser dan segenap kru film. Sebab, kami tak mau salah paham seperti pada Joker dalam Batman. Atau pada Dilan dan Milea.

Pun, jika film ini dibuat lanjutannya, tentu akan laris manis dan membawa keuntungan finansial yang besar. Kita semua tahu kan, selama pemerannya Iqbaal Ramadhan, pasti banyak yang nonton kok, terlepas dari kualitas cerita dan aktingnya.

Pada akhirnya, jujur saja, penulis kebingungan menemukan makna yang hendak dituju film ini. Cerita keluarga, iya. Cerita tentang peran gender dalam keluarga, juga iya. Cerita tentang cita-cita di Amerika, juga ada. Semua ada tetapi serba nanggung. Hanya saja si pembuat film bisa memilih salah satu untuk dihilangkan, mungkin penceritaan akan lebih bisa fokus dan tak hilang arah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 385

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Pesan Moral Film Tilik Buat Repotnya Hidup Kita 0 1273

Oleh: Novirene Tania*

Apresiasi setinggi-tingginya untuk industri per-film-an yang mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk tetap anteng selama di rumah aja. Hadirnya Film Tilik berdurasi 32 menit 34 detik yang bisa disaksikan lewat Yutup, mampu membangunkan kembali netijen beserta dengan perannya: berkomentar sana-sini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang telah mendorong saya dengan gigih untuk menonton Film Tilik. Review ini adalah bentuk apresiasi saya untuk kalian!

Sebagai pembukaan untuk kalian yang mungkin sama seperti saya – telat menonton Film Tilik – saya akan berikan sedikit overview tentang gambaran garis besar film. Film Tilik merupakan film yang mengangkat narasi tentang “gibahan” sekelompok ibu-ibu di di truk dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah. Menampilkan perdebatan antara sosok Bu Tejo yang super nyinyir dan Yu Ning yang juga tidak mau kalah, film ini berhasil menggambarkan dengan jelas sosok yang bahkan tidak ada di dalam truk yaitu Dian yang kabarnya tengah dekat dengan putra Bu Lurah. Untuk lebih lanjutnya, saksikan sendiri ya! Gak begitu gede kok MB nya wkwk.

Oke, sekarang kita berlanjut pada pembahasan, bagaimana respons masyarakat terhadap Film Tilik?

Persis sama seperti overview saya di awal, begitu pula pembahasan yang paling banyak disorot oleh netijen: sosok Bu Tejo. Netijen pun jadi merentetkan gelar Bu Tejo pada sejumlah orang dalam hidup mereka yang memiliki karakter sama seperti tokohnya, suka mengomentari banyak hal sampe ke ubun-ubun dalam-dalam. Sorotan netijen yang begitu luar biasa bahkan membuat Siti Fauziah Saekhoni sebagai pemeran asli Bu Tejo sempat menangis. Begitu kurang lebih pengakuannya di beberapa berita.

Film Tilik adalah film yang biasa-biasa saja. Ini menjadi respons kedua netijen yang pemberitaannya juga cukup banyak di media. Memang benar sih. Secara technical, masih lebih banyak film di luar sana yang bisa membuat penontonnya berdecak kagum. Mulai dari alasan efek yang keren, animasi yang warbyasah, atau adegan yang variatif dan memicu adrenalin. Berbeda dengan Film Tilik, kalau Bu Tejo dan gerombolannya tidak se-fasih itu untuk membawakan dialog yang hidup dan menguras emosi, mungkin Film Tilik tidak se-booming sekarang ini.

Memang bukan orang Indonesia namanya kalau tidak banyak perspektif. Ada juga segelintir orang yang menyoroti Film Tilik dari sisi kajian feminisme dan bahkan tentang “kebodohan” orang desa. Dan masih banyak lagi perspektif lain yang mungkin belum sempat tertangkap mata saya saat scroll pemberitaan tentang Film Tilik.

Nah, melihat berbagai respons di atas, apa yang sejatinya kita tangkap dari Film Tilik? Betulkah film itu hanya sekadar menyajikan bahwa kemenangan justru dirasakan oleh penyebar gosip tingkat ulung? Atau ada banyak pesan moral yang ternyata bisa diambil?

Mempertontonkan hampir keseluruhan adegan berupa ibu-ibu yang berada dalam Gotrek, Film Tilik nyatanya menjadi representasi atas hidup kita yang sama repotnya. Itu pesan pertama. Ibaratnya Gotrek itu adalah lingkungan masyarakat dan ibu-ibu di dalamnya adalah keanekaragaman orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mulai dari yang selalu berkomentar seperti Bu Tejo, atau orang yang kontra dengan nyinyinyers seperti Yu Ning, dan tidak lupa juga ibu-ibu yang memilih pasif, “Wong hidupku sendiri dah repot. Diem aja wes.” Dan kita pribadi bisa saja memainkan peran salah satunya, dua diantaranya, atau bisa jadi ketiganya adalah pilihan opsi peran bagi kita tergantung pada siapa lawan bicara kita.

Kedua, belajar jadi “pendamai” dalam lingkungan yang memanas. Penggosip ulung seperti Bu Tejo juga perlu antek-antek. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak meruncingkan gosip yang belum tentu kebenarannya, mereka juga pasti diam. Hal ini bisa ditangkap langsung dari seluruh scene bahwa omongan Bu Tejo semakin merepet bak kereta api tidak pernah kehabisan bahan bakar karena selalu ada saja yang menyahuti.

Ketiga, menempatkan posisi yang seimbang dalam pergaulan. Jangan terlalu condong kiri ataupun condong kanan. Saya yakin kita lumrah menemui orang-orang seperti ibu-ibu dalam Film Tilik. Gosip yang belum menjadi fakta gak bisa kita hindari. Bila sudah begitu kondisinya, sebaiknya jangan terlalu banyak angkat bicara jika itu malah memperkeruh suasana. Jangankan yang belum pasti kebenarannya, sesuatu yang kita tau itu benar pun – yang jika digelontorkan malah membuat percekcokan, apalagi sampai membawa-bawa nama baik orang lain –sebaiknya jangan dibahas. Ibu-ibu yang memilih diam selama berada di truk jadi teladan untuk kita.

Pesan terakhir, harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk. Jika Bu Tejo dijadikan pusat perhatian seperti tidak ada nilai lebihnya, kali ini saya mau memberitahu bahwa Bu Tejo termasuk orang yang adaptif. Ketika ternyata usaha mereka untuk menjenguk Bu Lurah gagal, Bu Tejo dengan pemikiran visionernya mengajak Gotrek untuk mengantar mereka ke Pasar Beringharjo. Hal ini adalah sesuatu yang baik jika dilihat dari konteks efisiensi daya dan usaha ketika melakukan perjalanan. Mungkin ini satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Bu Tejo: dadi wong ki sing solutip!

 

*)Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks