Ali dan Ratu-ratu Queens: Sebuah Film yang Serba Ada 0 311

Setelah menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai soal betapa menyentuh dan relatable-nya film ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini lewat link ilegal.

Bagi saya sendiri, ada daya tarik kedua yaitu penulis skripnya, Gina S. Noer, yang terlanjur membuat saya jatuh hati lewat “Dua Garis Biru”-nya. Saya berekpetasi tinggi pada film Ali & Ratu-ratu Queen–yang kemudian saya sesali–bahwa sekali lagi Gina akan membawa tema keluarga dengan premis yang keren.

Film satu ini sebenarnya berangkat dari premis yang ciamik: gimana jadinya kalau kamu kehilangan sosok ibu selama bertumbuh kembang, dan setelah beranjak dewasa, kamu pengen nyari ibumu.

Tapi ini nyari ibunya ke New York. Iya, yang di Ameriki.

Alkisah seorang ibu bernama Mia (diperankan Marissa Anita) pergi ke New York meninggalkan anak semata wayangnya, Ali (Iqbaal Ramadhan), dan suaminya. Ia harus melakukan itu demi mengejar mimpinya jadi penyanyi.

Nah, masuklah kita pada hal pertama yang membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: harus banget Amerika gitu? Barangkali, sang sutradara, Lucky Kuswandi, punya obsesi membawa film ini pada segmen yang mendunia, menceritakan American Dreams: semua bisa jadi siapa saja di negeri Paman Sam. Mengingat film ini tayang di Netflix.

Seandainya saja, sutradara bisa memberi ruang lebih banyak untuk menunjukkan seberapa besar peluang menjadi penyanyi di Amerika bagi Mia. Punya kenalan kah dia di sana? Atau sudah ada label yang menawarinya kontrak? Atau ada satu penyanyi idola Mia di sana yang membuatnya membabi buta ingin menyusul karir?

Atau seberapa besar kecintaan Mia terhadap musik. Hal ini mungkin digambarkan dengan super singkat, dalam satu scene adegan flash back: adegan dramatis Mia bermain piano sambil bernyanyi. Tapi kita gak tahu seberapa keren suara Mia, sebab adegan ini full diisi scoring musik lain. Kita kan jadi penasaran, apakah Mia mampu menaklukkan #Jemimachallenge?

Poin ini juga semakin melegitimasi posisi kita sebagai negara dunia ketiga. Bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang mati-matian mengejar mimpinya jadi seniman ke Amerika, seakan hanya di sanalah mimpi itu bisa terwujud. Atau mungkin ini ironi atas seburuk-buruknya negara kita sendiri, bahkan ibu kota seperti Jakarta sekalipun, yang gak pernah menghargai karya seniman, sampai-sampai mereka gak mau berkarir di negara sendiri.

Kekurangan akar cerita yang kuat juga nampak pada penggambaran seberapa kurangnya sosok ibu dalam kehidupan Dilan, eh Ali. Ali nampaknya hidup sebagai anak yang biasa-biasa saja, selain dari hidup penuh kekangan keluarga besar bapaknya. Untuk hal ini, kita tak perlu membahas lebih jauh, sebab sudah terselamatkan dengan akting keren Cut Mini menjadi budhe yang protektif.

Padahal, hidup tanpa ibu, misalnya, menjadikan Ali parno dengan perempuan. Perempuan akan meninggalkannya, cepat atau lambat. (Cielah galau bro?)

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan Ali dengan ratu-ratu di Queens terjadi dengan sangat mulus. Tidak ada rasa canggung, atau kebingungan hidup dengan 4 wanita yang asing sama sekali. Party (Nirina Zubir) yang keibuan, Biyah (Asri Welas) yang selengehan, Ance (Tika Panggabean) ibu-ibu metal, dan Chinta (Happy Salma) yang feminin. Keempat tokoh dengan karakter unik yang telah berhasil digambarkan dalam film ini, satu poin plus.

Tapi, tak cukup sampai di sana. Tanpa ada halang merintang, Ali mudah sekali akrab dengan keempat tante ini. Ikut bekerja paruh waktu, makan bersama, sampai tiba-tiba pada adegan emosional: menonton video momen kebersamaan mereka di ruang tamu. Bagaimana bisa, pertemuan dengan orang asing yang rasanya hanya terjadi dalam beberapa hari itu, mendadak seperti hubungan ibu dan anak? Inilah yang janggal dan lupa diceritakan  di film ini.

Keempat tante ini seharunya lebih menggambarkan, betapa mereka saling melengkapi untuk mengisi kekosongan sosok ibu dalam hidup Ali. Masakin makanan kesukaan, bangunin tidur, ngingetin solat, ada banyak macemnya, yang gak pernah dirasakan seumur hidupnya Ali.

Film ini seharusnya lebih berfokus pada interaksi Ali dan 4 ibu-ibu nyentrik ini, ketimbang memaksakan sosok Eva harus ada dalam cerita. Inilah yang kedua, menghilangkan Eva dari film ini tak akan membawa masalah yang terlalu besar. Eva, anak tante Ance, bertemu dengan Ali, dan tiba-tiba mereka saling jatuh cinta. Sangat klise film Indonesia: memasukkan unsur romansa dengan cewek berwajah blasteran.

Gara-gara ada Eva, kita juga harus menghabiskan waktu menonton adegan cinta monyet mereka. Jalan-jalan di New York, yang tiba-tiba membuat Ali pengen ikut Eva kuliah seni di Amerika. Mau kuliah di luar negeri semudah mencari Indomie dobel di warung kopi. Bukankah visa perjalanan Ali ketika berangkat adalah untuk wisatawan? Dan bukankah ia berangkat tanpa berbekal fotokopi ijazah dan Kartu Keluarga? (Eh maaf, di Amerika gak usah gini-ginian ya mungkin?)

Selanjutnya, kita beranjak pada Mia, tokoh yang tadinya tak punya bekgron kuat-kuat amat untuk meninggalkan keluarganya di Indonesia. Kemampuan akting Marissa Anita yang terpukul, tercabik-cabik, dan terjebak dalam dilema syukurlah bisa menyelamatkan film ini. Terlebih ketika adegan Mia bercucuran air mata di hadapan Ali, dan dengan lirih mengatakan “I am a bad mother”.

Maka, yang ketiga, Mia perlu diberi tempat pada sekuel film lanjutan. Perlu ada part 2 dari film ini, menceritakan sudut pandang Mia mengapa ia meninggalkan Ali, bahkan menolaknya setelah ditemui jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika. Biar kita semua tak terlanjur benci dan menyalahkan Mia sebagai ibu yang gagal.

Poin ketiga ini harap menjadi masukan bagi produser dan segenap kru film. Sebab, kami tak mau salah paham seperti pada Joker dalam Batman. Atau pada Dilan dan Milea.

Pun, jika film ini dibuat lanjutannya, tentu akan laris manis dan membawa keuntungan finansial yang besar. Kita semua tahu kan, selama pemerannya Iqbaal Ramadhan, pasti banyak yang nonton kok, terlepas dari kualitas cerita dan aktingnya.

Pada akhirnya, jujur saja, penulis kebingungan menemukan makna yang hendak dituju film ini. Cerita keluarga, iya. Cerita tentang peran gender dalam keluarga, juga iya. Cerita tentang cita-cita di Amerika, juga ada. Semua ada tetapi serba nanggung. Hanya saja si pembuat film bisa memilih salah satu untuk dihilangkan, mungkin penceritaan akan lebih bisa fokus dan tak hilang arah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 360

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 472

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Editor Picks