Melepas Kepergian Seon Ho (dan Saipul Jamil, mungkin?) dari Layar Kaca 0 133

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Kami sebagai Persik (Persatuan Istri DuSik) dan Komunitas Bucin SeonHo menyatakan diri sedang berduka. Karena kesayangan kami, Kim Seon Ho, tersandung kontroversi.

Bermula dari seorang berinisial A spill cerita disaikiti dan diminta menggugurkan kandungannya oleh mantan pacarnya, seorang actor—sebut saja K—yang belakangan sudah terkonfirmasi sebagai tiada lain tiada bukan: Kim Seon Ho.

Kontroversi ini membikin geger dunia maya. Situ tahu kan, netijen di mana pun di dunia ini, sudah macem detektif. Rumor merayap cepat dan membuat image Seon Ho jongkok, jatuh drastis sebagai “doi yang kejam”. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Tepuk tangan dulu buat jari-jari cepat netijen.

Padahal, Seon Ho yang terkenal manis dan alim, baru meraih popularitasnya dalam beberapa tahun belakangan. Jika artis lain memulai karir dari usia dini (mungkin start di umur belasan), Seon Ho bisa dibilang anak kemarin sore, baru mulai ketika usianya sekira kepala tiga, mengadu nasib dalam bermain peran. Kepopulerannya juga baru seumur jagung, dihitung dari drama “Start Up” di tahun 2020, dan “Hometown Cha-cha-cha” yang baru saja selesai dengan ending bahagia.

Para fans juga baru saja sedang kesemsem dengan (ketampanan) akting aktor berusia 35 tahun ini. Lalu tiba-tiba skandal ini muncul bagai petir di siang bolong. Penggemar Seon Ho terpaksa harus putus cinta saat sedang sayang-sayangnya.

Setelah berlalu 1 hari sejak rumor baru muncul tapi terlanjur menjadi liar di medsos itu, Seon Ho memberi rilis permintaan maaf. Tapi, tak seperti kebanyakan artis Indonesia yang setelah bikin klarifikesyen malah makin viral, Seon Ho memutuskan mundur dari semua drama, program TV regulernya “2 Days 1 Night” Season 4, dan berbagai kontrak iklan produk yang dibintanginya.

Ini bukan pertama kalinya artis Koriyah tersandung kasus dan mengundurkan diri dari layar kaca. Dalam kasus yang lebih besar skalanya misalnya, Seungri Bigbang dan artis lain, juga menerapkan hal yang sama (baca lagi: ‘Perlunya Studi Banding dengan Oppa Seungri’).

Industri hiburan di Korea agaknya sudah lebih dewasa dari kita. Di negeri +62 ini, Saipul Jamil, seorang mantan tahanan pelaku pelecehan seksual, malah disambut bak pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani, diampuni berjamaah, masuk ke layar kaca TV nasional. Yang muka badak memang bukan hanya artisnya, tapi sistem industri medianya.

Ini tentu jauh berbeda dengan Korea Selatan. Saluran KBS sebagai TV publik, semacam TVRI-nya korea, amat menimbang masukan dan pendapat penontonnya. Termasuk di dalamnya, program variety show “2 Days 1 Night”, tempat Seon Ho menjadi talent, tanpa ampun mengganti artis bermasalah.

Bukan cuma Seon Ho. Di Season 1 yang pertama mengudara tahun 2007, MC Mong mengundurkan diri karena skandal menghindari wajib militer. Demikian pula dengan Kang Hodong karena skandal pajak. Diikuti Lee Soogeun di Season 2 karena skandal perjudian, dan Jung Joonyoung dari Season 3 dengan dua skandal juga mengundurkan diri.

Di luar kontroversi besar, berdasarkan amatan pribadi penulis yang kece, persoalan edukasi kecil juga menjadi perhatian buat media. Dari channel lain, SBS misalnya, di variety show “Running Man”. Dalam sebuah game, mencuri uang mainan dari lawan diperbolehkan selama proses syuting, dan jadi bagian dari gimmick.

Tapi tetap saja, para artis yang bermain meminta maaf atas sikap mereka selama main game. Hal ini karena mereka punya kesadaran sebagai public figure harus menjadi edukator buat penonton mereka, terutama anak-anak. Perilaku mencuri yang jatohnyaa bercanda di acara TV, bisa saja malah menginspirasi anak-anak buat ditiru di dunia nyata.

Perbedaan negara dan budaya ini memang gak perlu membuat kita kaget. Budaya cancel culture di sana, memang lebih direspon cepat tanggap dalam waktu sesingkat-singkatnya. Karena jika cancel culture semacam itu terjadi di negara kita, Giselle dan Rachel Venya sudah pasti sepi orderan endorsement.

Tapi, tulisan ini sebenarnya tak punya niatan buruk untuk membanding-bandingkan budaya media kita dengan negeri seberang. Tulisan ini juga gak bilang media Korsel lebih baik dari kita. Dalam beberapa hal, media dan belantika hiburan negeri kita pasti punya keunggulan yang tak dimiliki negara lain (masih nyari sih kelebihannya apa…).

Tapi setidaknya, apa yang baik dari mereka: budaya MALU dan TAHU DIRI bisa kita contoh kok.

Ketika TV mereka beramai-ramai mengedit dan membuang pelaku skandal dari layar kaca untuk melindungi citra dan mentalitas penonton, TV kita kini malah berlomba-lonba mengundang siapa saja yang viral. Faedahnya bagi kecerdasan bangsa negara dipikirin belakangan. Karena kalau nanti diprotes netijen dan SJW seperti kasus Saipul Jamil, ya tinggal bikin klarifikasi dan permintaan maaf. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 158

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 152

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks