Pleidoi Singkat Tentang Ratusan Hari Kesedihan 0 308

Kita sedang berada di puncak ironi. Tawa dilepaskan sekadarnya saja, seperti hela napas yang berlangsung pendek. Selebihnya, wajah kita akan kembali dipupuri kecemasan.

Kini, dering telepon membawa kesan tersendiri; apakah kabar duka selanjutnya sudah datang?

Suara sirine menyayat tabir waktu, dan kita – entah sejak kapan – akan hening sebentar tiap kali ia berlalu; mengira-ngira siapa yang diangkut dari arah sana? Dari kamar sunyi seorang perawat kah? Atau kurir yang tergeletak setelah diprotes karena mengantar barang tak sesuai dengan pesanan si pembeli?

Sementara di tempat yang jauh dari segala bunyi kematian itu, kita tahu, sekawanan orang yang mestinya bertanggung-jawab atas kesengsaraan ini sedang melakukan hal-hal yang biasa kita bayangkan tentang mereka.

(Sudah dapat berapa poin di lapangan golf, kamerad-kamerad sekalian? Saya izin mengeluh dulu, ya. Mohon jangan dinganu).

Belakangan kita mulai sering menonton aksi semprot aparat. Sejumlah pedagang kecil tak beruntung menjadi sasaran amuk masa (/masa tanpa dobel ‘s’) kebijakan babibu. Seorang pedagang menangis, dan dari airmatanya kita bisa melihat pantulan cahaya lampu mal, lampu kamera, lampu sirine ambulans yang kebetulan lewat, lampu lalu lintas, lampu mobil yang terjebak kemacetan, lampu bakul pedagang itu sendiri yang sesaat kemudian dipecahkan pakai pentungan. Betapa airmatanya kelewat gemerlap untuk tampil menjadi bagian dari kesedihan.

Pernah viral juga sebuah video seorang aparat tengah memamerkan kemampuannya mematahkan gitar-gitar milik para pengamen yang terjaring razia. Para pengamen itu mungkin, sama halnya dengan nasib para pedagang yang disemprot, kini sedang kebingungan mencari cara baru mengisi perut yang senantiasa berbunyi “krek” seperti denyit ranjang tua. Semoga saja tangan para pengamen itu tak ikut dipotong, paling tidak mereka masih bisa menguarkan irama dari tepukan. Kebetulan kalian belum pernah mendengar lagu Indonesia Raya dibawakan dalam format punk, bukan?

Saya sebenarnya ingin menulis lebih banyak dari yang bisa dibaca sekarang, tapi jujur saja, saya takut akan segala kemungkinannya. Seperti kemungkinan-kemungkinan yang biasa menimpa orang-orang bersuara nyaring itu. Saya tak bisa seberani mereka, setidaknya untuk sekarang. Saya masih terlalu Abu Janda untuk menjadi Dandhy Laksono.

Tentu kita sangat berharap suara-suara nyaring itu benar-benar dapat memekakkan gendang demokrasi, membangunkan hentakan revolusi yang selama ini mengendap di dasar kesabaran. Menyumbang sebanyak-banyaknya polusi protes di dinding twitter, mengedarkan berlembar-lembar halaman buku yang disusupi pamflet perlawanan, memperjuangkan kualitas akal-kesadaran agar tetap mendapat perawatan yang layak, serta berbagai tujuan progresif mulia lainnya. Peluang perubahan dari gerakan-gerakan itu mungkin memanglah masih seukuran lubang semut, tapi biarlah peluang tetap menjadi peluang yang berhak diharapkan.

Satu-satunya hal yang paling memungkinkan untuk kita lakukan saat ini ialah menjaga orang-orang tersayang dengan sebaik-baiknya cara. Ketika sudah kehilangan negara, setidaknya kita masih memiliki mereka.

Sungguh, saya tak tahu harus mengatakan apalagi setelah mengatakan semua ini, selain berharap kita semua tetap terlindung dalam haribaan semesta yang sehat.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tipe-tipe Pasien Isolasi Mandiri (Kamuuuu Mungkin Salah Satunya) 0 279

Pernah menjadi pasien positif Covid-19 di Indonesia, atau setidaknya pernah berinteraksi dengan pasien positif, bisa memberikan sejumlah pengalaman unik dalam hidup.

Terlebih di kurun lonjakan kedua pandemi ini, saat mayoritas warga yang positif terpaksa isolasi mandiri alias ‘isoman’ di tempat tinggal masing-masing. Sebab kapasitas penanganan pasien di RS maupun puskesmas harus diprioritaskan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.

Dibandingkan mereka yang harus berebut jatah ventilator oksigen atau dag-dig-dug menanti donor plasma konvalesen, tantangan yang dihadapi pasien isoman memang relatif lebih mudah. Paling-paling cuma ngelus dompet dada ketika nggak kebagian jatah obat gratis, atau nggak tahan pengen tahu hasil PCR dari puskesmas yang keluarnya dua minggu setelah di-swab.

Di sisi lain, situasi tersebut ternyata bisa memunculkan tabiat unik manusia yang kadang lucu-lucu kalau diperhatikan. Berikut beberapa tipe pasien isoman yang marak ditemui di Endonesah.

 

Tipe Esktra Waspada

Tipe ini didominasi mereka yang bisa merogoh kocek sedikit lebih dalam daripada orang lain. Bagaimana tidak? Sejak awal merasa tidak enak badan, nggak tanggung-tanggung langsung swab PCR. PCR di puskesmas hasilnya lama keluar? No problemo. Bisa PCR mandiri.

Begitu dapat hasil positif, mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya: kok bisa? Padahal selama ini sudah menjalankan protokol kesehatan alias ‘prokes’ superketat, dengan alokasi investasi terbesar untuk sarung tangan plastik dan masker N95.

Sebagai warga negara yang baik, mereka langsung lapor ke RT dan RW sambil melarang betul-betul tetangga satu komplek untuk bertamu ke rumah. Kalau ada yang mau kirim barang atau makanan, boleh, tinggal dicentelin alias digantung di tempat gantungan yang sudah disiapkan di pagar.

Nggak dapat penanganan dari puskesmas nggak masalah. Toh mereka sudah gercep pesan obat-obatan, vitamin, dan oksimeter secara online. Tak lupa ketika paket datang, wajib disemprot disinfektan dulu sebelum masuk rumah. Karena memang dasarnya waspada gyet, mereka juga sudah siap tabung oksigen yang terisi penuh, oxycan, sampai nebulizer.

Isoman kelar, harus PCR lagi dong. Karena kalau belum melihat kata ‘negatif’, jiwa belum tenang shay

 

Tipe Denial

Ini tipe yang paling bikin repot, didominasi boomers dengan hobi mem-forward pesan dan video di WA secepat kilat. Tipe ini juga bisa dibagi jadi dua jenis.

Pertama, mereka yang menganut teori konspirasi, yang sejak awal tidak percaya ada virus Covid-19 dan tidak mau prokes. Kedua, mereka yang percaya corona itu ada, tapi entah bagaimana merasa diri mereka adalah manusia super nan spesial yang nggak mungkin terjangkit.

Keduanya sama. Begitu dibuktikan positif, masih saja tidak percaya. Kata-kata andalannya, “Ini tuh flu biasa!”

Kalau dilarang supaya jangan ketemu orang dulu, marah-marah. Kalau disuruh minum obat, menolak mentah-mentah. Walhasil yang jadi pusing dan turun imun bukan dia, tapi keluarganya.

 

Tipe Paulus

Nama tipe ini terinspirasi cerita Rasul Paulus dalam kitab suci umat Nasrani. Rasul yang dulu hater-nya Yesus itu, yang lalu berubah 180 derajat setelah dapat terapi syok dan berubah jadi penginjil relijius.

Pasien tipe ini awalnya sama seperti tipe denial. Anti-corona dan sangat vokal dalam menunjukkan pendiriannya itu. Senantiasa menantang, “Mana coba, corona itu?” Tentunya, mereka juga amat tidak taat prokes.

Sialnya, ketika dikecup oleh sang corona, mereka termasuk yang langsung mengalami gejala cukup berat. Makin stres setelah tidak ada RS yang bisa menerima, mereka terpaksa dirawat dengan seadanya dan sebisanya di rumah sendiri. Tak jarang anggota keluarga lain harus turut spaneng karena harus mencarikan obat-obatan, bahkan antre berjam-jam untuk dapat oksigen kalau mereka sudah mulai sesak napas.

Bagai tersiram cahaya surgawi, setelah sembuh dengan susah-payah, pasien tipe ini berubah menjadi penginjil Covid-19. Mau hidup dengan lebih sehat dan gencar menceritakan pengalaman pribadinya, walau kadang harus tahan diejek netijen. Beberapa bahkan bersedia jadi relawan, minimal di lingkup RT sendiri.

Tak bisa dipungkiri, kalau ketemu kisah pertobatan macam begini sensasinya bagaikan nonton video masak ASMR. Sooo satisfying… 🙂

 

Tipe Impulsif

Kalau yang satu ini karakternya gampang banget percaya sama video kesehatan dari TikTok yang berseliweran di media sosial. Mereka juga mudah percaya sama omongan teman-teman grup WA, sekalipun baru berupa “katanya si itu” dan “katanya si ini”.

Padahal info-info itu masih perlu dikroscek dulu dari sumber lain, apakah benar dan relevan dengan kebutuhan diri sendiri. Jangan-jangan, rekomendasi yang ditonton atau dibaca itu malah bisa membahayakan kesehatan.

Ada yang bilang harus minum antibiotik, langsung minum tanpa konsultasi dokter. Ada yang bilang produk MLM herbal ‘X’ bisa meningkatkan imun, langsung beli banyak. Ada yang bilang harus minum vitamin C 1000 setiap tiga jam, langsung diikuti. Jangankan malah jadi memicu penyakit lain, lambung nggak keburu modyar aja sudah alhamdulillah.

 

Tipe Woles Wae

Tipe ini didominasi oleh mereka yang tidak bergejala dan bergejala sangat ringan. Mereka cukup cuek kalau menerima pesan-pesan dari keluarga dan kerabat yang menyampaikan kekhawatiran berlebihan. Tidak merasa anxious maupun panik saat membaca update terbaru tentang situasi Covid-19, tapi juga tidak terlalu aktif mencari-cari berita.

Mungkin karena sudah tahu kalau tubuhnya punya imun yang kuat, pasien tipe ini merasa tidak perlu ada perubahan berarti dalam hidupnya. Ya paling istirahat diperbanyak, makanan dipastikan bergizi, dan tiap pagi hari berjemur. Pesan makanan bisa online. Kalau nggak begitu ya beli sendiri keluar rumah tapi dengan prokes lebih ketat. Beberapa bahkan merasa nggak perlu minum obat dan vitamin karena terasa berlebihan.

 

Tipe Selebriti

Nah, kalau tipe yang ini, begitu dapat surat pernyataan positif, langsung dipotret dan di-upload ke story Instagram. Diikuti dengan update setiap harinya bertajuk ‘Isoman day one’, ‘day two’, dan seterusnya lengkap dengan deskripsi gejala yang dirasakan.

Alhasil, banyak yang kirim DM menanyakan kabar, mendoakan supaya cepat sembuh, dan nanyain alamat yang tentu saja dijawab dengan, “Nggak usah repot-repot.” Kemudian melalui pola komunikasi tarik-ulur dan sungkan-sungkanan, mereka akhirnya membagikan alamat juga.

Setiap hari mereka dapat kiriman kue-kue favorit, vitamin, susu, dan lain-lain. Tentu saja semuanya difoto, diunggah ke story untuk bilang terima kasih sambil nge-tag si pengirim. Yaaa… Nggak ada yang salah sih. Semakin banyak dapat support, semakin hemat meningkat imun kita.

 

Bagi pembaca yang pernah positif, kalian termasuk tipe yang mana? Salah satu atau kombinasi? Tentu masih banyak tipe pasien isoman yang belum tertulis di sini.

Termasuk mereka yang tidak tertangani sebagaimana mestinya dan akhirnya tak mampu bertahan. Mari turut berdoa untuk mereka yang terpaksa harus meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di saat-saat seperti ini, badan dan akal jiwa yang sehat sungguh adalah sebuah kemewahan.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 215

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks