Melepas Kepergian Seon Ho (dan Saipul Jamil, mungkin?) dari Layar Kaca

Kami sebagai Persik (Persatuan Istri DuSik) dan Komunitas Bucin SeonHo menyatakan diri sedang berduka. Karena kesayangan kami, Kim Seon Ho, tersandung kontroversi.

Bermula dari seorang berinisial A spill cerita disaikiti dan diminta menggugurkan kandungannya oleh mantan pacarnya, seorang actor—sebut saja K—yang belakangan sudah terkonfirmasi sebagai tiada lain tiada bukan: Kim Seon Ho.

Kontroversi ini membikin geger dunia maya. Situ tahu kan, netijen di mana pun di dunia ini, sudah macem detektif. Rumor merayap cepat dan membuat image Seon Ho jongkok, jatuh drastis sebagai “doi yang kejam”. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Tepuk tangan dulu buat jari-jari cepat netijen.

Padahal, Seon Ho yang terkenal manis dan alim, baru meraih popularitasnya dalam beberapa tahun belakangan. Jika artis lain memulai karir dari usia dini (mungkin start di umur belasan), Seon Ho bisa dibilang anak kemarin sore, baru mulai ketika usianya sekira kepala tiga, mengadu nasib dalam bermain peran. Kepopulerannya juga baru seumur jagung, dihitung dari drama “Start Up” di tahun 2020, dan “Hometown Cha-cha-cha” yang baru saja selesai dengan ending bahagia.

Para fans juga baru saja sedang kesemsem dengan (ketampanan) akting aktor berusia 35 tahun ini. Lalu tiba-tiba skandal ini muncul bagai petir di siang bolong. Penggemar Seon Ho terpaksa harus putus cinta saat sedang sayang-sayangnya.

Setelah berlalu 1 hari sejak rumor baru muncul tapi terlanjur menjadi liar di medsos itu, Seon Ho memberi rilis permintaan maaf. Tapi, tak seperti kebanyakan artis Indonesia yang setelah bikin klarifikesyen malah makin viral, Seon Ho memutuskan mundur dari semua drama, program TV regulernya “2 Days 1 Night” Season 4, dan berbagai kontrak iklan produk yang dibintanginya.

Ini bukan pertama kalinya artis Koriyah tersandung kasus dan mengundurkan diri dari layar kaca. Dalam kasus yang lebih besar skalanya misalnya, Seungri Bigbang dan artis lain, juga menerapkan hal yang sama.

Industri hiburan di Korea agaknya sudah lebih dewasa dari kita. Di negeri +62 ini, Saipul Jamil, seorang mantan tahanan pelaku pelecehan seksual, malah disambut bak pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani, diampuni berjamaah, masuk ke layar kaca TV nasional. Yang muka badak memang bukan hanya artisnya, tapi sistem industri medianya.

Ini tentu jauh berbeda dengan Korea Selatan. Saluran KBS sebagai TV publik, semacam TVRI-nya korea, amat menimbang masukan dan pendapat penontonnya. Termasuk di dalamnya, program variety show “2 Days 1 Night”, tempat Seon Ho menjadi talent, tanpa ampun mengganti artis bermasalah.

Bukan cuma Seon Ho. Di Season 1 yang pertama mengudara tahun 2007, MC Mong mengundurkan diri karena skandal menghindari wajib militer. Demikian pula dengan Kang Hodong karena skandal pajak. Diikuti Lee Soogeun di Season 2 karena skandal perjudian, dan Jung Joonyoung dari Season 3 dengan dua skandal juga mengundurkan diri.

Di luar kontroversi besar, berdasarkan amatan pribadi penulis yang kece, persoalan edukasi kecil juga menjadi perhatian buat media. Dari channel lain, SBS misalnya, di variety show “Running Man”. Dalam sebuah game, mencuri uang mainan dari lawan diperbolehkan selama proses syuting, dan jadi bagian dari gimmick.

Tapi tetap saja, para artis yang bermain meminta maaf atas sikap mereka selama main game. Hal ini karena mereka punya kesadaran sebagai public figure harus menjadi edukator buat penonton mereka, terutama anak-anak. Perilaku mencuri yang jatohnyaa bercanda di acara TV, bisa saja malah menginspirasi anak-anak buat ditiru di dunia nyata.

Perbedaan negara dan budaya ini memang gak perlu membuat kita kaget. Budaya cancel culture di sana, memang lebih direspon cepat tanggap dalam waktu sesingkat-singkatnya. Karena jika cancel culture semacam itu terjadi di negara kita, Giselle dan Rachel Venya sudah pasti sepi orderan endorsement.

Tapi, tulisan ini sebenarnya tak punya niatan buruk untuk membanding-bandingkan budaya media kita dengan negeri seberang. Tulisan ini juga gak bilang media Korsel lebih baik dari kita. Dalam beberapa hal, media dan belantika hiburan negeri kita pasti punya keunggulan yang tak dimiliki negara lain (masih nyari sih kelebihannya apa…).

Tapi setidaknya, apa yang baik dari mereka: budaya MALU dan TAHU DIRI bisa kita contoh kok.

Ketika TV mereka beramai-ramai mengedit dan membuang pelaku skandal dari layar kaca untuk melindungi citra dan mentalitas penonton, TV kita kini malah berlomba-lonba mengundang siapa saja yang viral. Faedahnya bagi kecerdasan bangsa negara dipikirin belakangan. Karena kalau nanti diprotes netijen dan SJW seperti kasus Saipul Jamil, ya tinggal bikin klarifikasi dan permintaan maaf. Hehe.