Ali dan Ratu-ratu Queens: Sebuah Film yang Serba Ada

Setelah menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai soal betapa menyentuh dan relatable-nya film ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini lewat link ilegal.

Bagi saya sendiri, ada daya tarik kedua yaitu penulis skripnya, Gina S. Noer, yang terlanjur membuat saya jatuh hati lewat “Dua Garis Biru”-nya. Saya berekpetasi tinggi pada film Ali & Ratu-ratu Queen–yang kemudian saya sesali–bahwa sekali lagi Gina akan membawa tema keluarga dengan premis yang keren.

Film satu ini sebenarnya berangkat dari premis yang ciamik: gimana jadinya kalau kamu kehilangan sosok ibu selama bertumbuh kembang, dan setelah beranjak dewasa, kamu pengen nyari ibumu.

Tapi ini nyari ibunya ke New York. Iya, yang di Ameriki.

Alkisah seorang ibu bernama Mia (diperankan Marissa Anita) pergi ke New York meninggalkan anak semata wayangnya, Ali (Iqbaal Ramadhan), dan suaminya. Ia harus melakukan itu demi mengejar mimpinya jadi penyanyi.

Nah, masuklah kita pada hal pertama yang membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: harus banget Amerika gitu? Barangkali, sang sutradara, Lucky Kuswandi, punya obsesi membawa film ini pada segmen yang mendunia, menceritakan American Dreams: semua bisa jadi siapa saja di negeri Paman Sam. Mengingat film ini tayang di Netflix.

Seandainya saja, sutradara bisa memberi ruang lebih banyak untuk menunjukkan seberapa besar peluang menjadi penyanyi di Amerika bagi Mia. Punya kenalan kah dia di sana? Atau sudah ada label yang menawarinya kontrak? Atau ada satu penyanyi idola Mia di sana yang membuatnya membabi buta ingin menyusul karir?

Atau seberapa besar kecintaan Mia terhadap musik. Hal ini mungkin digambarkan dengan super singkat, dalam satu scene adegan flash back: adegan dramatis Mia bermain piano sambil bernyanyi. Tapi kita gak tahu seberapa keren suara Mia, sebab adegan ini full diisi scoring musik lain. Kita kan jadi penasaran, apakah Mia mampu menaklukkan #Jemimachallenge?

Poin ini juga semakin melegitimasi posisi kita sebagai negara dunia ketiga. Bahwa ada seorang ibu rumah tangga yang mati-matian mengejar mimpinya jadi seniman ke Amerika, seakan hanya di sanalah mimpi itu bisa terwujud. Atau mungkin ini ironi atas seburuk-buruknya negara kita sendiri, bahkan ibu kota seperti Jakarta sekalipun, yang gak pernah menghargai karya seniman, sampai-sampai mereka gak mau berkarir di negara sendiri.

Kekurangan akar cerita yang kuat juga nampak pada penggambaran seberapa kurangnya sosok ibu dalam kehidupan Dilan, eh Ali. Ali nampaknya hidup sebagai anak yang biasa-biasa saja, selain dari hidup penuh kekangan keluarga besar bapaknya. Untuk hal ini, kita tak perlu membahas lebih jauh, sebab sudah terselamatkan dengan akting keren Cut Mini menjadi budhe yang protektif.

Padahal, hidup tanpa ibu, misalnya, menjadikan Ali parno dengan perempuan. Perempuan akan meninggalkannya, cepat atau lambat. (Cielah galau bro?)

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan Ali dengan ratu-ratu di Queens terjadi dengan sangat mulus. Tidak ada rasa canggung, atau kebingungan hidup dengan 4 wanita yang asing sama sekali. Party (Nirina Zubir) yang keibuan, Biyah (Asri Welas) yang selengehan, Ance (Tika Panggabean) ibu-ibu metal, dan Chinta (Happy Salma) yang feminin. Keempat tokoh dengan karakter unik yang telah berhasil digambarkan dalam film ini, satu poin plus.

Tapi, tak cukup sampai di sana. Tanpa ada halang merintang, Ali mudah sekali akrab dengan keempat tante ini. Ikut bekerja paruh waktu, makan bersama, sampai tiba-tiba pada adegan emosional: menonton video momen kebersamaan mereka di ruang tamu. Bagaimana bisa, pertemuan dengan orang asing yang rasanya hanya terjadi dalam beberapa hari itu, mendadak seperti hubungan ibu dan anak? Inilah yang janggal dan lupa diceritakan  di film ini.

Keempat tante ini seharunya lebih menggambarkan, betapa mereka saling melengkapi untuk mengisi kekosongan sosok ibu dalam hidup Ali. Masakin makanan kesukaan, bangunin tidur, ngingetin solat, ada banyak macemnya, yang gak pernah dirasakan seumur hidupnya Ali.

Film ini seharusnya lebih berfokus pada interaksi Ali dan 4 ibu-ibu nyentrik ini, ketimbang memaksakan sosok Eva harus ada dalam cerita. Inilah yang kedua, menghilangkan Eva dari film ini tak akan membawa masalah yang terlalu besar. Eva, anak tante Ance, bertemu dengan Ali, dan tiba-tiba mereka saling jatuh cinta. Sangat klise film Indonesia: memasukkan unsur romansa dengan cewek berwajah blasteran.

Gara-gara ada Eva, kita juga harus menghabiskan waktu menonton adegan cinta monyet mereka. Jalan-jalan di New York, yang tiba-tiba membuat Ali pengen ikut Eva kuliah seni di Amerika. Mau kuliah di luar negeri semudah mencari Indomie dobel di warung kopi. Bukankah visa perjalanan Ali ketika berangkat adalah untuk wisatawan? Dan bukankah ia berangkat tanpa berbekal fotokopi ijazah dan Kartu Keluarga? (Eh maaf, di Amerika gak usah gini-ginian ya mungkin?)

Selanjutnya, kita beranjak pada Mia, tokoh yang tadinya tak punya bekgron kuat-kuat amat untuk meninggalkan keluarganya di Indonesia. Kemampuan akting Marissa Anita yang terpukul, tercabik-cabik, dan terjebak dalam dilema syukurlah bisa menyelamatkan film ini. Terlebih ketika adegan Mia bercucuran air mata di hadapan Ali, dan dengan lirih mengatakan “I am a bad mother”.

Maka, yang ketiga, Mia perlu diberi tempat pada sekuel film lanjutan. Perlu ada part 2 dari film ini, menceritakan sudut pandang Mia mengapa ia meninggalkan Ali, bahkan menolaknya setelah ditemui jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika. Biar kita semua tak terlanjur benci dan menyalahkan Mia sebagai ibu yang gagal.

Poin ketiga ini harap menjadi masukan bagi produser dan segenap kru film. Sebab, kami tak mau salah paham seperti pada Joker dalam Batman. Atau pada Dilan dan Milea.

Pun, jika film ini dibuat lanjutannya, tentu akan laris manis dan membawa keuntungan finansial yang besar. Kita semua tahu kan, selama pemerannya Iqbaal Ramadhan, pasti banyak yang nonton kok, terlepas dari kualitas cerita dan aktingnya.

Pada akhirnya, jujur saja, penulis kebingungan menemukan makna yang hendak dituju film ini. Cerita keluarga, iya. Cerita tentang peran gender dalam keluarga, juga iya. Cerita tentang cita-cita di Amerika, juga ada. Semua ada tetapi serba nanggung. Hanya saja si pembuat film bisa memilih salah satu untuk dihilangkan, mungkin penceritaan akan lebih bisa fokus dan tak hilang arah.