Lupakan Utang Pinjolmu, Menontonlah Squid Game Bersamaku

Pembaca, maafkanlah jika sekalian anda bosan dan mual membaca banjir apresiasi, juga cela, dari berita-berita bejibun tentang fenomena pilem seri Squid Game. Tulisan ini pun, jika anda termasuk orang yang memburu kesegaran berita-berita baru tentang Bilar atau Lesti Kejora, tentu akan juga kelihatan membosankan.

Tapi izinkan hamba membuka tulisan dengan sebuah ‘hikmah’ dan nasehat: ini adalah rasan-rasan tentang sebuah pilem yang berjangkar pada derita hidup sehari-hari.

Squid Game berangkat dari pahitnya hidup para tokoh, takdir bercampur nasib yang sama-sama pedih. Untuk mengatasinya, para elite (global?) dan oligark menciptakan permainan pacuan nyawa. Barangsiapa berpartisipasi dan lolos dalam permainan-permainan kanak-kanak, tentu sambil bertaruh hidup masing-masing, akan diganjar hadiah empat puluhan miliar won atau sama saja dengan 400 miliar rupiah.

Di balik gegap gempita kapitalistik sinema streaming Netplik, drama Squid Game memotret kondisi sosial dan krisis parah yang mengendap dalam masyarakat. Utang menumpuk, premanisme, kompetisi korporat yang mengorbankan buruh dan karyawan, dan seterusnya, adalah situasi sehari-hari yang nyaris lazim saja.

Di negeri kita, masalah-masalah ini adalah juga dosis harian bagi banyak orang. Ada frustrasi akut yang disembunyikan oleh kabar-kabar baik para bajer, atau juga, ehem, puja-puji profesor luar negeri….

Dengan kerangka yang sama, pembaca dapat mengenang juga pilem Korea lain, Parasite, yang juga memotret keputusasaan para jelata. Ada tendensi yang amat jelas untuk membenturkan, sekeras dan se-ekstrim mungkin, antara ketakberdayaan para miskin itu dengan kekuasaan tak terbatas para oligark kaya.

Squid Game berdiri dalam garis ini: ada kekuatan maha besar yang tak terengkuh oleh satu apapun, yang bahkan dapat mempermainkan nyawa orang seolah-olah sedang bermain lempar dadu.

Mirip sekali dengan kondisi ente-ente di sini kan? Selagi kita yang kere ini hidup megap-megap, ada orang-orang nun jauh di sana yang luar biasa kayanya, dengan atau tanpa uang halal, dan memegang nasibmu: apakah dana bansosmu sampai ke ibumu atau tidak; apakah besok masih bisa beli paket data untuk Zoom kuliahmu atau tidak; apakah bapakmu masih diberi akses kontrol penyakitnya ke RS dan mendapat fasilitas atau tidak.

Dalam sinema, hebatnya, titik berangkat semacam ini dibungkus oleh keterampilan-keterampilan yang memukau. Anda tak pernah sanggup membayangkan bagaimana keceriaan permainan kanak-kanak dapat disulap menjadi game mematikan. Dan kita terkesima di sana.

Kita terpukau oleh betapa hebat industri Korea, akting para aktornya yang ganteng dan cantik, juga produksi gambar dan promosi yang baik. Netplik mengakselerasi pasar dan menjadikannya sebagai salah satu pilem dengan penonton terbesar sepanjang masa. Dari kritik sosial tajam, berakhir di kapitalisasi pasar. Cukup ironis.

Tapi mungkin itulah kini cara kritik bekerja. Selalu diperlukan pihak ketiga yang mempertemukan idealisme dan ketajaman kritik dengan pasar yang pas. Ada yang harus menegosiasikan dan menambah-kurangi hal-hal agar bisa diterima oleh penonton luas.

Mungkin dengan ditambah komedi-komedi, darah yang moncrot ke mana-mana, atau kisah-kisah picisan sampingan dan pemilihan aktor-aktris yang rupawan (banyak teman-teman saya yang hidupnya susah dan miskinnya notok, tapi mereka tak layak jadi aktor).

Dari sana, kitalah yang bertepuk tangan betapa hebatnya popularitas Squid Game dalam perbincangan sehari-hari.

Persis di sinilah bagian paling ironis: anda melupakan hutang-utang pada pinjol sambil menghibur diri menonton Squid Game.