Shang Chi dan Bagaimana Kita Bisa Tergoda Menontonnya 0 110

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Kali ini kita bahas film yang sedang happening bingits. Mungkin penyebab ke-viral-annya adalah antara karena kalian ingin melengkapi puzzle cerita Marvel Cinematic Universe, atau karena udah kangen sensasi nonton bioskop setelah berbulan-bulan PPKM. Perbedaannya memang tipis.

Shang Chi and the Legend of the Ten Rings” memulai kisah pada Xu Wenwu alias Mandarin (kita harap kalian belum lupa villain di Iron Man 3), pemilik dan penguasa kekuatan Ten Rings. Selama seribu tahun, ia berusaha menguasai dunia, sampai akhirnya ambisi itu buyar karena jatuh cinta pada seorang penjaga gerbang bernama Ying Li dari desa magis Ta Lo. Keduanya menikah dan dikarunia 2 orang anak: Shang Chi dan Xia Ling.

Singkat cerita, Ying Li, ibunya Shang Chi meninggal karena dibunuh musuh Mandarin di masa lalu. Tidak terima dengan kepergian istrinya, Mandarin dibayang-banyangi suara mistis kekuatan jahat yang menyerupai istrinya. Mandarin berusaha membangunkan kembali kekuatan jahat yang lama tertidur, demi menyelamatkan istrinya yang sebenarnya cuma ada di bayang-bayangnya (mungkin doi susah move-on, sama kayak kamu).

Nah, cerita ini jadi seru karena Shang Chi, si tokoh protagonis berusaha menghalangi bapaknya untuk membangunkan kekuatan jahat itu. Tentu saja tujuannya sama seperti format film superhero pada umumnya: saving the world. Karena kekuatan jahat itu bisa mengambil arwah manusia sak-dunya.

Satu hal yang melintas di benak saya mulai dari sebelum, selama, dan sesudah nonton film ini adalah: pinter, ya, Marvel merebut hati orang Asia!

Pertama, dengan mengangkat tema keluarga. Inti konflik film ini jelas sekali menunjukkan konflik keluarga antara ayah-ibu, yang berbeda karakter dan latar belakang, dan 2 anaknya.

Format cerita keluarga kayak gini gak banyak dipakai oleh Marvel. Kita gak pernah tahu background keluarga Captain America misalnya, Avengers pertama. Siapa bapak-ibunya, apa kerjaan mereka, hanya Tuhan dan penulis cerita yang tahu. Demikian pula Black Widow, sebelum akhirnya tema konsep keluarga diangkat di film barunya tahun ini.

Ini semua karena budaya barat, pada umumnya, tidak familiar dengan keluarga sebagai poros hidup mereka. Apa yang menjadikan mereka berhasil ya semata karena potensi dan perjuangan diri sendiri. Pandangan hidup ini, beda banget sama kita, orang Asia. Keluarga adalah fokus kehidupan, yang membentuk ‘siapa diri kita’ dan ‘gimana cara kita melihat dunia’.

Budaya ketimuran, kebanyakan, menjunjung tinggi bagaimana anak selayaknya menjaga nama baik keluarga dan berbakti pada orang tuanya (mau se-bajingan apapun sifat mereka). Poin ini sangat banyak nampak pada alur cerita. Karakter Shang Chi dibentuk oleh percampuran sisi dingin, tegas, dan ambisius bapaknya, dengan sisi lemah lembut tapi kuat dari ibunya.

Buanyak juga adegan menyentuh seperti flashback Shang Chi dan adik perempuannya ke masa lalu, saat bersatu sebagai keluarga (ideal). Sampai-sampai memori masa lalu itu, menggagalkan niatan Shang Chi buat bunuh bapaknya waktu beradu kekuatan di klimaks cerita. Semua karena Shang Chi ingat, sebesar apapun dendamnya, dia tetap menghormati seorang ayah. Khas sekali orang Asia, bukan? Alias, pinter juga nih Marvel bikin mewek penonton.

Kedua, dengan memainkan isu kesetaraan gender. Di Asia ini, laki-laki cenderung mendominasi ruang dan kekuasaan. Perempuan sulit dapat porsi dan kesempatan mengembangkan potensi. Meminjam kalimat adik perempuannya Shang Chi: “kamu cukup anggukkan kepala dan diam, karena kalaupun kamu ngomong, kamu gak bakal didengarkan dan gak dianggap ada”.

Ya, isu ini, pembaca tahu, sudah banyak diperjuangkan oleh SJW-SJW feminis kita.

Tapi, film ini juga tidak buta dengan kenyataan. Walaupun perlahan mulai diakui, perempuan tetap harus berjuang  untuk bisa stand-out.

Xia Ling tidak mendapat peran utama di film ini. Itu poin yang harus kita catat. Ia adalah supporting character.

Lalu, bagaimana nasibnya dalam cerita ini? Xia Ling harus belajar kemampuan bela diri selama belasan tahun dalam diam, bukan latihan bareng sama laki-laki lainnya. Dia harus meniti karir dulu untuk bisa sehebat kakak laki-lakinya, yang dari awal sudah dapat privilege kesempatan belajar. Tokoh perempuan yang berjuang sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Penulis adalah orang yang tidak membaca komik originnya, jadi pengetahuan soal bagaimana Xia Ling diceritakan tentu sangat terbatas. Tetapi dengan penggambaran yang ada di film ini, tentu bisa cukup menyimpulkan bagaimana Marvel menarik hati orang Asia, dengan memberi porsi bagi perempuan, yang selama ini cuma ada di belakang layar.

Ketiga, bermain dengan naga. Kayaknya Asia dan naga itu dua sejoli yang susah dipisahkan. Setidaknya dalam sudut pandang pembuat film.

Artinya, orang Asia selalu direpresentasikan sebagai masyarakat yang percaya magical atau untagible things: kepercayaan pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Cara penggambaran yang paling gampang ya dengan hewan mitologi, naga, favorit orang Asia.

Ini bukan pertama kalinya Disney memakai naga. Dalam versi animasi kartun, Mulan (1998) juga punya naga, walaupun naganya cupu. Terbaru, Raya juga menampilkan naga (yang lebih mirip naga Barbie) (Baca lagi: “Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara”).

Jadi, kurang afdol dong rasanya, jika Shang Chi yang sangat berbudaya Tionghoa ini gak ada adegan naga-nagaan. Kekuatan baik dan kekuatan jahat bukan digambarkan sebagai manusia, tapi menjelma dalam rupa naga.

Oh ya, sebagai tambahan, buat menarik perhatian saya dan anda untuk nonton Shang Chi, Marvel juga menggandeng Rich Brian dan Niki buat jadi pengisi soundtrack film ini. Lengkap sudah strategi mereka menarik hati orang Asia.

Belum lagi, banyak sekali percakapan di film yang menggunakan Bahasa Mandarin. Semua martial arts yang dipakai juga sangat Asia timur, mulai dari wingchun sampai taichi (dan barangkali kombinasi lainnya).

Sejumlah unsur yang sangat Asia dipakai dengan cerdas, buat menenangkan dan mendekatkan cerita ke kita-kita, para penikmat film berkulit kuning ke sawo matang ini (atau lebih tepatnya jadi konsumen, sasaran pasar belaka).

 

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagu “Bongkar” Iwan Fals dari Speaker Amaq Kaka 0 757

Saya mendengar lagu Iwan Fals pertama kalinya dari Amaq Kaka (paman). Melalui sepasang speaker­-nya di muka pintu, Iwan Fals bagai hadir di tengah kegiatan kami: menyiram halaman, mencari kutu, memasak nasi untuk makan malam, hingga bermain sepak takraw.

Iwan Fals di mata kami adalah orang asing, tapi lagu-lagunya seperti melekat di hidup kami. Meski tak mengenal secara langsung, kami percaya Iwan Fals punya nasib yang sama seperti kami. Setidak-tidaknya, ia telah mewakili keresahan kami saat itu.

Sebelumnya kami sering melakukan protes karena Amaq Kaka selalu saja memutar lagu-lagu yang sama setiap sore. Meski pada akhirnya kami menikmatinya juga, bahkan meresapinya, menanamkannya sebagai semacam paradigma berpikir.

Saya lupa bagaimana waktu itu situasi sosial dan politik yang menimpa kami – yang menyebabkan lagu-lagu Iwan Fals begitu membekas. Yang sedikit masih saya ingat, setiap pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore listrik dipadamkan. Setelah pukul 3 sore listrik kembali aktif, dan dipadamkan lagi selepas salat magrib – bahkan kadang sebelum magrib. Besar dugaan saya, ini dilakukan karena adanya pemusatan energi ke aktivitas operasional kapital di kota. Kami yang hidup di dusun tak mendapat penerangan penuh sampai beberapa tahun lamanya. Adapun yang lampunya menyala hanya kantor kepala desa dan masjid.

Nah, pada saat-saat aktifnya listrik itulah kami berkesempatan menyetel lagu-lagu Iwan Fals. Oleh karena itu, kami akan protes jika Amaq Kaka tidak memanfaatkan aktifnya listrik tersebut dengan baik.

Pada umur sekarang (22), saya semakin merasakan dampak yang begitu dalam dari kebiasaan Amaq Kaka. Ia menanamkan benih-benih kritis sejak kami belum boleh dipecut karena lupa sembahyang. Saya tak tahu pada tahun-tahun itu di mana atau kapan Iwan Fals membuat lagu-lagunya, tapi rasanya lagu-lagunya – wabil khusus Bongkar – memiliki konteks yang cenderung universal hingga dapat menyentuh kami.

Kalau cinta / sudah / dibuang / jangan harap / keadilan akan datang / kesedihan / hanya / tontonan / bagi mereka / yang diperkuda jabatan.

Pelan-pelan saya menghafalkan bait pertama dari lagu ini. Saya juga tak mau terburu-buru menghafalkannya kendati kami berlomba-lomba memamerkan siapa yang paling baik daya ingatnya, di samping kewajiban menghafal tiga puluh jus ayat suci yang rutin kami setorkan di surau setiap magrib.

Benar kata Iwan Fals: Kesedihan hanya tontonan. Bayangkan, kami punya televisi, tapi tak pernah menyala. Kami menonton televisi yang hanya memantulkan bayangan kami dari layar kacanya. Entah apa jadinya nasib hiburan kami kalau radio merek International itu tak bisa hidup tanpa baterai ABC. Tidak hanya itu, kami terkadang sampai malas berangkat mengaji kalau minyak di dalam obor habis dan orangtua kami belum bisa mengisikannya.

Sabar, sabar, sabar / dan tunggu / itu  jawaban / yang / kami terima / ternyata kita harus ke jalan / robohkan setan / yang berdiri mengangkang.

Kami memasang skeptis terhadap siapa yang dimaksud Iwan Fals dengan setan yang berdiri mengangkang sehingga mereka harus di-robohkan. Kalau yang dimaksudnya itu adalah industri atau gedung-gedung besar yang mengambil lahan rakyat, atau setan adalah politikus berperangai buruk di Senayan, maka jelas kami agak kesulitan memahaminya.

Kami tak punya bayangan tentang nuansa bengis modernitas semacam itu. Terkadang matinya televisi memang ada baiknya: kami tak diterpa ribuan teks hegemonis yang bisa saja mendikte kami sehingga tak berselera lagi pada lagu Iwan Fals – mengingat produk industri hiburan yang didistribusikan melalui TV kelewat aduh.

Kami hanya tahu, bahwa “sabar, sabar, sabar dan tunggu” adalah jawaban yang diutarakan Amaq Kaka ketika kami tak sabar menunggu Bongkar berputar, dan ketika seorang kepala desa tak kunjung menepati janjinya untuk memperbaiki kondisi bangunan pasar tradisional, tapi malah mempromosikan habis-habisian sebuah pasar modern, yang entah di mana, agar kami datang ke sana.

Penindasan / serta kesewenang-wenangan / banyak lagi / teramat banyak untuk disebutkan / hoi / hentikan, hentikan / jangan diteruskan / kami muak / dengan ketidak pastian / dan / keserakahan.

Kami memang tak pernah mengalami penindasan secara langsung (baca: kekerasan fisik). Tapi mungkin kami sedikit merasa kurang mendapat keadilan dari sejumlah sektor yang saya kira itu penting, pendidikan misalkan. Menurut saya, jelas penampakan dari buruknya fasilitas belajar di sekolah, sedikitnya gaji guru sehingga membuat mereka gampang lelah, bangunan sekolah yang membuat dada sesak, kurikulum yang sepertinya bertanggung jawab atas melencengnya kebenaran sejarah, jelas adalah penindasan (baca: kekerasan struktural).

Di jalanan / kami sandarkan / cita-cita / sebab di rumah / tak ada lagi / yang bisa dipercaya / orang tua / pandanglah kami / sebagai manusia / kami bertanya / tolong kau jawab / dengan cinta

Bait terakhir ini yang menurut saya paling terbuka tafsirannya. Pertama, karena saya tak tahu siapa orang tua atau pun jalanan yang dimaksud Iwan Fals. Dalam konteks apa kedua kata kunci dalam bait ini didiskusikan. Tapi bila orang tua yang dimaksud ialah orangtua yang menjadi pengurus rumah tangga (baca: bapak/ibu), maka dapat saya pastikan bahwa itu bukanlah orangtua kami.

Orangtua kami banyak mendengar radio, yang isinya kalau bukan dagelan ya lagu-lagu. Secara tidak langsung, kebiasaan ini pula yang membuat mereka lebih pandai mendengar ketimbang bicara. Kami, bocah-bocah, diposisikan sebagai subjek yang berhak didengarkan pendapatnya, berhak difasilitasi bakatnya.

Tapi besar kemungkinan orang tua yang dimaksud Iwan Fals berada dalam konteks pergerakan, situasi ketika mahasiswa yang usulnya selalu ditolak oleh orang yang dianggap tua di parlemen. Mereka itu, atau kesemuanya yang mempunyai jabatan politis, bertanggung jawab atas nasib kami. Banyak saudara dan teman saya yang terpaksa turun ke jalanan guna sandarkan cita-cita mereka.

Jalanan bagi kami adalah ruang yang membentang di luar rumah, jauh di luar rumah. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, pokoknya luar rumah (negeri). Kami sering berpikir untuk pergi ke negara-negara itu, untuk mencari kepastian ekonomi. Demi cita-cita orangtua naik haji, misalnya.

Iwan Fals adalah sebutan bagi musisi yang lahir dalam rentang seratus tahun sekali. Tapi bukan berarti Iwan Fals adalah satu-satunya gerilyawan yang bergerak melalui jalan bebunyian. Di waktu sekarang, kita bisa mendengar muatan wacana serupa dilagukan oleh sejumlah musisi lain dengan karakter yang lebih variatif, seperti Ary Juliyant, Navicula, Krowbar, Homicide. Masih ada Iwan Fals-Iwan Fals baru yang mungkin belum terjangkau oleh telinga kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Pesan Moral Film Tilik Buat Repotnya Hidup Kita 0 1553

Oleh: Novirene Tania*

Apresiasi setinggi-tingginya untuk industri per-film-an yang mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk tetap anteng selama di rumah aja. Hadirnya Film Tilik berdurasi 32 menit 34 detik yang bisa disaksikan lewat Yutup, mampu membangunkan kembali netijen beserta dengan perannya: berkomentar sana-sini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang telah mendorong saya dengan gigih untuk menonton Film Tilik. Review ini adalah bentuk apresiasi saya untuk kalian!

Sebagai pembukaan untuk kalian yang mungkin sama seperti saya – telat menonton Film Tilik – saya akan berikan sedikit overview tentang gambaran garis besar film. Film Tilik merupakan film yang mengangkat narasi tentang “gibahan” sekelompok ibu-ibu di di truk dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah. Menampilkan perdebatan antara sosok Bu Tejo yang super nyinyir dan Yu Ning yang juga tidak mau kalah, film ini berhasil menggambarkan dengan jelas sosok yang bahkan tidak ada di dalam truk yaitu Dian yang kabarnya tengah dekat dengan putra Bu Lurah. Untuk lebih lanjutnya, saksikan sendiri ya! Gak begitu gede kok MB nya wkwk.

Oke, sekarang kita berlanjut pada pembahasan, bagaimana respons masyarakat terhadap Film Tilik?

Persis sama seperti overview saya di awal, begitu pula pembahasan yang paling banyak disorot oleh netijen: sosok Bu Tejo. Netijen pun jadi merentetkan gelar Bu Tejo pada sejumlah orang dalam hidup mereka yang memiliki karakter sama seperti tokohnya, suka mengomentari banyak hal sampe ke ubun-ubun dalam-dalam. Sorotan netijen yang begitu luar biasa bahkan membuat Siti Fauziah Saekhoni sebagai pemeran asli Bu Tejo sempat menangis. Begitu kurang lebih pengakuannya di beberapa berita.

Film Tilik adalah film yang biasa-biasa saja. Ini menjadi respons kedua netijen yang pemberitaannya juga cukup banyak di media. Memang benar sih. Secara technical, masih lebih banyak film di luar sana yang bisa membuat penontonnya berdecak kagum. Mulai dari alasan efek yang keren, animasi yang warbyasah, atau adegan yang variatif dan memicu adrenalin. Berbeda dengan Film Tilik, kalau Bu Tejo dan gerombolannya tidak se-fasih itu untuk membawakan dialog yang hidup dan menguras emosi, mungkin Film Tilik tidak se-booming sekarang ini.

Memang bukan orang Indonesia namanya kalau tidak banyak perspektif. Ada juga segelintir orang yang menyoroti Film Tilik dari sisi kajian feminisme dan bahkan tentang “kebodohan” orang desa. Dan masih banyak lagi perspektif lain yang mungkin belum sempat tertangkap mata saya saat scroll pemberitaan tentang Film Tilik.

Nah, melihat berbagai respons di atas, apa yang sejatinya kita tangkap dari Film Tilik? Betulkah film itu hanya sekadar menyajikan bahwa kemenangan justru dirasakan oleh penyebar gosip tingkat ulung? Atau ada banyak pesan moral yang ternyata bisa diambil?

Mempertontonkan hampir keseluruhan adegan berupa ibu-ibu yang berada dalam Gotrek, Film Tilik nyatanya menjadi representasi atas hidup kita yang sama repotnya. Itu pesan pertama. Ibaratnya Gotrek itu adalah lingkungan masyarakat dan ibu-ibu di dalamnya adalah keanekaragaman orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mulai dari yang selalu berkomentar seperti Bu Tejo, atau orang yang kontra dengan nyinyinyers seperti Yu Ning, dan tidak lupa juga ibu-ibu yang memilih pasif, “Wong hidupku sendiri dah repot. Diem aja wes.” Dan kita pribadi bisa saja memainkan peran salah satunya, dua diantaranya, atau bisa jadi ketiganya adalah pilihan opsi peran bagi kita tergantung pada siapa lawan bicara kita.

Kedua, belajar jadi “pendamai” dalam lingkungan yang memanas. Penggosip ulung seperti Bu Tejo juga perlu antek-antek. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak meruncingkan gosip yang belum tentu kebenarannya, mereka juga pasti diam. Hal ini bisa ditangkap langsung dari seluruh scene bahwa omongan Bu Tejo semakin merepet bak kereta api tidak pernah kehabisan bahan bakar karena selalu ada saja yang menyahuti.

Ketiga, menempatkan posisi yang seimbang dalam pergaulan. Jangan terlalu condong kiri ataupun condong kanan. Saya yakin kita lumrah menemui orang-orang seperti ibu-ibu dalam Film Tilik. Gosip yang belum menjadi fakta gak bisa kita hindari. Bila sudah begitu kondisinya, sebaiknya jangan terlalu banyak angkat bicara jika itu malah memperkeruh suasana. Jangankan yang belum pasti kebenarannya, sesuatu yang kita tau itu benar pun – yang jika digelontorkan malah membuat percekcokan, apalagi sampai membawa-bawa nama baik orang lain –sebaiknya jangan dibahas. Ibu-ibu yang memilih diam selama berada di truk jadi teladan untuk kita.

Pesan terakhir, harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk. Jika Bu Tejo dijadikan pusat perhatian seperti tidak ada nilai lebihnya, kali ini saya mau memberitahu bahwa Bu Tejo termasuk orang yang adaptif. Ketika ternyata usaha mereka untuk menjenguk Bu Lurah gagal, Bu Tejo dengan pemikiran visionernya mengajak Gotrek untuk mengantar mereka ke Pasar Beringharjo. Hal ini adalah sesuatu yang baik jika dilihat dari konteks efisiensi daya dan usaha ketika melakukan perjalanan. Mungkin ini satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Bu Tejo: dadi wong ki sing solutip!

 

*)Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks