Semua mungkin sepakat jika kesimpangsiuran adalah musuh kita hari ini. Kita berada pada rimba informasi di mana ada begitu banyak ruang disediakan, tetapi begitu sedikit perspektif diujicobakan. Publik dikepung banyak info, tapi pada saat yang sama ia juga kehabisan alternatif.

Pembaca yang budiman, Kalikata mencoba menjaga agar alternatif tak habis. Lewat berbagai cara: dengan sopan atau jenaka, atau kadang kekurangajaran. Semuanya ditempuh dengan menghormati agar juga para pembaca tak dibuat berkerut dahinya. Paling-paling, pembaca hanya bergumam “lho, kok?”.

Penulis

Rendy-Pahrun-Wadipalapa

Rendy Pahrun Wadipalapa

Lahir Senin Legi, hari pertama bulan Agustus. Tak punya kepentingan apa-apa di dunia ini selain makan kue terang bulan. Kadang-kadang merawat ikan di akuariumnya. Minatnya merentang dari filsafat sampai komik, agak kekiri-kirian, tapi belum ateis.

Robbyan Abel

Jejaka tanggung, lahir dan besar di Lombok, dua puluhan tahun lalu. Weton tidak diketahui karena takut dipelet. Pria paling kondang di kampusnya dan ia buktikan sebagai finalis duta kampus. Banyak juga menulis problem filsafat dan gerakan sosial-budaya.

Demes Dharmesty

Punya nama intimidatif, karena Demes berarti cantik. Minat tulis-menulis sejak duduk di sekolah menengah. Belakangan merantau ke (yang sebentar lagi bukan) ibu kota untuk mencari sesuap nasi. Demi melindungi privasi, weton tidak disebut di sini.

Ridho-Prasetyawan

Ridho Prasetyawan

Gondrong dan berkacamata, lahir dua puluh dua tahun silam. Banyak menulis puisi sekaligus prosa beraliran romantika yang tak pernah diketahui ditujukan untuk apa/siapa. Mungkin agar terkesan misterius. Juga membikin film, dan karyanya nangkring di beberapa festival. Weton tidak diketahui.

Celine Anjanette

Penari dan koreografer andalan kampusnya. Belakangan mengabdi pada budaya melalui media berbahasa jawa. Pun berbahasa inggris baik dengan skor toefl 1000. Menulis banyak tema, dari yang sehari-hari hingga soal-soal subtil macam cinta. Informasi ihwal single tidaknya, tidaklah penting dikemukakan di sini.

Michelle Florencia

Tumbuh dan besar di Lombok. Penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya, hingga khatam pemetaan mall-nya. Pemerhati K-pop, tapi belum fans garis keras karena harga tiket konser bikin makan hati. Status single atau tidaknya masih sebuah misteri.

Editor Picks