Pleidoi Singkat Tentang Ratusan Hari Kesedihan

Kita sedang berada di puncak ironi. Tawa dilepaskan sekadarnya saja, seperti hela napas yang berlangsung pendek. Selebihnya, wajah kita akan kembali dipupuri kecemasan.

Kini, dering telepon membawa kesan tersendiri; apakah kabar duka selanjutnya sudah datang?

Suara sirine menyayat tabir waktu, dan kita – entah sejak kapan – akan hening sebentar tiap kali ia berlalu; mengira-ngira siapa yang diangkut dari arah sana? Dari kamar sunyi seorang perawat kah? Atau kurir yang tergeletak setelah diprotes karena mengantar barang tak sesuai dengan pesanan si pembeli?

Sementara di tempat yang jauh dari segala bunyi kematian itu, kita tahu, sekawanan orang yang mestinya bertanggung-jawab atas kesengsaraan ini sedang melakukan hal-hal yang biasa kita bayangkan tentang mereka.

(Sudah dapat berapa poin di lapangan golf, kamerad-kamerad sekalian? Saya izin mengeluh dulu, ya. Mohon jangan dinganu).

Belakangan kita mulai sering menonton aksi semprot aparat. Sejumlah pedagang kecil tak beruntung menjadi sasaran amuk masa (/masa tanpa dobel ‘s’) kebijakan babibu. Seorang pedagang menangis, dan dari airmatanya kita bisa melihat pantulan cahaya lampu mal, lampu kamera, lampu sirine ambulans yang kebetulan lewat, lampu lalu lintas, lampu mobil yang terjebak kemacetan, lampu bakul pedagang itu sendiri yang sesaat kemudian dipecahkan pakai pentungan. Betapa airmatanya kelewat gemerlap untuk tampil menjadi bagian dari kesedihan.

Pernah viral juga sebuah video seorang aparat tengah memamerkan kemampuannya mematahkan gitar-gitar milik para pengamen yang terjaring razia. Para pengamen itu mungkin, sama halnya dengan nasib para pedagang yang disemprot, kini sedang kebingungan mencari cara baru mengisi perut yang senantiasa berbunyi “krek” seperti denyit ranjang tua. Semoga saja tangan para pengamen itu tak ikut dipotong, paling tidak mereka masih bisa menguarkan irama dari tepukan. Kebetulan kalian belum pernah mendengar lagu Indonesia Raya dibawakan dalam format punk, bukan?

Saya sebenarnya ingin menulis lebih banyak dari yang bisa dibaca sekarang, tapi jujur saja, saya takut akan segala kemungkinannya. Seperti kemungkinan-kemungkinan yang biasa menimpa orang-orang bersuara nyaring itu. Saya tak bisa seberani mereka, setidaknya untuk sekarang. Saya masih terlalu Abu Janda untuk menjadi Dandhy Laksono.

Tentu kita sangat berharap suara-suara nyaring itu benar-benar dapat memekakkan gendang demokrasi, membangunkan hentakan revolusi yang selama ini mengendap di dasar kesabaran.

Menyumbang sebanyak-banyaknya polusi protes di dinding twitter, mengedarkan berlembar-lembar halaman buku yang disusupi pamflet perlawanan, memperjuangkan kualitas akal-kesadaran agar tetap mendapat perawatan yang layak, serta berbagai tujuan progresif mulia lainnya. Peluang perubahan dari gerakan-gerakan itu mungkin memanglah masih seukuran lubang semut, tapi biarlah peluang tetap menjadi peluang yang berhak diharapkan.

Satu-satunya hal yang paling memungkinkan untuk kita lakukan saat ini ialah menjaga orang-orang tersayang dengan sebaik-baiknya cara. Ketika sudah kehilangan negara, setidaknya kita masih memiliki mereka.

Sungguh, saya tak tahu harus mengatakan apalagi setelah mengatakan semua ini, selain berharap kita semua tetap terlindung dalam haribaan semesta yang sehat.