Lupakan Utang Pinjolmu, Menontonlah Squid Game Bersamaku 0 173

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Pembaca, maafkanlah jika sekalian anda bosan dan mual membaca banjir apresiasi, juga cela, dari berita-berita bejibun tentang fenomena pilem seri Squid Game. Tulisan ini pun, jika anda termasuk orang yang memburu kesegaran berita-berita baru tentang Bilar atau Lesti Kejora, tentu akan juga kelihatan membosankan.

Tapi izinkan hamba membuka tulisan dengan sebuah ‘hikmah’ dan nasehat: ini adalah rasan-rasan tentang sebuah pilem yang berjangkar pada derita hidup sehari-hari.

Squid Game berangkat dari pahitnya hidup para tokoh, takdir bercampur nasib yang sama-sama pedih. Untuk mengatasinya, para elite (global?) dan oligark menciptakan permainan pacuan nyawa. Barangsiapa berpartisipasi dan lolos dalam permainan-permainan kanak-kanak, tentu sambil bertaruh hidup masing-masing, akan diganjar hadiah empat puluhan miliar won atau sama saja dengan 400 miliar rupiah.

Di balik gegap gempita kapitalistik sinema streaming Netplik, drama Squid Game memotret kondisi sosial dan krisis parah yang mengendap dalam masyarakat. Utang menumpuk, premanisme, kompetisi korporat yang mengorbankan buruh dan karyawan, dan seterusnya, adalah situasi sehari-hari yang nyaris lazim saja.

Di negeri kita, masalah-masalah ini adalah juga dosis harian bagi banyak orang. Ada frustrasi akut yang disembunyikan oleh kabar-kabar baik para bajer, atau juga, ehem, puja-puji profesor luar negeri….

Dengan kerangka yang sama, pembaca dapat mengenang juga pilem Korea lain, Parasite, yang juga memotret keputusasaan para jelata. Ada tendensi yang amat jelas untuk membenturkan, sekeras dan se-ekstrim mungkin, antara ketakberdayaan para miskin itu dengan kekuasaan tak terbatas para oligark kaya.

Squid Game berdiri dalam garis ini: ada kekuatan maha besar yang tak terengkuh oleh satu apapun, yang bahkan dapat mempermainkan nyawa orang seolah-olah sedang bermain lempar dadu.

Mirip sekali dengan kondisi ente-ente di sini kan? Selagi kita yang kere ini hidup megap-megap, ada orang-orang nun jauh di sana yang luar biasa kayanya, dengan atau tanpa uang halal, dan memegang nasibmu: apakah dana bansosmu sampai ke ibumu atau tidak; apakah besok masih bisa beli paket data untuk Zoom kuliahmu atau tidak; apakah bapakmu masih diberi akses kontrol penyakitnya ke RS dan mendapat fasilitas atau tidak.

Dalam sinema, hebatnya, titik berangkat semacam ini dibungkus oleh keterampilan-keterampilan yang memukau. Anda tak pernah sanggup membayangkan bagaimana keceriaan permainan kanak-kanak dapat disulap menjadi game mematikan. Dan kita terkesima di sana.

Kita terpukau oleh betapa hebat industri Korea, akting para aktornya yang ganteng dan cantik, juga produksi gambar dan promosi yang baik. Netplik mengakselerasi pasar dan menjadikannya sebagai salah satu pilem dengan penonton terbesar sepanjang masa. Dari kritik sosial tajam, berakhir di kapitalisasi pasar. Cukup ironis.

Tapi mungkin itulah kini cara kritik bekerja. Selalu diperlukan pihak ketiga yang mempertemukan idealisme dan ketajaman kritik dengan pasar yang pas. Ada yang harus menegosiasikan dan menambah-kurangi hal-hal agar bisa diterima oleh penonton luas.

Mungkin dengan ditambah komedi-komedi, darah yang moncrot ke mana-mana, atau kisah-kisah picisan sampingan dan pemilihan aktor-aktris yang rupawan (banyak teman-teman saya yang hidupnya susah dan miskinnya notok, tapi mereka tak layak jadi aktor).

Dari sana, kitalah yang bertepuk tangan betapa hebatnya popularitas Squid Game dalam perbincangan sehari-hari.

Persis di sinilah bagian paling ironis: anda melupakan hutang-utang pada pinjol sambil menghibur diri menonton Squid Game.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 321

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 322

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks